Sabtu, 06 Mei 2017

Amerika Latin : Bukan Kiri, Bukan Kanan

Amerika Latin : Bukan Kiri, Bukan Kanan
Trias Kuncahyono  ;  Wartawan Senior Kompas
                                                          KOMPAS, 06 Mei 2017




                                                           
Pendulum politik dan kebijakan ekonomi di Amerika Latin sudah mulai bergeser lagi. Ada yang berpendapat bahwa berbagai kejadian akhir-akhir ini di sejumlah negara Amerika Latin, terutama Venezuela, sebagai pertanda "matinya gelombang merah muda (pink tide) sosialisme". Meski demikian, tidak ditangkap adanya perubahan arah seismik ke kembalinya dominasi sayap kanan (Gregory Weeks: 2017).

Lalu, apa yang sesungguhnya terjadi di Amerika Latin saat ini? Pergerakan pendulum politik dan kebijakan Amerika Latin bisa dilacak kembali ke periode 1970-an dan berlanjut hingga 1990-an, periode reformasi negara neoliberal dan rezim otoritarian militer. Neoliberalisme meningkatkan kondisi kehidupan sulit, marjinalisasi, dan ketimpangan sosial-ekonomi; sementara otoritarianisme mengeliminasi atau mengurangi secara substansial kebebasan politik dan warga negara (Federico M Rossi: 2015).

Itulah yang mencirikan Amerika Latin pada masa lalu. Dan, kondisi seperti itu memicu munculnya pusaran besar-besaran mobilisasi gerakan melawan neoliberalisme, yang dalam banyak kasus telah menjatuhkan pemerintah. Argentina, misalnya, pernah memiliki lima presiden dalam dua minggu: 1) Fernando de la Rua, mundur 20 Desember 2001; 2) Ketua Senat Ramon Puerta menjadi penggantinya; 3) Kongres mengangkat Adolfo Rodriguez Saa sebagai presiden sementara; 4) Adolfo Rodriguez Saa pada 31 Desember mundur dan Eduardo Camano ditunjuk sebagai presiden sementara; 5) Kongres menunjuk Eduardo Duhalde, 2 Januari 2002. Semua terjadi karena krisis ekonomi dan politik.

Keruntuhan sistem partai dan rezim politik terjadi pula di Ekuador dan Venezuela, Uruguay dan Brasil selamat. Namun, yang perlu dicatat adalah semua itu sebagai konsekuensi dan reformasi neoliberal yang mengakibatkan disinkorporasi arena sosial-politik massa rakyat miskin dan kelas menengah. Pendek kata, yang menjadi jalan berkuasanya kekuatan kiri di negara-negara itu adalah karena kegagalan neoliberalisme sebagai jalan pembangunan yang berkelanjutan.

Pada masa itulah lalu muncul istilah "berbelok ke kiri" dan pink tide (gelombang merah muda). Kedua frasa tersebut dipakai untuk menggambarkan naik panggungnya sosialisme di Amerika Latin. Namun, gelombang merah muda juga sering dipakai untuk menunjuk pada pemerintah kiri atau kiri tengah Venezuela sejak Hugo Chavez berkuasa pada tahun 1999. Hugo Chavez inilah yang sering disebut sebagai penganjur dan yang pertama mempraktikkan "sosialisme abad ke-21".

Sosialisme abad ke-21 tersebut muncul sebagai dampak dari kegagalan sosialisme model Uni Soviet. Yang mereka sebut sebagai sosialisme abad ke-21 adalah sistem ekonomi yang secara radikal memutuskan hubungan dengan rezim neoliberal pasar bebas dan versi sosialisme "statis" yang ditumbuhkembangkan (dulu) Uni Soviet, China, dan Kuba (James Petras).

Pemerintahan "merah muda" itu pada dasarnya, menurut Gregory Weeks, menolak dogmatisme pasar dan waspada pada AS. Mereka mengupayakan untuk mempercepat partisipasi rakyat dan mempersempit jurang perbedaan kaya dan miskin. Dalam praktiknya, pemerintah yang menganut rezim merah muda itu mengombinasikan perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan sosial dengan kekuatan pasar serta investasi asing.

Sebagai contoh, Dilma Rousseff (mantan Presiden Brasil). Ia dikenal sebagai orang kiri, tetapi ketika memerintah, ia mengajak serta bankir konservatif dan secara terang-terangan mengaku membutuhkan kebijakan pengetatan ikat pinggang. Para pekerja tambang di Peru selalu berpendapat bahwa Ollanta Moises Humala Tasso (Presiden Peru 2011-2016) bukanlah orang yang berhaluan kiri atau kanan, melainkan bawah.

Dua contoh tersebut menggambarkan bahwa para pemimpin Amerika Latin yang sering disebut sebagai pemimpin kiri kadang-kadang berbicara dalam istilah-istilah sosialis, tetapi memerintah secara kapitalis. Veronica Michelle Bachelet Jeria (Presiden Cile sejak 11 Maret 2014, pernah menjadi presiden pada 2006-2010) adalah seorang anggota Partai Sosialis. Meskipun demikian, Bachelet secara hati-hati melindungi ekonomi yang sangat kapitalis. Menteri Ekonomi dan Keuangan Bolivia Luis Alberto Arce Catacora, meski tetap memasang foto Che Guevara di kantornya, tetap menarik investor asing. Presiden Ekuador Rafael Vicente Correa Delgado, meski sangat tajam mengkritik kapitalisme global, tetap mengundang investor asing di sektor pertambangan (Global, 27 Mei 2015).

Seperti apa sesungguhnya wajah Amerika Latin? Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Latinobarometro 2013, sebanyak 55 persen orang Amerika Latin bahkan tidak menganggap diri mereka kiri atau kanan sama sekali. Mayoritas menganggap diri mereka tengah, dengan menginginkan penyelesaian masalah-masalah sosial-ekonomi-politik secara moderat. Kalau sekarang sosialisme ambruk, itu karena beban berat mereka sendiri yang harus diusung. Sebenarnya keinginan rakyat sederhana: ingin hidup aman dan sejahtera, adil dan makmur. Begitu saja.