Senin, 01 Juni 2015

Revitalisasi Urban

Revitalisasi Urban

Bre Redana  ;  Penulis kolom “Catatan Minggu” Kompas Minggu
KOMPAS, 31 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
Masak menilai sukses atau gagal pemerintah daerah hanya dari melihat pasarnya. Seorang teman tertawa. Dikira saya bercanda dan main-main.

Biarlah saya beberkan referensi yang tidak saya ungkapkan sebelumnya, bagaimana revitalisasi pasar sama dengan revitalisasi urban. Ada sebuah cerita, dari Boston, Amerika.

Di situ terdapat pasar, namanya Faneuil Hall Marketplace. Tahun 1960-an, pasar ini telantar. Kalau menurut gambaran yang diberikan Carolyn Steel dalam Hungry City, keadaannya waktu itu kira-kira serupa karang hantu. Tak ada yang berpikir mau diapakan dengan sisa-sisa bangunan kolonial tersebut.

Tahun 1970-an, pejabat baru otoritas pembangunan kembali Boston, Edward J Logue, ingin berbuat sesuatu terhadapnya, tapi tak tahu bagaimana caranya. Yang sedang marak di Amerika saat itu pembangunan mal—mirip keadaan di Indonesia sekarang. Maka ia hubungi Jim Rouse, pionir pembangunan mal di negeri itu.

Pada saat bersamaan, Rouse tampaknya mulai meragukan perkembangan mal. Diam-diam dia mengakui peranan mal terhadap kemerosotan sosial sebuah kota. Menanggapi tawaran Logue, ia mencoba konsep yang tak pernah ditrapkan sebelumnya, merevitalisasi Faneuil Hall sebagai pasar tradisional. Festival market place, begitu sebutannya.

Langkah ”pertobatannya” ini ternyata berdampak luar biasa. Faneuil Hall terlahir kembali. Seperti kelahiran tokoh wayang Gatotkaca, dia membesar dengan seketika. Pasar Faneuil Hall menjadi atraksi turis nomor 1 di Boston.

Sejak itu, sejumlah tempat mencoba menyuntikkan darah baru bagi kotanya dengan pembangunan pasar. Formula yang sama digunakan oleh Rouse untuk merevitalisasi South Street Seaport di New York dan Harbor Place di Baltimore.

Ketika London merevitalisasi pasarnya yang terkenal, Covent Garden, Rouse bertindak sebagai penasihat. Covent Garden dengan Royal Opera House-nya adalah tempat tak terlupakan. Tahun lalu saya mengajak istri ke situ. Ia menikmati baked potato di pinggir jalan. Covent Garden: hanya karena pasar dan kentang panggang istri saya jatuh cinta kesekian kali pada saya.

Membangun pasar sejatinya membangun kembali rasa kepemilikan (belonging), keterikatan (engagement), serta karakter pada si manusia di kota bersangkutan. Revitalisasi pasar adalah cara masuk untuk membangun sebuah komunitas, sebagai cara untuk menumbuhkan kembali perasaan sosiabilitas yang mengendor dikarenakan pembangunan kota yang sifatnya teramat teknis.

Pendekatan untuk menumbuhkan kembali sosiabilitas masyarakat, bahasa sederhananya sesrawungan, inilah yang coba dikembangkan di berbagai tempat di dunia sekarang. Beberapa arsitek dan ahli tata kota tidak lagi bicara soal bangunan, melainkan tata kelola cara hidup masyarakat. Umumnya itu juga dikaitkan dengan daya dukung sumber daya alam alias sustainability.

Contoh sehari-hari, resor-resor mutakhir yang beriklan mengenai kedekatannya dengan alam, apa sebenarnya yang hendak ditawarkan, selain mengembalikan manusia pada hakikat alaminya? Tak ada televisi di situ. Percayalah, suara kodok dan burung hantu lebih bagus dibanding suara berisik pembawa acara televisi.

Makanya, sebagai produk kebudayaan, saya tak ragu membandingkan pasar tradisional dengan kesenian tradisional. Merevitalisasi pasar berarti merevitalisasi daya hidup urban. Yang dibutuhkan bukan cuma hal-hal teknis, misalnya seberapa jauh teknologi informasi dan jaringan Wi-Fi digunakan, slogan-slogan menggelikan ditempel di berbagai sudut kota, angka-angka disodorkan ketika ditanya wartawan. Lebih celaka, kalau si wartawan percaya pada angka-angka. Prett dengan itu semua.

Dalam kredo kebudayaan saya, tak ada yang lebih berharga dari imajinasi manusia. Imajinasi ini yang juga dibutuhkan untuk membangun kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar