Kamis, 25 Mei 2017

Toilet

Toilet
Margaretha Sih Setija Utami ;   Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata; Peminat Psikologi Kesehatan
                                                          KOMPAS, 24 Mei 2017




                                                           
"Revolusi Toilet" yang dicanangkan Steven Kandouw, Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Kompas, 10/5), menarik untuk ditindaklanjuti. Sekali waktu saya meminta mahasiswa mengingat tempat paling tidak menyenangkan saat SD. Ternyata kebanyakan menuliskan toilet SD sebagai tempat paling tak menyenangkan karena kotor, menjijikkan, suasananya menyeramkan, dan cenderung diletakkan di pojok yang sepi.

Toilet makin dipersepsikan sebagai tempat tak menyenangkan karena guru sering menghukum dengan mengunci murid di dalam toilet atau menyuruh murid membersihkan toilet. Bahkan ada mahasiswa yang menulis: "Saat kami di SD, malaikat tidak mau tinggal di toilet, jadi para setanlah yang menungguinya."

Ada banyak hal mengapa toilet jadi tempat tak nyaman. Dua hal penting adalah, pertama, di Indonesia para murid SD adalah anak usia 7-12 tahun yang belum diajari bagaimana menjaga kebersihan toilet setelah mereka pakai. Yang membersihkan toilet di rumah orangtua atau pembantu. Murid SD ingin toilet bersih, tapi belum mampu menjaga kebersihan. Kedua, banyak dari kita yang belum memiliki kesadaran bahwa setelah menggunakan toiletkita harus membersihkannya sehingga orang lain yang akan menggunakan menjadi nyaman.

Menurut seorang ahli psikologi, Erik Erikson (1902-1994), anak usia 7-12 tahun tidak lagi dalam tugas perkembangan berkaitan buang air besar dan buang air kecil. Seharusnya mereka sudah lulus masa "toilet training". Kenyataannya, banyak murid SD kita belum mampu menggunakan toilet dengan benar. Hal ini diperparah sikap banyak orangtua yang suka hal-hal praktis sehingga anak dibiasakan menggunakan diaper (popok). Anak dibiarkan tidak belajar bagaimana mengeluarkan kotoran dalam dirinya secara tepat, tidak sembarang tempat dan waktu.

Erik Erikson menyatakan, seorang anak sangat tepat belajar toilet training di usia 1,5-3 tahun. Pada saat itu anak akan belajar kapan dan di mana melepaskan hal-hal yang dianggap kotor oleh lingkungan tetapi harus dilakukan karena tubuh sudah harus membuangnya. Kalau anak berhasil belajar toilet training ia akan punya autonomy yang tinggi dalam kehidupannya. Autonomy di sini diartikan sebagai kemampuan mengendalikan kehendak diri sendiri tanpa menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman lingkungannya. Anak yang tidak berhasil belajar toilet training akan mengalami rasa malu dan ragu-ragu dalam hidupnya.

Toilet training mengajari anak untuk menyadari apa yang dirasakan dalam tubuhnya, dan merencanakan kapan hal yang tidak mengenakkan tersebut harus dikeluarkan tanpa merugikan orang lain. Dalam toilet training anak akan belajar bahwa dirinya tahu tentang kondisi sendiri dan kondisi lingkungan, belajar bahwa dirinya bisa mengendalikan diri sendiri, dan dia belajar bagaimana membuat orang lain menjadi bahagia.

Dalam teori delapan tahap perkembangan psikososial, Erik Erikson mengatakan, kegagalan tahap awal akan memengaruhi tahap berikutnya. Membaca keprihatinan Steven Kandouw, kita perlu merenungkan seberapa besar keberhasilan toilet training kita selama ini. Mungkinkah ini sebagai salah satu titik awal pembentukan karakter bangsa kita yang kurang berhasil?

Toilet training yang tidak berhasil juga memengaruhi perkembangan psikologis dan sosial individu tersebut. Dalam kehidupan orang dewasa saat ini, kita bisa membaca di media sosial banyak orang yang tidak paham kapan mengeluarkan rasa tidak enak dalam dirinya secara tepat. Media sosial menjadi "sungai" tempat primitif kita membuang kotoran tanpa memikirkan bahwa apa yang kita keluarkan dapat "menularkan penyakit" bagi orang lain. Banyak kata kotor yang berasal dari kekesalan dalam diri yang kemudian dikeluarkan sembarang tempat dan waktu. Pelaku merasa benar karena orang lain juga berbuat hal yang sama.

Semoga "Revolusi Toilet" Bapak Steven Kandouw jadi gerakan kita bersama bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis, bukan hanya untuk orang dewasa, tapi juga anak-anak, generasi penerus kita.