Rabu, 07 Juni 2017

Bijak Teknologi

Bijak Teknologi
Akh Muzakki  ;   Sekretaris PW NU Jawa Timur;
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya
                                                        JAWA POS, 05 Juni 2017



                                                           
BERAWAL dari menahan, berbuah sikap bijak. Itulah salah satu yang ingin ditanamkan perintah puasa ketika Ramadan. Sebab, substansi dasar puasa adalah kemampuan menahan diri. Lafal shoum atau shiyam dalam bahasa Arab yang menjadi padanan kata puasa berarti imsak. Maknanya adalah menahan.

Menahan diri dari sesuatu yang memang dari dasarnya dilarang tidak istimewa. Mengendalikan diri agar tidak melakukan sesuatu yang memang dari awalnya dilarang bukanlah perilaku yang ideal. Sebab, semua memang serba tidak diizinkan. Aturannya memang sedang tidak memperbolehkan untuk dilakukan. Semuanya berubah menjadi sungguh istimewa saat kondisi memungkinkan dan konsumsi diperbolehkan, tetapi seseorang menjauhinya. Menjauhi saat dilarang itu biasa. Menjauhi saat diizinkan baru jempolan. Mengapa? Sebab, justru di situlah rasionalitas dan kedewasaan diri ditakar kuat. Puasa mengangkat kualitas hidup seseorang ke level yang sangat tinggi. Bukan level yang biasa-biasa saja. Level yang sangat tinggi itu merupakan level yang hanya bisa dicapai orang-orang yang tetap bisa hidup dalam kebajikan dan kemuliaan saat berada dalam keserbaadaan dan keserbamemungkinkan.

Dua konsep penting sering menguji hidup: peluang (opportunity) dan legalitas (legality). Peluang lahir dari kesempatan yang memungkinkan diambilnya sebuah manfaat. Legalitas lahir dari status diperbolehkannya pengambilan manfaat tersebut.

Orang sering terbuai oleh peluang. Praktiknya begini: mumpung ada kesempatan, apa saja dikonsumsi atau dilakukan. Lacurnya, praktik itu sering melampaui standar kebutuhan, kelayakan, dan kelaziman. Dampak buruk akhirnya tidak terhindarkan. Minimal akan lahir pribadi yang cenderung terobsesi pada pemuasan diri. Itu semua terjadi karena tidak adanya kemampuan untuk mengontrol dan menahan diri.

Puasa mengajarkan kita agar tidak kehilangan kemampuan untuk mengontrol dan menahan diri. Jangankan kepada perihal yang terlarang, kepada yang normalnya diperbolehkan saja harus bisa mengendalikan diri. Itulah yang membuat seseorang bisa menjadi pribadi yang istimewa di tengah semuanya yang serba memungkinkan, baik secara fasilitas maupun legalitas.

Makna substantif puasa yang demikian terasa sangat dibutuhkan bagi kita yang hidup di era teknologi ini. Perkembangan teknologi yang semakin lama semakin maju membuat hidup menjadi mudah. Apa yang sebelumnya tidak terpikirkan hadir juga dalam realitas. Apa yang sebelumnya terasa mustahil terwujud pula dalam kehidupan nyata.

Akibat kemajuan teknologi itu, informasi datang bak air bah yang menggelontor jalanan dan menghampiri setiap insan. Hampir tidak ada lagi ruang yang tersisa dari bombardir informasi. Yang privat dan publik menjadi buram batasannya. Hingga orang pun lupa bahwa tidak semua informasi layak disebarkan ke ruang publik. Bisa karena memang melanggar hak privat. Bisa pula karena melanggar nilai kepantasan. Dan bisa juga melanggar harkat dan martabat kemanusiaan. Lalu, orang pun lupa terhadap prinsip dasar hidup: kebajikan harus disebarkan dan keburukan harus ditenggelamkan. Alih-alih, orang merasa senang saat keburukan bisa disebar ke sebanyak-banyaknya orang. Lalu, rasan-rasan pun tidak terhindarkan. Yang buruk pun seakan menjadi baik. Yang salah pun seakan menjadi benar. Lalu, kita semua kehilangan standar nilai.

Teknologi sangat memungkinkan semua itu terjadi. Kekuatannya bisa menjadi instrumen lahirnya transmisi informasi dari satu ke yang lain dalam jumlah yang besar dan skala yang luas. Bayangkanlah dampak yang akan muncul saat teknologi berada di tangan-tangan sembarangan. Bayangkanlah pengaruh yang akan timbul saat teknologi dikelola dan digunakan tanpa tanggung jawab yang besar dan komitmen yang kuat pada nilai.

Puasa membuat kita bijak dalam mengelola dan menggunakan teknologi. Pada level paling minimal, puasa mengajarkan kita untuk melakukan apa yang bisa disebut dengan diet informasi (information diet). Sama halnya dengan makanan, diet informasi bukan berarti miskin akses dan pemanfaatan terhadap informasi. Sekali lagi bukan.

Diet informasi adalah kemampun untuk mengelola dan memanfaatkan secara bijak akses yang luas, peluang yang besar, serta kesempatan yang terbuka lebar terhadap teknologi hanya untuk sebesar-besarnya menebar kebajikan dan merengkuh kemuliaan. Maka, tidak semua informasi diproduksi dan dikonsumsi. Hanya yang menunjang kebajikan dan kemuliaan yang diproses.

Pada level yang lebih tinggi, puasa mengajarkan kepada kita untuk melembagakan kebajikan terhadap teknologi. Orientasinya tidak sekadar ke dalam dirinya dalam bentuk pengalian pundi-pundi kebaikan untuk diri sendiri (private virtues), tetapi juga keluar ke kebajikan masyarakat luas (civic virtues).

Maka, puasa membuat pelakunya setia kepada nilai. Bukan nilai dalam standar yang rendah, tetapi nilai dalam standar yang tinggi. Orang yang berpuasa di era teknologi akan cenderung bijak dalam mengelola dan memanfaatkan teknologi. Dia terampil dalam pemanfaatan untuk dirinya dan arif terhadap dampak penggunaannya terhadap sesama.

Teknologi memang memudahkan hidup. Namun, bijak teknologi penting dimiliki. Sebab, martabat kemanusiaan tidak diukur dari sekadar pencapaian peradaban materialistis, melainkan lebih-lebih peradaban berbasis nilai keluhuran. ●