Senin, 16 Desember 2013

Gundala dan Sastra Panggung yang Canggung

Gundala dan Sastra Panggung yang Canggung
Ardus M Sawega  ;   Editor Senior Kompas
KOMPAS,  15 Desember 2013

  

Ketika kelompok Teater Gapit dari Solo, Jawa Tengah, muncul pada tahun 1980, tebersit harapan bahwa itu bakal menjadi momentum ”kebangkitan sastra Jawa”. Setidaknya dalam bentuk ”sastra panggung”. Teater Gapit yang dibentuk dari kalangan mahasiswa Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI, sekarang ISI) Surakarta mendadak menjadi tumpuan banyak kalangan setelah beberapa dekade sastra Jawa seakan mengalami kemandekan.

Kemandekan yang ditandai oleh surutnya kreativitas para penulis dan redupnya pamor sastra Jawa dianggap sebagai perkara yang serius. Meski ”sastra Jawa” pada waktu itu lebih dimaknai sebagai sastra Jawa ”gagrag anyar” (gaya baru), yang muncul pada akhir 1950 atau awal 1960. Bagi sebagian kalangan, sastra Jawa gagrag anyar adalah sastra yang cenderung ”ringan”, bersifat hiburan (populer).

Akan tetapi, suka atau tidak, zaman telah berganti. Apa boleh buat, sastra Jawa mengalami ”evolusi” sendiri, yang niscaya sulit dihindarkan.

Istimewa

Teater Gapit yang dimotori oleh alm Bambang Widhoyo SP (meninggal 1997), selaku penulis naskah dan sutradara, selain produktif, repertoar-repertoar yang diangkat di panggungnya menawarkan kreativitas baru yang segar dan menghebohkan. Semangat yang melatari tema lakon-lakonnya adalah kritik sosial dengan mengangkat nasib rakyat yang tertindas akibat ketidakadilan sosial.

Di samping orisinalitas lakon-lakon yang ditulis Bambang, pesan-pesan yang disuarakan Gapit di panggung terasa menggigit karena dikaitkan dengan persoalan sosial yang aktual. Semisal mengambil setting rakyat miskin di kampung, masalah penggusuran di perkotaan. Atau tentang fenomena industrialisasi yang dikontraskan dengan nilai-nilai masyarakat agraris. Ataupun tentang masyarakat yang dipinggirkan oleh penguasa represif lantaran perbedaan ideologi.

Nilai lebih repertoar yang ditulis Bambang Widhoyo karena ia mampu menghidupkan pikiran-pikiran berikut ”dunia batin” warga awam dalam bahasa mereka. Di samping itu, ia memberi bobot lain, yaitu menyelipkan ajaran hidup, kearifan rakyat kecil, hingga piwulang yang dipetik dari ajaran leluhur yang populer di masyarakat. Lewat dialog, celotehan, ataupun tembang macapat yang menyentuh penonton.

Repertoar yang ditulis Bambang dan telah dipentaskan Teater Gapit adalah Brug, Suk-suk Peng, Rol, Leng, Tuk, dan Dom. Naskah terakhir, Luh, yang ditulis Bambang menjelang menutup mata, belum sempat dipentaskan. Bagi penutur Jawa, repertoar Gapit terasa merefleksikan ”jiwa zaman”. Didukung para aktornya yang kuat, dialog-dialog bernada keras, lugas, ¬dan diwarnai pisuhan (makian) yang jadi ciri khasnya, berhasil melukiskan realita masyarakat yang dimaksud.

Dengan meramu aspek-aspek dalam budaya Jawa, Teater Gapit yang berbahasa Jawa, terasa kuat dan utuh. Justru dengan media bahasa (sastra) Jawa, Gapit berhasil mengartikulasikan aspirasi orang Jawa dalam paradigma masyarakat modern. Ia dengan begitu menawarkan ”sastra panggung” baru di samping pertunjukan seni tradisi yang sudah ada, wayang orang dan ketoprak.

Memanfaatkan elemen-elemen kesenian tradisi, Teater Gapit punya kelebihan dalam pertunjukannya, yaitu kekompakan dalam iringan berupa musik karawitan; kreasi gending-gending sampakan, dolanan, geculan, di samping merangkai syair-syair baru yang segar-menggairahkan.

Berbekal modal yang sama, setelah 16 tahun sejak meninggalnya Bambang Widhoyo, kelompok yang sama namun dengan personel generasi baru kini ”bermetamorfosa” menjadi Teater Lungid. Sayangnya, tanpa Bambang dengan kekuatan pada repertoar yang ditulis sendiri berikut visinya, Teater Lungid sampai hari ini belum menelurkan lakon-lakon karyanya sendiri.

Canggung

Pada tahun 2011, Teater Lungid mementaskan lakon Visa, karya Goenawan Mohamad yang diterjemahkan ke bahasa Jawa. Lalu, pada 7-8 Desember 2013, mereka membawakan repertoar Gundala Gawat, juga karya Goenawan Mohamad, di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo. Repertoar yang sebelumnya telah dipentaskan oleh Teater Gandrik (Yogyakarta) ini dialihbahasakan ke bahasa Jawa oleh Pelok Trisno Santosa dan sutradara Djarot B Santosa.

Pementasan Visa maupun Gundala Gawat oleh Teater Lungid mengesankan repertoar-repertoar ”luar” itu tampil tidak sekuat pementasan Teater Gapit dahulu. Pementasan Visa, misalnya, tampil ”artifisial”. Wacana tentang ”visa” sendiri terasa amat asing bagi para pemain. Mereka tampak gagap dan canggung memerankan gaya hidup kaum elite urban dalam lakon itu.

Kesan pemaksaan terulang pada pentas Gundala Gawat (dari serial komik ”Gundala Putra Petir” karya Hasmi). Sekalipun repertoar ini berformat komedi, dan Teater Lungid memang punya potensi itu; mereka tampak tidak sepenuhnya ”masuk” dalam pertunjukan. Padahal, dalam terjemahan bahasa Jawa dengan dukungan akting pemain, habis-habisan mengeksploitasi repertoar itu menjadi tontonan full banyolan, baik dialog maupun adegannya.

Dalam adegan ketika sekelompok warga menyerbu rumah Gundala, mereka memprotes ayah Gundala, Pak Petir. Akibat ulahnya, menyebabkan seorang warga tewas, tanaman pertanian hangus, dan sejumlah rumah porak poranda. Mereka meneriakkan ini: ”Sorak mrata, jaya mrata. Imbang-imbang sasat padha. Heh, Gundala, kowe metua njaba. Endi dhadhamu, iki dhadhaku. Ora wedi sudukanmu. Nya dhadha, endi dhadha. Waton aja wuda. Ora bakal aku lunga.”

Bagi penonton yang penutur bahasa Jawa, dialog serta akting para pemain dalam adegan seperti di atas terasa komunikatif dan jenaka. Namun, tak terbayang bagi yang nonpenutur Jawa. Bukan cuma kosakatanya yang sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Bahasa sebagai bagian dari kebudayaan (etnik) di sini menunjukkan aspek kekayaan dan keunikannya.

Repertoar Gundala Gawat yang diangkat Teater Lungid menunjukkan persoalan yang lebih rumit di balik pementasan yang makan waktu 2,5 jam tersebut. Pertunjukan terasa panjang dan ”meletihkan”– sekalipun dialognya kaya tawa! Rupanya penyusun naskah lebih asyik ”bercerita” daripada bagaimana menyiasati pertunjukan agar terasa padat namun mengena.

Dari pengalaman Teater Lungid yang mengangkat repertoar Visa  dan  Gundala Gawat, mungkin kita belajar tentang sastra panggung Jawa. Mereka agaknya canggung dalam penghayatan; ini karena, betapa pun dua repertoar modern itu membawa pula world view (pola pikir) kemodernan. Akan lebih mengena apabila repertoar yang diangkat berasal dari pola pikir yang mereka hayati sendiri. Seperti lakon-lakon yang ditulis oleh Bambang Widhoyo SP.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar