Selasa, 20 Juni 2017

Pesan Pendidikan di Balik Viral Afi

Pesan Pendidikan di Balik Viral Afi
Nurul Lathiffah ;   Pemerhati Pendidikan; Penulis Buku Psikologi dan Agama
                                               MEDIA INDONESIA, 19 Juni 2017




                                                           
MEMBACA perkembangan kasus Afi, baik di media massa maupun dunia maya memberikan banyak lompatan emosi yang mengejutkan. Awalnya, putri bangsa bernama lengkap Asa Firda Inayah (Afi) atau yang lebih populer dengan nama Afi Nihayah Faradisa menjadi viral di media sosial, dan bahkan dunia nyata karena tulisan-tulisannya yang mengagumkan.
Dalam statusnya di laman Facebook, Afi kerap menulis pesan-pesan mengenai keberagaman, keharmonisan, dan kasih sayang.

Harus jujur, ada rasa bangga sekaligus haru bahwa dalam usia kronologis yang belum menginjak dewasa, Afi dapat mengemukakan pandangan yang inspiratif dan mencerahkan. Secara konten, tulisan Afi memang menakjubkan. Tentunya, hal itu bukan muncul serta-merta sebab ia berkisah tentang kebiasaan membaca yang mampu memberikan ragam perspektif tentang kebijaksanaan.

Sampai di sini, kita perlu merasa bangga sebab tak banyak remaja yang mampu 'berpuasa' dari hiruk pikuk kesenangan, dan bahkan mampu mengendalikan dirinya dalam aktivitas yang sarat akan budaya intelektual.
Terlebih jika kita selami, latar budaya keluarga Afi bukanlah dari keluarga yang high class. Dari berbagai warta, kita tahu bahwa ayah Afi bekerja sebagai pedagang cilok, sedangkan ibundanya menderita sakit. Di atas kondisi yang mengharuskan ketegaran tumbuh, Afi berusaha melakukan penyesuaian diri adaptif dengan rajin membaca. Tak hanya itu, ia juga mencoba menuliskan pemikirannya yang merupakan hasil dialog antara teks-teks yang ia baca dan pikiran-pikiran idealnya sebagai remaja.

Hasilnya? Tulisannya banyak menuai pujian. Akan tetapi, mutakhir kita dientakkan oleh kabar yang menduga bahwa tulisan-tulisan Afi merupakan plagiat.

Dalam memandang kasus ini, kita perlu menerapkan asas praduga tak bersalah, terlebih jika kita jujur mengakui bahwa usia Afi masih sangat belia. Lagi pula, kita tidak tahu apakah tuduhan plagiat tersebut merupakan ekspresi kebencian dari pihak lain atau bukan. Maka, yang perlu kita pahami sekarang bukan pada benar atau salahnya Afi, akan tetapi mari melihat bahwa fenomena Afi pada dasarnya memberikan pelajaran dan pesan penting bagi dunia pendidikan Indonesia.

Sosok Afi, melalui tulisan-tulisannya yang viral memberikan pesan inspirasi bahwa hobi membaca dapat menyelamatkan anak bangsa dari sikap-sikap negatif. Hobi membaca juga dapat mengasah kecerdasan berbahasa dan kepiawaian merangkai kata.

Hal ini menarik karena hobi membaca dapat mengantarkan remaja untuk sampai pada alam kedewasaan dengan lebih cepat. Membaca karya-karya inspiratif dari orang-orang hebat membuat diri mampu menyerap banyak ilmu dari beragam perspektif yang berbeda.

Hobi merupakan hal yang penting dan bukan perkara remeh.

Dengan hobi, anak tumbuh menjadi remaja dan mendewasa dengan aktivitas positif yang penuh makna.

Hobi dapat mengarahkan seseorang tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Hobi yang positif mengarahkan seorang anak untuk tidak melewatkan waktunya dengan aktivitas negatif.

Sampai di sini, kita begitu rindu akan adanya sebuah gerakan kolektif, yakni anak-anak mencintai dan memiliki hobi membaca buku sebagaimana Afi.

Ya, sesungguhnya kini kita sedang dibuat kagum oleh adanya fakta bahwa masih ada remaja yang memiliki hobi membaca dan sudah mulai mengepakkan sayap-sayap kalimatnya menjadi tarian yang indah dan 'menyihir' banyak orang untuk bergerak bersama dengan harmonis dan damai.

Kebiasaan membaca buku pada dasarnya dapat mengantarkan seseorang menjadi seorang penulis yang inspiratif.

Terlebih, jika terbiasa membaca sejak kecil, berbagai tulisan yang dibaca sebetulnya tidak pernah hilang dari ingatan.

Jika toh kita merasa lupa, itu hanya sekadar perasaan semata.

Apa yang kita baca sesungguhnya menjadi deposito pemahaman yang suatu saat dapat membuahkan pemikiran cemerlang.

Maka, bukan hal yang tidak mungkin jika Afi--di usianya yang masih sangat belia--mampu merangkai kata yang menakjubkan.

Kebiasaan membaca berbagai karya membuatnya memiliki tabungan kosakata dan rangkaian pemikiran yang memberikan pesan bernuansa bijak.

Melihat generasi muda gemar membaca, semestinya para pendidik dan orang tua tak membiarkannya tumbuh tanpa perhatian.

Justru jika ada generasi muda yang menunjukkan hobi dan minat positif, guru dan orang tua sebaiknya 'hadir' untuk memberikan apresiasi, dukungan, dan motivasi.

Pendidik perlu merawat kebiasaan membaca dan menunjukkan jalan menulis yang dapat membawa pada pencapaian-pencapaian intelektual.

Siswa perlu mendapatkan keterampilan menulis dan mengemukakan pendapatnya secara terbuka, santun, dan elegan.

Guru pun seharusnya memberikan arahan dan menyajikan medan menulis bagi siswa.

Ada banyak kompetisi menulis, ladang menulis bagi siswa, dan medan-medan kepenulisan lainnya yang legal, bernuansa kompetitif, dan pada muaranya memberikan pendidikan bagi siswa mengenai cara menulis yang tak hanya indah dan inspiratif, tetapi juga etis.

Guru perlu mengajarkan pada siswa bagaimana cara menulis yang benar, menyalin sebuah kutipan, dan menyajikannya dalam sebuah tulisan yang nyaman dibaca.

Agar guru dapat melakukannya dengan baik, kita memang membutuhkan guru yang terampil menulis.

Saat ini, para siswa yang merupakan generasi harapan cenderung tumbuh menjadi pribadi yang membaca 'instan.'

Bukan lagi buku yang mereka baca, melainkan status laman Facebook dan atau media sosial lainnya. Padahal, pada umumnya status di Facebook tidak ditulis para expert, tetapi siapa saja yang eksis di dunia maya.

Alhasil, yang berada di alam bawah sadar generasi kita ialah kata-kata dan rangkaian kalimat yang sering berisi ujaran kebencian, kemarahan, da kosakata berenergi negatif.

Di sisi lain, remaja belum memiliki filter yang cukup selektif dalam memilih status yang tepat untuk dijadikan acuan dalam bersikap.

Hasilnya? Media sosial sering kali menjadi ranah menyampaikan ujaran kebencian, caci maki, dan kata-kata buruk lainnya.

Gemar membaca

Dunia pendidikan memang perlu berbenah dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Guru perlu merawat tradisi membaca beragam teks inspiratif dengan berbagai metode yang menarik bagi siswa. Alangkah lebih menakjubkan jika guru mampu membingkai hobi membaca dan menulis pada diri para siswa melalui kegiatan belajar dan mengajar.

Bagaimanapun juga keterampilan menulis bukanlah abrakadabra.
Pikiran dan mental kita memerlukan waktu dan latihan untuk dapat melahirkan tulisan yang baik, inspiratif, dan menyejukkan. Kita harus membuka mata, bahwa banyak peluang menulis bagi siswa yang dapat dijadikan sarana melatih keterampilan menulis. Ada banyak kompetisi yang diadakan berbagai pihak, dan jelas hal ini mengandung reward untuk putra-putri negeri. Di sinilah pendidikan kita harus hadir.

Pendidikan Indonesia perlu untuk menciptakan penulis-penulis muda yang lahir dari rahim 'gemar membaca.' Untuk menciptakan penulis muda, guru perlu mengasah keterampilan menulis.

Sejak masa kanak-kanak hingga remaja, seorang anak memerlukan pengalaman sebagai pijakan diri untuk melakukan lompatan.

Anak yang berprestasi umumnya tak pernah tumbuh dari ruang hampa.

Jika orang tua merawat hobi anak dan memberikan wahana berlaga, anak-anak akan memberikan performansi terbaiknya. Banyak tokoh ternama yang berhasil merintis karier dan karya menakjubkan melalui hobi di masa kecil.

Energi hobi dan minat kita terhadap sesuatu akan cenderung menjadi prestasi jika dirawat dengan baik.

Pendidikan kita perlu mengawal hobi positif para siswa.

Ini merupakan poin penting sebab dengan hobi, seorang siswa akan menekuni aktivitasnya.

Alhasil, ia pun akan memiliki aktivitas yang menjurus pada hobi sehingga tidak terjerumus ke dalam aktivitas negatif, apalagi terperosok ke dalam hobi yang menyesatkan.

Sayangnya, banyak dari kita yang belum merasa sadar dan menilai bahwa hobi bukanlah hal yang penting. Bahkan, anak-anak yang memiliki hobi di luar belajar materi pelajaran banyak menuai kritikan pedas.

Melalui Viral Afi, kita banyak belajar bahwa segenap elemen bangsa perlu memberikan perhatian dan apresiasi terhadap hobi yang positif sekaligus mengarahkannya dengan bijaksana. Selanjutnya, ketika anak dan remaja tak sengaja melakukan kesalahan, kita sebagai orang yang lebih dewasa tak perlu buru-buru menghakiminya.

Sering kali, kesalahan yang mereka lakukan tulus dan lahir dari rahim ketidaktahuan. Tidak bijaksana, jika kita mudah menghakimi dan menyalahkan. Jangan sampai kritikan kita membuat sayapnya patah dan enggan mengudara.

Mari, bijaksana mengawal anak-anak dan remaja untuk tumbuh di atas hobi yang positif sehingga mereka dapat memberikan karya yang menakjubkan untuk bangsa. Kita perlu menjaga hobi dan minat anak-anak negeri dengan cara menjaga lisan dari ujaran negatif yang menyakitkan hati. Ada banyak diksi dan pilihan kata yang bisa kita pilih untuk membuat putra-putri bangsa agar cakap belajar dari kesalahan, bukannya terhenti langkah karena melakukan kekhilafan. Dunia pendidikan kita wajib senantiasa berbenah untuk menjemput masa depan gemilang. Wallahualam. ●