Selasa, 30 Mei 2017

Mengeja Tanda Baca Kiai Sepuh

Mengeja Tanda Baca Kiai Sepuh
Akh Muzakki  ;   Sekretaris PW NU Jawa Timur; 
Guru Besar UIN Sunan Ampel, Surabaya
                                                        JAWA POS, 29 Mei 2017




                                                           
ADA dua kata yang beririsan makna: mengeja dan membaca. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengeja berarti melafalkan (menyebutkan) huruf-huruf satu demi satu. Membaca bermakna melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).

Tentu membaca memiliki derajat kualitas yang lebih tinggi daripada mengeja. Namun, ujung dari dua kata itu adalah memahami atau mendapatkan pemahaman yang baik atas suatu objek. Untuk sampai ke pemahaman yang baik itu, ada prasyarat yang harus dipenuhi. Ada ejaan yang harus diikuti.

Beberapa hari belakangan, publik penasaran dengan ikhtiar para kiai sepuh se-Jawa Timur. Diawali dengan pertemuan 21 kiai sepuh yang kemudian melahirkan surat bersama yang ditujukan kepada Gus Halim Iskandar dalam kapasitasnya sebagai ketua DPW PKB Jawa Timur serta calon gubernur Jawa Timur pada pilkada 2018. Selanjutnya, isi surat tersebut lebih dikonkretkan lagi melalui serangkaian pertemuan para kiai sepuh di sejumlah titik di Jawa Timur: Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Pesantren Genggong, Probolinggo (24/5/2017); lalu Pesantren Bumi Sholawat Lebo, Sidoarjo (25/5/2017).

Nah, untuk sampai pada pemahaman yang baik terhadap langkah para kiai sepuh itu, ada sejumlah ”tanda baca” yang harus dieja dan dibaca dengan penuh saksama. Dalam perspektif pakar linguistik Ferdinand de Saussure, sejumlah tanda baca tersebut berisi sekaligus berfungsi sebagai penanda (signifier) atas sejumlah kecenderungan yang menjadi petanda (signified).

Langkah para kiai sepuh itu ibarat tulisan-tulisan yang tersusun dengan maksud tertentu. Ada dua tanda baca penting yang dikirim para kiai sepuh melalui langkah-langkah itu. Pertama, tanda hubung. Tanda baca itu dikirim untuk menyambungkan unsurunsur internal yang berjumlah lebih dari satu. Dalam konteks Pilgub Jatim 2018, nama-nama yang mengemuka dari kalangan internal NU antara lain Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Halim Iskandar, dan Khofifah Indar Parawansa. Karena itulah, surat 21 kiai sepuh hanya ditujukan kepada Gus Halim Iskandar sebagai tokoh NU pimpinan partai yang sudah menyatakan diri sebagai cagub Jatim 2018, bukan ke partai lain walau kader NU tersebar lintas partai.

Tanda hubung dipakai para kiai sepuh untuk menyambungkan tokoh-tokoh politik NU. Kepentingannya, agar tidak bertabrakan, lalu berserakan. Jadi, pesan tanda hubung oleh para kiai sepuh sederhana: Mereka tidak memikirkan selain urusan rumah tangga keluarga NU sendiri.

Tidak ditemukan pernyataan dan atau klausul hasil musyawarah para kiai sepuh yang mengajak, apalagi memaksa-maksa, rumah tangga lain untuk mengikuti keputusan dan atau kesepakatan mereka. Yang mereka pikirkan dan tekankan hanya urusan rumah tangga sendiri yang jumlahnya sangat besar.

Tanda baca itu sekaligus menampik tudingan sejumlah pemerhati sementara ini bahwa para kiai sepuh sedang melakukan intervensi politik kepada masyarakat. Sebab, para kiai sepuh itu tidak sedang mengajak dan memaksa rumah tangga ”orang lain” untuk taklid buta. Bahwa kemudian yang lain menjadikan tanda baca itu sebagai referensi, sungguh keputusan itu merupakan pilihan rasional yang sangat dimungkinkan.

Tanda baca yang berupa tanda hubung tersebut terasa penting untuk dikirimkan para kiai sepuh menyusul besarnya jumlah kepengikutan (followership) NU. Akibatnya, NU muncul ibarat gadis cantik yang diperebutkan banyak pria, sejati atau bahkan hidung belang sekalipun. Yang datang mendekati NU dalam kaitan dengan kontestasi politik memiliki motif macam-macam. Mulai yang tulus, setulus pria sejati yang sedang mengharapkan cinta sejati sang gadis, hingga yang abal-abal.

Tanda hubung itu makin berarti saat dikaitkan dengan kebutuhan sinergi daripada kompetisi. Bahkan, PKB pun mengafirmasi fakta tersebut. Penjelasan Thoriqul Haq dari DPW PKB Jatim (Jawa Pos, 26/5) bisa menjadi bukti. ”Komunikasi sudah terjalin dengan baik antara Pak Halim dari legislatif dan Gus Ipul sebagai eksekutif. Para kiai tidak ingin kombinasi yang sudah klop itu terganggu dengan adanya perpecahan kubu dalam pemilih NU.”

Kedua, para kiai sepuh juga sedang mengirimkan tanda seru sebagai bagian dari tanda baca yang penting untuk diperhatikan. Tanda seru itu dikirim para kiai sepuh untuk menyeru dan memerintahkan kesungguhan buat merespons tantangan dan ancaman yang ada di depan mata.
Penggunaan tanda seru tersebut bisa dilihat dari delapan hasil musyawarah kubro para kiai sepuh di Pesantren Bumi Sholawat Lebo, Sidoarjo. Mayoritas membicarakan kondisi serta ancaman bangsa dan negara, mulai maraknya radikalisme-terorisme, mendesaknya penegakan keadilan, hingga pen- tingnya pendidikan keagamaan. Hanya satu bagian akhir yang membicarakan pilkada Jatim.

Alih-alih pecah keluarga, para kiai sepuh menyeru kaum nahdliyin beserta tokoh politiknya untuk mewaspadai tantangan dan ancaman itu. Tanda seru tersebut bak gayung bersambut. Gus Halim Iskandar yang awalnya didorong kader PKB Jatim untuk maju sebagai cagub akhirnya menerima pesan penting para kiai sepuh.

Dengan mendasarkan diri pada kaidah ushul fiqh ” assiyasatu mabniyatun ’ala ’aqidatiha (politik dibangun di atas dasar ideologi yang diyakini)”, dia menerima sepenuhnya dawuh para kiai sepuh. ”Saya yakin sebagai seorang santri, kader-kader PKB akan patuh pada dawuh- nya para kiai dan menjunjung tinggi garis keputusan partai,” tulis Gus Halim Iskandar dalam kolom opini Khidmat PKB kepada NU (Jawa Pos, 27/5/2017).

Tanda baca telah digelontorkan para kiai sepuh. Mengeja tanda baca itu adalah awal untuk bisa memahami makna simbolis yang terdalam di baliknya. Selanjutnya, pertanyaannya bersentuhan dengan bagaimana tanda baca itu digunakan? Dan, itu kembali kepada kecerdasan dan kebijaksanaan para pemangku kepentingan secara keseluruhan. Wallahu a’lam.