Selasa, 20 Juni 2017

Tragedi Kaum Tani

Tragedi Kaum Tani
Mohamad Sobary  ;   Esais; Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
                                                   KORAN SINDO, 17 Juni 2017



                                                           
Kehidupan petani yang teraniaya, terancam, dan penuh teror, digambarkan dengan baik di dalam sebuah film koboi Savate. Di negara bagian Texas, ketika masih berlaku hukum rimba, muncul pertarungan dua kekuatan tak seimbang: pebisnis besar vs p tani.

Sang pebisnis digambarkan sangat kaya, ganas, dan serakah, didukung kekuatan lengkap: centeng yang setia, oknum tentara, ahli hukum, dan pengadilan yang seolah sudah menjadi miliknya. Petani, pemilik tanah, di teror siang malam agar tanah milik mereka dijual dengan harga semurah-murahnya kepada sang pebisnis tadi. Dialah yang menentukan secara sepihak harga tanah. Model tawarmenawar tidak ada . Di sini satu satunya hukum yang berlaku hanya bedil.

Maka siapa kuat— punya bedil, punya duit, punya centeng dan dukungan oknum tentara dan hukum tadi—niscaya menang. Rencana busuk agar penindasan itu berlangsung dengan gemilang disusun. Di sana seolah bakal dibangun sebuah kota dan jalan kereta api. Jadi otomatis orang mudah merasa terpaksa untuk melepaskan aset mereka. Harga murah semurah-murahnya merupakan pertimbangan yang sangat mem beratkan. T

api sang pebinsnis dan segenap kaki tangan nya selalu mengatakan di depan umum bahwa mereka hanya menolong para petani itu. Tak semua petani merasa gentar. Ada anak muda, Cain, yang bertahan dengan gigih. Dia tak sudi menjual tanahnya. Cain pun memengaruhi para petani lain untuk tetap bertahan. Ini merupakan duri dalam wilayah yang sudah ada di dalam genggaman sang pebisnis. Cain dimusuhi secara terangterangan. Pada suatu malam gudang dan kendang kam bingnya dibakar orang yang tak dikenal, dalam gelap.

Orang kampung se tempat gempar. Cain menemukan bukti meyakinkan si apa yang membakarnya. Dia datangi centeng, j ago tembak, milik san g pebisnis. Pertengkaran terjadi dan r ingkas cerita mereka siap adu cepat menekan pelatuk senjata. Cain hanya petani, bukan jago tembak sebagaimana lawannya. Orang yang gagah berani itu tertembak . Dia gugur membela hak milik yang wajib dibela. Adakah kematian Cain menjadi lambang kekalahan petani? Ternyata tidak. Cain mati, tapi semangatnya tetap hidup di kalangan petani yang menjadi lebih berani. Seorang jagoan jalanan, kabarnya tentara Prancis yang sedang ber tualang , mampir di desa itu.

Dialah, yang atas nama Cain, membela seluruh petani, meng gasak si pebisnis dan segenap orangnya. Jagoan ini juga membongkar rahasia busuk mengenai kota khayalan dan jalan kereta api yang sebenarnya tidak ada. Bahkan dalam rencana pun tidak ada. Di balik asap mesiu yang masih mengepul, tergeletak bangkai para penindas. Dan tak jauh dari sana terhampar ladang para petani dan harapan masa depan mereka.

Di sini kemudian muncul dalil kehidupan sosial yang jelas dan tegas: hanya orang berani yang punya hak untuk membangun harapan. Para penakut sudah tergilas dan lenyap. Kita punya sejarah, yaitu sejarah kehidupan petani, yang penuh dengan tragedi. Dalam Pemberontakan Petani 1888, karya monumental sejarawan Sartono Kartodirdjo, digambar kan munculnya gerakan Nativisme, gerakan orangorang lokal, petani setempat, melawan kekuatan asing , yaitu penjajah Beland a.

Petani berani melawan karena di belakang mereka ada barisan kiai-kiai tarekat terkemuka yang mendorong mereka dengan ideolog i keagamaan untuk melawan. Wujud perlawanan begitu kontras: kaum tani setempat, pribumi yang beragama Islam, melawan kaum kafir, golongan kulit putih yang menja jah mereka . Gerakan Nativisme ini menggelembungkan semangat lokal sambil mendambakan lahirnya kembali Kesultanan Banten untuk meng usir penjajah asing. Kata nasionalisme belum di - sebut dengan jelas, tapi kaum “native” dengan gerakannya me lawan kekuatan asing.

Terlihat polarisasi kesadaran mengenai apa “nasional” vs yang “g lobal”. Dalam se jarah tersebut, pemberontakan petani terasa begitu tragis. Mereka ditumpas dalam waktu cepat dan mud ah. Kemudian petani hanya punya satu pilihan: tunduk, mau tak mau. Mereka sudah dikalahkan. Kekuatan organisasi, perencana an, senjata, d an tentara unggul atas jimat dan segenap jampi-jampi yang semula menjadi jaminan bahwa mereka tak bakal bisa ditembus peluru.

Tapi mereka ter tembak. Petani menelan tragedi kehidupan yang lebih dari sekadar getir. Adakah kekalahan mereka membuat petani hancur luluh? K elihatannya tid ak. Kekalahan mereka menjadi kenangan. Selebihnya kegetiran di Banten itu bahkan menjala kaum tani dalam generasi sesudahnya. Juga petani di tempat lain. Kita bisa mengambil contoh dari banyak peristiwa konflik agraria di Tanah Air. Mungkin dalam peristiwa itu petani pun kalah. Tapi petani tampil sebagai kekuatan revolusioner yang sangat berani.

Musuh mereka intinya masih sama: kaum pengusaha yang didukung pemerintah setempat, peme rin tah yang seharusnya melindungi petani. Ada petani yang tersingkir sejak semula, ada yang dikalahkan sesudah ber tem pur. Meskipun demiki an me reka tak merasa kalah. Tragedi ke kalahan bahkan diolah men jadi modal baru perlawanan yang lebih strategis, lebih terencana, dan lebih ideologis. Petani tembakau Temang - gung mungkin bisa dijadikan contoh.

Di dalam buku Perlawanan Politik dan Poetik Petani Tembakau Temanggung yang saya tulis , tampak gambaran si k ap ideolog is petani. Mereka melawan kebi jakan pemerintah SBY yang sangat pro-kepentingan asing. Unsur kepen ting an asing ini menambah energi kemarahan mereka. Di sini pun petani tembakau diposisikan menjadi pihak yang sulit . Dari “pusat” dikumandangkan perlunya petani ber alih tanaman. Mereka diberi pilihan, disebut pilihan yang baik, untuk berhenti menanam tembakau dan beralih ke tanam an kopi.

Guber nur Jawa Tengah kala itu, Bibit Waluyo, mengeluarkan per aturan tanam paksa gaya yang lain: tanaman kopi tadi. Mereka yang sudah beralih ke tanaman kopi akan diberi insentif. Ada iming-iming menarik. Tapi tak seorang pun petani yang tertarik . Mereka melawan “pusat”, SBY, sekaligus daerah, Bibit Waluyo. Gubernur Bibit Waluyo bahkan diganti nama oleh petani dengan se - mangat mengejek kaum atasan yang beg itu telak : Bibit Suloyo.

Komunikasi pemimpin dengan pihak yang dipimpin tak terjalin. Petani yang diposisi kan ke dalam kesulitan tak mau menurut. Bagi mereka ini bu kan lagi zaman penjajahan. Juga bukan zaman tanam paksa. Inilah contoh komu nikasi yang gagal total sampai kedua pejabat itu kembali menjadi rakyat bi asa seperti petani. Kita tak ingin mengulas pemimpin macam apa yang di - hadapi petani itu. Tapi kita ingin melihat lebih dekat pihak petani. Mereka petani terpelajar. Tokoh-tokohnya sarjana.

Semua melek teknologi informasi. Mereka mengerti arti komunikasi politik lewat media dan terampil pula mereka menggunakan media. Selebihnya mereka menger ti cara-cara melakukan lobi politi k. Mereka pun memiliki organisasi. Dan kurang lebih mereka pandai menyusun perencanaan untuk melakukan perlawanan. Mereka paham akan strategi mencari pengaruh dan mengolah infor masi.

Jangan lupa, mereka generasi muda yang lebih blak-blakan, lebih terbuka, dan tak mengenal kata ewuh pekewuh, rasa eng gan, atau kurang enak. K alau diperlukan sikap main serobot, mereka bisa menyerobot. Mereka petani zaman ini, petani yang sadar apa artinya yang nasional dan yang global. Pemerintah yang terlalu prokekuatan global dilawan.

Di sini petanilah dan bukan pejabat yang lebih siap berbicara mengenai apa yang kurang lebih bisa disebut nasionalisme. Mereka tak sudi diposisikan sebagai tumbal untuk menjun jung tinggi apa yang asing dan global. Tragedi petani di masa lampau tak boleh ter ulang dalam kehidupan petani masa kini. Dunia pertanian dan petani sudah bukan yang dulu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar