Minggu, 28 Mei 2017

Surga bagi Yang Menderita

Surga bagi Yang Menderita
Tom Saptaatmaja ;   Teolog; 
Alumnus STFT Widya Sasana Malang dan Seminari St Vincent de Paul
                                                        JAWA POS, 25 Mei 2017



                                                           
SEBAGAIMANA agama-agama lain, Kristen yang dibawa Yesus juga percaya akan surga. Bahkan, setelah menyelesaikan misi-Nya, Yesus naik ke surga, sebagaimana bisa dibaca dalam Perjanjian Baru.

Menariknya, Yesus menunjukkan bahwa surga bukan hanya persoalan eskatologis atau terkait pada suatu masa pada masa mendatang, tetapi surga itu harus dimulai ’’hic et nunc’’ (sekarang dan di sini). Itu tampak dalam ’’datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga’’ (Matius 6: 10).

Bukan hanya lewat ajaran seperti itu, Yesus juga menunjukkan surga dengan mukjizat. Orang buta dibukakan matanya, orang lapar diberi makan, orang lumpuh bisa berjalan, orang sakit disembuhkan, dan bahkan orang mati dibangkitkan-Nya.

Apa yang dilakukan Yesus tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mengupayakan terwujudnya surga di dunia. Sayang, yang kerap hadir justru neraka penderitaan akibat berbagai permasalahan, mulai gangguan jiwa seperti depresi, penyakit, hingga kemiskinan.

Depresi dan Bunuh Diri

Penderitaan itu nyata ketika orang takut akan ketidakpastian masa depannya sehingga akhirnya depresi. Bahkan, depresi sudah menjadi pandemi global. Depresi memang menjadi pionir empat besar beban kesakitan dunia yang diprediksi menjadi ledakan hebat pada 2020 dan 2030.

Akibat depresi, banyak orang yang tergoda melakukan bunuh diri. Menurut WHO, setiap 40 detik ada satu orang yang melakukan bunuh diri. Itu merupakan angka yang sangat besar.

Bunuh diri bahkan kian dijadikan ’’gaya hidup’’, disiarkan langsung di internet. Bunuh diri pun mudah menular. Dalam dunia psikologi, hal itu disebut ’’Werther effect’’. Sebutan tersebut berasal dari nama tokoh fiktif dari novel Goethe, penulis ternama pada akhir abad ke-18.

Dalam novelnya, The Sorrows of Young Werther, Goethe berkisah tentang tokoh protagonis Werther yang sengaja bunuh diri setelah cintanya kepada tokoh utama perempuan gagal. Dalam waktu singkat setelah novel tersebut beredar, tindakan Werther ditiru banyak pembacanya dengan memakai pakaian dan cara mati yang serupa dengan yang dilakukan Werther.

Dampak lain depresi adalah alienasi atau keterasingan sehingga orang kehilangan arti hidup. Hidup menjadi tak bermakna atau hampa. Orang pun tergoda untuk bertindak brutal, biadab, serta nekat demi memberi makna pada hidupnya meski berkahir sia-sia.

Kemiskinan dan Kerakusan

Kejahatan dan neraka juga tampak pada masih banyaknya orang miskin. Mungkin kita masih ingat peristiwa menggemparkan sekaligus memilukan di Semarang pada pengujung 2013. Bayangkan, seorang tukang becak yang bernama Samidi, 60, meninggal setelah makan nasi basi. Dia mengembuskan napas terakhir persis di bawah gambar calon legislatif (caleg) yang menjanjikan kesejahteraan. Samidi menjadi simbol kejamnya penderitaan karena kemiskinan.

Memang ada beragam perspektif dalam memandang kemiskinan. Kaum konservatif dengan tokohnya seperti Auguste Comte atau Emile Durkheim berpendapat bahwa kemiskinan terjadi karena mentalitas orang-orang miskin. Karena itu, kaum liberal dengan tokoh seperti Fredrich August Von Hayek (1889–1992) berpendapat, untuk mengatasi kemiskinan, mentalitas orang-orang miskin harus diubah lewat pendidikan.

Sementara itu, menurut model konflik dengan tokoh seperti Adam Smith atau Karl Marx, struktur sosial merupakan hasil pemaksaan mereka yang kuat atas yang lemah. Hal itu menemukan pembenarannya jika kita kaitkan dengan fasisme abad ke-21 sebagaimana yang diungkapkan Peter Philips.

Menurut analisis Peter Philips, sebuah kekuasaan yang amat rakus sudah menindas miliaran orang di berbagai belahan penjuru dunia. Aktor utama kekuasaan itu adalah sebuah kelas kapitalis trans-nasional yang punya aset kekayaan senilai USD 100 triliun. Mereka sangat agresif merampok sumber kekayaan alam di mana pun. Mereka memiliki segala sarana dan prasarana untuk menjalankan kekuasaan.

Konyolnya, ada yang berpendapat, kaum penjajah fasisme abad ke-21 itu hanya ilusi. Padahal, kalau kita kaitkan dengan kekayaan alam negeri kita yang melimpah, seharusnya rakyat bisa sejahtera. Jadi, kalau sampai ada yang miskin, berarti ada pihak yang sangat serakah, yakni kaum fasis itu.

Keserakahan memang menjadi masalah terbesar dewasa ini. Keserakahan bersumber dari egoisme. Keserakahan membuat orang tidak bahagia karena tak ada yang bisa memuaskan. Selalu mau lebih. Tak pernah ada batasnya.

Maka dalam Sabda Bahagia di bukit (Matius 5-7), Yesus antara lain mengajarkan agar orang sungguh berani menjauhi segala bentuk nafsu untuk memiliki dan tidak takut untuk berbelas kasih, berbelarasa, dan memberi. Hanya dengan cara itu surga bisa kita wujudkan dan yang menderita bisa kita bantu dan entaskan dari neraka.