Selasa, 30 Mei 2017

Puasa dan Kehendak untuk Terus Belajar

Puasa dan Kehendak untuk Terus Belajar
Ahmad Baedowi  ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                               MEDIA INDONESIA, 29 Mei 2017



                                                           
PUASA itu sangat sulit jika paradigmanya ialah puasa khusus versi Al-Ghazali, yaitu seseorang menyadari dan menjalani dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk menahan diri dari keinginan duniawi yang memasung jiwa manusia. Puasa itu sulit bagi orang awam karena urusan meletakkan keinginan dan hawa nafsu hanya bisa dilakukan manusia itu sendiri. Karena kendali hawa nafsu hanya dimiliki seseorang, niat berpuasa menjadi penting untuk meneguhkan tujuan berpuasa, yaitu takwa. Dalam takwa, berasal dari derivasi waqoya, memang bermakna menjaga diri dari perbuatan keji dan munkar.

Bukan seperti ibadah lainnya yang secara kasatmata bisa dilihat, puasa sangat unik dilihat dari laku dan tujuannya. Jika salat, haji, dan zakat tampak dari gerakan, perjalanan, dan harta yang diberikan, puasa benar-benar hanya jiwa kita dan Allah yang tahu. Di sinilah makna adanya jiwa atau ruh yang menempati ruang raga ini menjadi penting untuk disadari karena nanti ketika wafat pun yang akan kembali kepada Tuhan ialah ruh dan jiwa kita.

Inti berpuasa

Kenikmatan berpuasa Ramadan sesungguhnya hanya bisa dimaknai secara mutual perspective, yaitu sebagai pembelajar kita harus terus menggali kesucian Ramadan.

Jika dalam perspektif bisnis berlaku adagium a happy customer is a return customer, dalam berpuasa berlaku pula adagium a happy learner is a return learner.

Di bulan puasa, kita bisa belajar tentang awal dan akhir.

Apa yang diawali kesadaran yang lurus akan berakhir bagus.

Apa yang berakhir dengan kebaikan pasti diawali serangkaian niat baik.

Siklus ini seolah mengajari kita bahwa hidup memang berawal dari ketidaktahuan dan harus berakhir dengan sebanyak mungkin pengetahuan.

Jika ketidaktahuan merupakan sifat dasar bayi, mungkinkan pengetahuan bisa membawa manusia kembali dalam kesucian seorang bayi?

Jawabannya bisa, asalkan kita memercayai dan menjalani proses kehidupan secara bersungguh-sungguh dengan terus belajar.

Bersungguh-sungguh (man jadda) tampak sekali ketika Ramadan tiba. Pada titik ini kita sesungguhnya sedang belajar mengembalikan kefitrian jiwa yang memiliki janji primordial hakiki dengan Tuhan.

Namun, ketika Ramadan berakhir nanti, kita pun kembali tersadar untuk bersungguh-sungguh kembali belajar arti kefitrian selama 11 bulan lainnya.

Sebagai salah satu dari beberapa bulan mulia, Ramadan ialah oasis bagi setiap jiwa yang rindu akan kebenaran hakiki.

Kehadirannya sungguh dirindu jutaan umat, dan kepergiannya selalu dirayakan dengan suka cita seperti tecermin dalam Idul Fitri.

Ramadan, seperti biasa, tampaknya tak akan meninggalkan jejak positif bagi kehidupan sosial masyarakat kita.

Ini berarti kita akan gagal untuk belajar kembali makna penting eksistensi Ramadan yang sesungguhnya. Penandanya bisa jadi dari masih mengembaranya sikap primordialistis yang mengental, kebencian antarentik dan golongan masih tumbuh subur.

Kekerasan antariman juga kerap terjadi, Ramadan tak memberi efek terhadap perubahan sosial.

Selo Soemardjan (1998) pernah berujar perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem sosialnya.

Termasuk nilai, sikap, pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Dalam konteks pasca-Ramadan, jika nilai-nilai yang terkandung di dalam ibadah puasa tak menyebabkan terjadinya perubahan pola perilaku sosial dan rendahnya sikap kebersamaan, dapat dipastikan tak akan muncul kesalehan sosial.

Kesalehan sosial sesungguhnya merupakan efek positif setiap ibadah yang berlaku secara terus-menerus dan menumbuhkan kohesi sosial yang kuat.

Secara simbolis kesalehan sosial ditandai kesadaran saling membuka diri, memberi sekaligus meminta maaf, membuka kembali keran-keran saluran komunikasi yang selama ini terhambat, baik sengaja maupun tidak disengaja.

Belajar ikhlas

Banyak orang tak meyakini tanggung jawab lahir dari kerja keras setiap hari secara ikhlas.

Hanya kerja keras dengan keikhlasan yang akan melahirkan sikap rendah hati dan menumbuhkan sikap selalu ingin berbagi.

Dari sudut ini, tanggung jawab akan memperoleh padanannya, yaitu tumbuhnya spiritualitas yang memancarkan kemurnian jiwa seseorang dalam menjalani hidup.

Kazuo Inamori dalam A Compass to Fulfillment: Passion and Spirituality in Life and Business (2010) menunjukkan banyak contoh bahwa keberhasilan seseorang meraih kesuksesan sesungguhnya lebih banyak ditentukan kerja keras yang ikhlas.

Ketika ada banyak guru di sekolah yang saya bina bertanya tentang kompleksitas persoalan yang mengganggu karier dan keikhlasannya dalam mengajar, saya katakan penyebab semua itu ialah kita tidak meyakini bahwa fokus bekerja ialah bentuk tanggung jawab.

Dalam bahasa Robin Sharma (2012), seseorang memerlukan singularity focus untuk sukses dalam karier dan usaha, karena tanpa fokus yang memadai seseorang tidak akan mampu menemukan jati dirinya.

Sebagaimana Picasso yang tidak pernah belajar bermain piano kecuali melukis, gambaran kesetiaan terhadap pilihan karier secara bertanggung jawab menunjukkan spiritualitas seseorang.

Menjadi guru, misalnya, jika tak didasari kerja keras secara ikhlas yang ditunjukkan dengan banyak membaca dan mengkaji bahan secara kreatif pasti tak akan memiliki nilai spiritualitas sama sekali.

Hanya dengan membaca, menulis dan mengkaji setiap bahan yang akan diajarkan kepada siswa secara cerdaslah yang membawa seorang guru pada bentuk spiritualitas yang tinggi, baik di mata manusia, apalagi dimata Sang Mahapencipta.

Mungkin ada banyak orang yang membayangkan bahwa membersihkan jiwa harus melulu melibatkan laku ritual keagamaan tertentu sehingga kita merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Namun bukti empiris di lapangan menunjukkan ternyata mencintai pekerjaan secara bertanggung jawab justru akan lebih cepat mengantarkan seseorang memiliki kedalaman spiritual.

Mengajar, sebagaimana bekerja, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas pasti membawa guru pada evolusi secara alami dalam jiwa yang akan memperkuat karakter para guru. Dengan demikian, pada akhirnya kita akan memperoleh kemuliaan hidup dunia dan akhirat.

Jika para guru memiliki kesimpulan bahwa proses belajar-mengajar merupakan laku sipiritual yang tinggi nilai kemuliaannya, secara semantik akan berakibat pada pemahaman, bahwa proses pendidikan seharusnya dipenuhi sikap kritis, dan daya-cipta guru yang berorientasi pada pengembangan bahasa pikiran siswa dalam rangka mengasah daya jelajah imajinasinya sesuai dengan lingkungan, mereka bertempat tinggal.
Karena itu, sangat penting dalam proses belajar-mengajar guru harus lebih banyak memperhatikan aspek kesadaran siswa mereka yang terpusat pada aspek afektif dan psikomotorik.