Selasa, 30 Mei 2017

Kanak-Kanak yang Bengis

Kanak-Kanak yang Bengis
AS Laksana  ;   Cerpenis dan Esais, tinggal di Jakarta
                                                        JAWA POS, 29 Mei 2017




                                                           
PADA suatu hari di bulan Mei 1212, seorang anak gembala berusia dua belas tahun muncul di Saint-Denis. Dia menghadap Raja Philip II di istananya, membawa sepucuk surat untuk raja Prancis itu, dan mengatakan bahwa surat tersebut diantarkan sendiri oleh Yesus, yang datang menemuinya saat dia sedang menggembalakan ternak dan memintanya untuk pergi ke Jerusalem guna memimpin Perang Salib karena orang-orang dewasa telah gagal menjalankan urusan mereka.
Raja tak memedulikan ucapan bocah itu, tetapi Stephen, si anak gembala, begitu meluap gairahnya setelah perjumpaan dengan lelaki misterius di padang gembalaan dan kini menganggap dirinya sebagai pemimpin perang suci yang akan membawa kejayaan bagi agamanya. Dia berkhotbah dari satu tempat ke tempat lainnya dan para pengikutnya terus bertambah, semuanya kanak-kanak di bawah dua belas tahun.

Akhirnya, dengan pasukan berjumlah tiga puluh ribu kanak-kanak, Stephen memimpin perjalanan penuh kesengsaraan dengan tujuan akhir Jerusalem, sebuah kota suci jauh di seberang lautan sana, di belahan timur bola dunia. Kepada para pengikutnya, Stephen mengatakan bahwa air laut akan membelah, seperti yang terjadi pada Musa, dan memuluskan jalan bagi mereka.

Di puncak musim panas, mereka tiba di tepi Laut Tengah. Air laut tidak membelah saat mereka tiba di sana. Mereka menunggu beberapa hari, kehausan dan kelaparan, serta air laut tetap tidak membelah. Sejumlah anak menangis dan merasa dibohongi, yang lainnya memilih pulang serta menjadi kelaparan dan compang-camping di jalan. Namun, sebagian besar bertahan di tepi laut dan kemudian datang dua saudagar, menawarkan kapal-kapal untuk mengangkut mereka.

Begitulah mereka berlayar sebagai Tentara Salib anak-anak, membawa niat luhur untuk membebaskan Jerusalem dan mengajak orang-orang Islam masuk Kristen dengan cara damai. Dan mereka tidak pernah sampai ke kota suci yang mereka tuju. Sebagian mati karena kapal mereka karam, sebagian menenggelamkan diri di laut, dan sisanya dijual di Tunisia sebagai budak oleh dua saudagar yang memberi mereka kapal tumpangan.

Cerita itu adalah versi Children’s Crusade yang ada di dalam buku A History of the Children’s Crusade (1951) yang disusun Steven Runciman. Kebenarannya masih terus diteliti. Para ilmuwan saat ini beranggapan bahwa pasukan kanak-kanak itu bukanlah bagian dari Perang Salib, meskipun mereka juga mengucapkan sumpah sebagaimana yang diucapkan tentara-tentara salib. Tetapi, mereka tidak bergerak atas perintah Paus.

Di luar urusan itu, saya ingin menyampaikan bahwa orang-orang dewasa memang sering kali tidak tahu diri. Mereka membuat masalah dan nantinya akan melibatkan anak-anak untuk menyelesaikan masalah yang mereka buat. Sampai sekarang masih saja begitu. Orang-orang dewasa tetap suka membuat masalah dan akan seenaknya sendiri melibat-libatkan anak-anak.

Kita mendapati hal serupa beberapa hari lalu. Anak-anak digerakkan untuk berpawai menyambut Ramadan, dengan pakaian putih, dengan obor di tangan, dan dengan nyanyian riang diiringi tetabuhan. Mereka menyanyi bersama, ”Bunuh, bunuh, bunuh si Ahok! Bunuh si Ahok sekarang juga.”

Mereka menyanyikan seruan bengis itu dalam irama lagu, ”Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam. Menanam jagung di kebun kita.” Saya merasa otak saya buntu seketika. Mereka selalu seperti itu, menghalalkan cara apa saja, termasuk meminjam mulut innocent anak-anak untuk meneriakkan kekejian.

Saya pikir, negara harus menanggapi serius masalah itu. Anak-anak tersebut sudah memerintahkan pembunuhan. Entah kepada siapa perintah itu mereka tujukan, tetapi faktanya mereka sudah memberi perintah, ”Bunuh sekarang juga.” Itu perintah terburuk yang dikeluarkan mulut bocah-bocah.

Apakah para orang tua mereka menginginkan anak-anak itu mengembangkan perangai keji dan menjadi mesin pembunuh nantinya?

Anda boleh beranggapan bahwa itu hanya seruan kanak-kanak yang belum cukup umur dan belum memahami apa-apa yang mereka teriakkan. Saya juga ingin berpikir seperti itu dan meyakini bahwa teriakan tersebut hanya gertak sambal orang-orang frustrasi yang disalurkan melalui mulut anak-anak. Saya ingin percaya bahwa Ahok akan baik-baik saja; anak-anak itu sekadar berteriak asal-asalan, sekadar mencontoh perangai orang-orang yang lebih tua beberapa waktu lalu menjelang pilkada DKI.

Sekarang pilkada DKI sudah rampung, Ahok sudah kalah, dan kegilaan terus berlanjut. Mereka terus berteriak dan saya merasa ngeri terhadap pesan tersembunyi di balik seruan itu, pesan yang tak muncul di dalam teriakan tetapi terasa menggiriskan.

Pesan tak terucapkan itu adalah bahwa mereka sudah menyiapkan kader sejak dini, bahwa mereka sanggup membuat anak-anak menjadi monster, bahwa mereka sanggup melakukan apa yang tidak terpikirkan oleh orang-orang dewasa yang waras.

Jika Anda dewasa dan Anda waras, Anda tidak akan memiliki cita-cita untuk membuat anak-anak Anda menjadi pembunuh. Jika Anda dewasa dan Anda waras, tidak mungkin Anda akan mengizinkan anak-anak Anda ikut berpawai dan menyanyikan lagu seperti itu. Jika Anda dewasa dan pikiran Anda sehat, Anda akan lebih suka anak-anak Anda pergi ke museum, membaca buku di perpustakaan, menyirami tanaman bunga di pekarangan, atau bermain sundah mandah dengan teman-teman sebaya.