Kamis, 25 Mei 2017

Semua Jalan Menuju Beijing

Semua Jalan Menuju Beijing
Peter F Gontha ;   Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Polandia
                                                          KOMPAS, 24 Mei 2017




                                                           
Hampir setahun yang lalu, 21 Juni 2016, di Warsawa digelar Silk Road Forum sekaligus pertemuan bisnis antara Polandia dan China.

Saya terperanjat melihat Presiden China Xi Jinping datang membawa 1.200 pengusaha. Yang lebih mengagetkan saya di samping banyaknya pembicara dari Eropa dan China, ada satu pembicara Asia, yakni Jusuf Wanandi dari Indonesia. Dalam pertemuan tersebut kembali Presiden Xi mempromosikan inisiatif pembangunannya yang terkenal, One Belt One Road (OBOR) atau Satu Sabuk Satu Jalan.

China menyalakan obor

Mulai saat itu saya terus mengikuti perkembangan usaha China dalam "menyalakan" OBOR dan usaha mereka untuk membangun kembali jalur sutra.

Presiden Xi pada September 2013 memperkenalkan inisiatif membangun jejaring Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt/SREB) dan juga memperkenalkan konsep Jalur Sutra Maritim Abad Ke-21 (The 21st Century Maritime Silk Road/CMSR).Perpaduan kedua konsepsi inilah yang kemudian diperkenalkan saat berkunjung ke Indonesia pada Oktober 2013 sebagai OBOR.

Jika SREB berfokus pada pembangunan infrastruktur jalur sutra di daratan Eropa dan Asia, CMSR berfokus pada jalur laut yang menghubungkan China dengan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Asia Selatan, Afrika Timur, Asia Barat, Afrika Utara, hingga Eropa. Mulai tahun 2014, China membangun proyek yang disebut Jalur Sutra Baru (New Silk Road).

Selain melakukan diplomasi dengan banyak negara, mereka juga meresmikan berdirinya Asian Infrastructure Development Bank (AIIB) di Beijing pada Januari 2016.

Baru-baru ini, pada 14-15 Mei 2017, para pemimpin dari 130 negara Asia, Amerika Latin, Afrika, Eropa, dan Timur Tengah berkumpul di Beijing untuk membahas langkah lanjut perwujudan OBOR, dengan agenda utama apa yang saya sebut "Marshall Plan untuk Asia". "Dan, di situ akan dibangun jalan bebas hambatan dari China bagian barat ke Eropa. Permulaan tahun depan Anda dapat jalan langsung tanpa hambatan ke Rotterdam. Jaraknya hanya 10.000 kilometer," kata Guo Jianbin, fungsionaris Partai Komunis dari Provinsi Xinjiang.

Ia menunjuk ke sebuah lapangan terbuka di mana pada waktu matahari terbenam di barat terlihat jalur kereta cepat yang menyilaukan mata. Masih menurut Guo, jalur sutra telah tertimbun pasir. Kini jalan tersebut dijaga ketat pasukan China dan Kazakhstan. Pagar besi, kawat berduri, dan serdadu bermuka dingin memisahkan China Horgos dan suku Kazakhstan Khorgos.

Penguasa Horgos dan Khorgos bersiap mewujudkan OBOR. Menurut saya, OBOR ini akan menjadi proyek pembangunan terbesar dalam sejarah Asia, bahkan terbesar di dunia. Dananya telah disiapkan dan pembangunannya akan dilakukan sendiri oleh China. Lebih dari 1.000 miliar dollar AS telah dianggarkan dan disiapkan melalui AIIB untuk membangun infrastruktur di negara- negara tetangga yang akan dilalui Jalur Sutra Baru.

Mengatasi ketakutan pada ekstremis

Menurut Guo, sesudah terjadinya beberapa serangan teror oleh kelompok Uighur, suku dari Turki, daerah otonomi Xinjiang sangat mencekam dan menegangkan. Ia meyakini tidak ada investor China yang mau berinvestasi ke provinsinya, ibaratnya kalau tidak ada pengamanan yang ketat. Namun, para investor tidak perlu takut untuk masuk di kawasan "Khorgos Gateway", perusahaan yang menyediakan lahan penyimpanan kontainer barang. Kita memerlukan mereka untuk menumbuhkan perekonomian kawasan ekonomi terpadu yang tengah kami dirikan, ujar Asset Seisenbeck, Direktur Komersial.

Diharapkan bahwa dengan pengembangan ekonomi secara merata dengan mengikutsertakan semua kelompok yang berbeda aliran, maka kekerasan dan ancaman teror dapat dihindari.

"Investor akan kami terima dengan tangan terbuka, sama seperti perusahaan Belanda, Unilever, yang akan mendirikan pabrik makanan dan kosmetik," kata Seisenbeck. Telah diputuskan untuk memakai jalur kereta api menuju China. Waktu yang diperlukan untuk mengangkut barang dari Rotterdam ke Chengdu dan Chongqing juga lebih singkat hanya 12 hari.

Visi jauh Presiden Jokowi

OBOR atau dalam bahasa China, Yi Dai, Yi Lu, singkatan dari penanaman modal dan investasi China dalam bidang infrastruktur di luar negeri, pertama kali diungkapkan oleh Presiden Xi pada 2013 dalam kunjungannya ke Indonesia. Tidaklah mengherankan bahwa Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan OBOR di Beijing 14-15 Mei lalu.

Kehadiran tersebut untuk memastikan bahwa Indonesia menjadi bagian penting dari pelaksanaan inisiatif yang bakal mengubah tatanan dunia. Mungkin dampaknya tidak terasakan pada era Presiden Joko Widodo, tetapi visi yang jauh hingga 20-30 tahun dari seorang pemimpin patut didukung dalam rangka meletakkan dasar peradaban baru yang kelak terwujud seiring dengan terealisasinya Jalur Sutra Baru.

Apakah Indonesia siap menghadapi perubahan zaman? Apakah kita siap untuk mempelajari keikutsertaan kita dalam the great reset tatanan dunia, seperti yang dikatakan Mahpudi Sukirman, seorang peneliti dari Bandung, atau apakah kita menyia-nyiakan visi jangka jauh seorang Presiden Joko Widodo, yang melihat pentingnya Indonesia aktif dan turut serta dalam dialog Yi Dai, Yi Lu ini, ataupun dilibatkannya secara aktif para peneliti dari Indonesia, seperti Jusuf Wanandi dalam perbincangan internasional tentang OBOR.

Sementara, Presiden RI bergegas untuk ambil bagian dari "penyalaan" OBOR serta dunia dan Asia di bawah kepemimpinan China mulai meletakkan cetak biru bagi terbangunnya semua jalan peradaban menuju Beijing, ternyata orang-orang di Tanah Air, terutama para pemimpin politik, anggota badan legislatif, tokoh bangsa, dan agama masih sibuk dengan kepentingan kelompok masing-masing.