Senin, 29 Mei 2017

Manusia Serigala

Manusia Serigala
Trias Kuncahyono  ;   Penulis Kolom KREDENSIAL Kompas Minggu
                                                          KOMPAS, 28 Mei 2017



                                                           
Manchester dan Kampung Melayu. Bom bunuh diri. Banyak nyawa melayang. Banyak orang terluka. Kemanusiaan kembali dirobek-robek. Kekejian telah mengalahkan kelemahlembutan. Rasa takut telah membungkam keberanian. Yang jahat telah mengalahkan yang baik. Kuasa kegelapan telah menguasai pengebom bunuh diri untuk menghancurkan kuasa kebaikan. Pada saat itulah, manusia kehilangan kemanusiaannya.

Benar yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes bahwa "manusia serigala bagi sesamanya", homo homini lupus est. Frase yang dipopulerkan Hobbes (1588-1679) itu mula pertama diungkapkan Titus Maccius Plautus (254 SM-184 SM), komedian zaman Romawi. Plautus mengatakan, Lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit, yang kira-kira terjemahan bebasnya adalah manusia serigala bagi sesamanya; ia bukan manusia apabila tidak paham hakikatnya.

Yang terjadi di Manchester hari Selasa lalu (bom bunuh diri yang menewaskan 22 orang dan melukai 50 orang lainnya) dan di Kampung Melayu (bom bunuh diri yang merenggut 5 nyawa dan melukai lebih dari 10 orang) menjadi bukti bahwa masih ada orang-mungkin banyak-yang memilih jalan hororisme. Yakni sebuah kecenderungan memilih kekerasan, ketakutan, teror, dan kematian sebagai strategi dalam mencapai tujuan mereka. Tujuannya banyak: bisa tujuan politik, tujuan ideologi, tujuan ekonomi, atau tujuan budaya, dan bahkan hororisme telah menjadi keyakinan atau jalan hidup mereka.

Horor dan teror telah menjadi permainan hasrat. Dewasa ini setan tidak lagi merupakan ornamen atau pahatan atau patung atau dalam bentuk lukisan belaka. Setan telah menjelma menjadi dan merasuk ke dalam diri manusia; terungkap dalam tindakannya, menghancurkan keindahan, menghancurkan kemanusiaan, menghancurkan kehidupan, mengubah terang menjadi kegelapan lewat horor dan teror.

Bagi mereka, pelaku horor dan teror, kematian telah kehilangan ciri khasnya, yakni menakutkan. Kematian, bagi mereka pelaku bom bunuh diri, telah menjadi sebuah tujuan; bahkan diyakini sebagai tujuan suci. Kematian, bagi mereka, tidak lagi menakutkan, menggentarkan, tetapi memesona. Akan tetapi, kematian itu bagi mereka menjadi memesona kalau kematiannya juga menyebabkan orang lain mati. Kematian itu menjadi tujuan suci, kalau bisa mematikan orang lain.

Padahal, kematian, bagi orang lain lagi-yang tidak menganut paham penebar teror dan pelaku bom bunuh diri-berdasarkan imannya adalah bukan akhir segala-galanya. Karena kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan garis transisi. Maka, bagi mereka yang ketika hidupnya telah banyak berbuat baik, kematian adalah pintu gerbang memasuki kehidupan baru yang lebih indah, sebuah kebahagiaan yang lebih sejati.

Namun, bagi pelaku bom bunuh diri, kematian orang lain itu bukanlah tujuan utama, melainkan sebagai cara untuk membuat orang lain dalam jumlah yang lebih banyak ketakutan, membuat orang lain terteror, dan kemudian tunduk pada kehendaknya. Dengan membunuh-lewat bom bunuh diri-sejumlah orang, mereka berharap orang yang lebih banyak lagi akan ketakutan, merasa terteror.

Istilah "terorisme" berasal dari kata dalam bahasa Latin "terrere" yang berarti menakuti, mengejutkan, menggentarkan. Cara-cara seperti itu, menakut-nakuti, sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala. Pada zaman kekaisaran Romawi, mereka menyalib orang-orang yang dianggap tidak patuh, memberontak, atau dianggap sebagai ancaman bagi penguasa. Tak kurang dari 20.000 orang hanya dalam beberapa bulan selama Revolusi Perancis dipenggal kepalanya dengan guillotine.

Pada zaman modern, terorisme negara dipraktikkan penguasa Jerman Nazi, Uni Soviet di zaman Stalin, China komunis di masa Mao Zedong, Pol Pot di Kamboja, dan sejumlah penguasa rezim totaliterian. Terorisme telah menjadi politik kematian.

Sulit memahami cara pikir seperti ini. Akan tetapi, itulah yang mereka hayati, pilih, dan lakukan. Untuk mencapai tujuan suci itu-kematian-mereka memilih jalan kekerasan. Kekerasan tidak hanya menjadi pilihan, bahkan, telah menjadi semacam ideologinya. Mereka memilih ideologi kekerasan untuk mewujudkan impiannya, hasratnya, nafsunya. Ideologi kekerasan telah menguasai begitu banyak orang. Lihat apa yang terjadi di Suriah, di Irak, Nigeria, Pakistan, Banglades, Afganistan, Israel, Palestina, bahkan sekarang ke Eropa, dan juga Indonesia.

Di negara-negara itu-termasuk di Indonesia-kekerasan selalu mengiringi setiap peristiwa sosial dan politik. Kekerasan bukan hanya monopoli politikus dan kelompok yang terbiasa dengan premanisme. Namun, ada kecenderungan beberapa kelompok mengatasnamakan tatanan moral dengan menghalalkan kekerasan. Maka itu, muncul istilah musang berbulu domba atau serigala berbulu domba. Bahkan, Daoed Joesoef, dalam artikelnya di harian Kompas, beberapa waktu lalu menggunakan istilah "musang berbulu ayam. Padahal, masih jauh larut malam."

Kadang kali sangat sulit membedakan, mana serigala mana domba; mana musang mana serigala; bahkan mana manusia mana serigala. Oleh karena, tidak jarang yang jahat itu tidak tampil dalam wajah monster yang menakutkan, monster sadistis, tetapi bisa jadi tampil dalam sosok orang, warga negara yang patuh pada aturan, yang lugu, yang seperti tidak berdosa.

Sejarah sangat mudah memberikan contoh hal seperti itu. Misalnya, apakah Adolf Eichmann yang bertanggung jawab atas pembunuhan jutaan orang Yahudi di kamar gas berwajah sadistis dan dikenal sebagai sosok yang tidak patuh aturan? Ia dikenal sebagai orang yang patuh pada aturan. Apakah wajah Pol Pot menakutkan? Ia murah senyum. Apakah Mao Zedong kelihatan berwajah kejam? Tidak. Apakah Napoleon Bonaparte juga berwajah kejam?

Yang murah senyum pun bisa jadi di balik senyumnya tersimpan kejahatan, sifat dengki dan iri, pendendam, bahkan culas. Manusia memiliki sifat destruktif terhadap manusia lain. Itulah penyebabnya. Inilah sifat-sifat destruktif manusia terhadap sesamanya: menghancurkan, merampas, menganiaya, menikam, membakar, memecah belah, menyiksa, menistakan, mengolok-olok, melecehkan, membasmi, mencemarkan, merobek-robek, mencabik-cabik, memukuli, menggebuki, menusuk, menghujat, menghina, dan masih banyak lagi yang pada intinya bertujuan menghancurkan sesama. Karena itu, homo homini lupus est, manusia serigala bagi sesamanya.