Selasa, 20 Juni 2017

Apakah Kau Tahu bahwa Mereka Semua Manusia?

Apakah Kau Tahu bahwa Mereka Semua Manusia?
Jean Couteau  ;   Penulis Kolom UDAR RASA Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 18 Juni 2017



                                                           
Saya kini berada di Jakarta, kota yang sibuknya tidak kepalang. Saking ramai dan padat, percuma naik taksi. Selalu terlambat. Maka terpaksa naik ojek online. Meskipun saya tahu bahwa sesampai di tujuan, saya terpaksa menyisir rambut.. Begitulah nasib orang bule seperti saya: kalau mau dianggap "budayawan" yang serius, boleh nyentrik dikit, bahkan bolehlah berbau keringat seperti sapi, tetapi gaya rambut harus rapih-paling sedikit begitu kata istri saya.

Sepeda motor dan mobil, di jalan-jalan kota, adalah dua dunia yang total bertolak belakang. Apabila di dalam mobil, apalagi taksi, kita seorang diri, terlindungi dari raungan sepeda motor dan bau jelata oleh jendela kaca. 

Kita seolah telah menjadi manusia unggul. Bayangkan: ada AC, baju kita masih bersih, keringatan dikit. Maka, apabila ada sopir, kita masih bisa bekerja, mengalkulasi keuntungan perusahaan, berenung, membicarakan Perang Badr, mengenang nasibnya para Pandawa ketika dibuang di hutan Wanamarta atau bahkan sembari memberikan perintah kepada sopir, memikirkan penderitaan rakyat kecil dan nasib Pancasila di era Reformasi. 

Pendeknya, mobil yang baik adalah "ruang borju" berjalan, salah satu tempat di mana kita-kaum elite-berlagak beradab dan berkebudayaan sambil sibuk menciptakan jarak sosial. Maka kita berklakson, memaksa sepeda motor mundur, ataupun kita tidur, tanpa mau menyadari betapa kita mengganggu mereka yang memang kita sebut "mereka" itu, wong cilik itu. Tetapi, bukankah kebutaan itu sikap khas dari kaum yang menganggap diri tercerahkan itu?

Melihat situasi itu, naik sepeda motor atau ojek dari Jakarta Pusat menuju Bogor menjelang subuh adalah pengalaman yang semestinya wajib ditempuh oleh setiap orang borju berpikiran bebas: lebih mencerahkan daripada membaca editorial Kompas. Diiringi keringat, debu, bau bensin, kadang disambut kata burung seperti "j.k", yang paling menarik ialah ketika sampai di perempatan-perempatan, di tempat yang disebut bottleneck di dalam bahasa Inggris: di situ, laksana air yang berkucuran keluar dari leher botol, kendaraan tidak bisa mengucur sekaligus. Harus satu per satu. Ada penyaringan alamiah: sikut-menyikut, sodok-menyodok, serempret-menyempret, dorong-mendorong, raung-meraung, maki-memaki. Pokoknya rimba modern, di mana para pengendara ojek berupaya menjadi macannya, tetapi tidak bisa, karena pada akhirnya terpaksa menjadi tikus-kalah bersaing dengan mobil kaum borju yang tidak tahu diri tadi.

Seperti rekan-rekan penumpang ojek lainnya, saya duduk tegak di kursi boncengan, menghirup miliaran partikel debu polusi yang mematikan, menikmati pemandangan atas ratusan kepala berhelm anonim. Tetapi, apakah karena saya bule kurang ajar atau karena kepala saya kelewat besar terjepit oleh helm yang kesempitan itu, saya tiba-tiba berpikir: ada apa gerangan di benak orang-orang yang rela diracuni itu? Maka saya bertanya polos kepada pengojek saya, "Bagaimana pendapat Anda tentang keadaan politik Jakarta," jawabannya brutal. "Bagi saya, mereka yang meributkan apakah Ahok mesti dihukum adalah juragan yang tidak pernah naik ojek," katanya. Wah! Dia lalu menegaskan lagi, "Pokoknya, kami, para tukang ojek, berada semua di belakangnya." Kaget benar saya mendengar pernyataan yang selugas itu! Selain itu, "pikir-pikir", tidak sebodoh itu juga: memang tak kurang jumlah borju yang tak segan-segan memakai simbol pakaian dan kata-kata untuk suatu pernyataan "kebenaran" yang tidak jelas kebenarannya atau jelas ketidakbenarannya. 

Saya lalu terdiam, membiarkannya kembali pengemudi sikut-menyikut untuk membuka jalan bagi saya agar sampai ke tujuan kami.. Namun, dari perempatan satu ke perempatan berikut, sambil mengegas dan mengerem, semakin sering kami yang berboncengan berbicara. Dia memberi tahu namanya, Yudi, bertempat tinggal di Sawangan, Depok, dan bahkan memberitahukan nama kedua anaknya, Rudi dan Aminah. Jika dari tadinya anonim, ketika sampai di tujuan, dia sudah menjadi manusia.

Yudi kini telah menghilang, ditelan kerumunan, kembali menjadi kepala berhelm anonim di antara ribuan kepala berhelm lainnya. Tetapi, apakah kau tahu, di Balai Kota wahai pejabat lama dan baru di sana, bahwa mereka semua adalah manusia.