Selasa, 23 Mei 2017

Palsu

Palsu
Samuel Mulia  ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                          KOMPAS, 21 Mei 2017



                                                           
Kalau hari ini saya mengajukan sebuah pertanyaan, apakah menurut Anda, Anda adalah orang yang bisa dipercaya? Bahwa apa yang Anda keluarkan dari mulut, baik itu sebuah janji maupun nasihat, tak akan berakhir sebagai bualan semata?

Diperdaya

Saya teringat dengan janji ayah kepada kakak perempuan saya. Ayah menjanjikan menyekolahkannya ke Inggris. Dengan semangat gadis remaja, ia mengumpulkan semua data dan keperluan pembiayaan selama mengenyam pendidikan di negeri orang itu. Singkat cerita, semua usahanya itu dibatalkan ayah secara sepihak, dan ayah menyarankan ia melanjutkan ke "Negeri Paman Sam".

Apa yang ada di benak Anda kalau mendengar cerita di atas? Apakah ayah saya menepati janjinya? Apakah omongannya dapat dipercaya? Mungkin ia menepati janjinya untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri, tetapi ia juga melanggar janjinya sendiri karena sejak awal "Negeri Paman Sam" tak pernah disuarakan oleh mulutnya.

Peristiwa itu hanya peristiwa ringan. Namun, sebagai anak, saya belajar sesuatu. Sering kali saya cepat sekali mengumbar janji. Akan ada banyak alasannya mengapa umbaran manis itu dilakukan. Dari yang sekadar mau cepatnya tanpa berpikir panjang, seperti ayah saya, ada yang beralasan untuk pencitraan, seperti ayah saya juga.

Itu mengapa saat ia meninggal, orang mengatakan ayah saya orang baik. Karena saya tahu siapa ayah saya sesungguhnya, saya berpikir pasti salah satu citra baiknya itu gara-gara janji manisnya yang belum tentu dilakukan. Selain itu, orang mengumbar janji untuk mencapai sebuah tujuan.

Kalau melihat cerita seperti di atas, ketika janji itu tak bisa ditepati, acapkali saya pindah ke persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya, tetapi terasa seperti ada kaitannya. Kalau mengambil contoh cerita di atas jadi begini. Saya tidak jadi sekolah ke Inggris, tetapi saya tetap disekolahkan ke luar negeri.

Pernyataan itu terasa ada janji yang tak ditepati, yang tumpang tindih dengan janji yang ditepati. Dari situlah lahir kekecewaan bagi mereka yang dijanjikan, dan dari tempat yang samalah predikat bahwa seseorang itu tak bisa dipercaya, diberikan.

Janji dan bukti

Kekecewaan bukan terjadi karena memindahkan lokasi dari Inggris ke Amerika. Karena itu bukti bahwa ayah saya tetap menyekolahkannya ke luar negeri. Namun, kekecewaan itu terjadi karena janji yang cepat diumbar tanpa berpikir panjang. Sebuah janji palsu yang terlihat tidak palsu. Kekecewaan yang lahir karena sebuah janji yang manipulatif.

Ketika saya menjalani sebuah cerita asmara beberapa tahun lalu. Saya dijanjikan dengan berjuta cerita, saya terpesona dengan caranya memberi perhatian meski kadang bisa bikin sakit kepala. Namun, dua tahun berjalan tanpa menghasilkan janji yang manis, dan hanya berbuah kekecewaan yang besar. Janji sehidup-semati itu hanya bualan. Karena pada kenyataannya, yang satu hidup dan yang satu mati.

Mengapa kecewa? Karena perjalanan asmara itu tak seperti ungkapan memberi bukti bukan janji. Namun, sebaliknya, hanya memberi janji tanpa bukti. Dalam perjalanan hidup yang setengah abad lebih ini, sudah banyak yang saya alami soal janji surga yang tak bisa ditepati di dunia ini.
Harus saya akui, menjadi manusia yang tak bisa dipercaya itu bukan sekadar saya melihat kepada orang lain, melainkan acapkali saya juga menjadi manusia yang tak bisa dipercayai diri sendiri.

Acap kali orang lain terkecoh melihat saya. Wajah dan penampilan bisa begitu santun dan tidak bersalah, ternyata di dalamnya dipenuhi dengan kebencian. Pakaian saya begitu terlihat bersusila, tetapi siapa yang tahu kalau dengan pakaian bersusila itu, saya malah berbuat asusila.

Sejujurnya yang terkecoh bukan orang lain, melainkan saya. Perilaku di atas itu, contoh nyata bahwa saya sendiri saja tak bisa dipercayai diri saya sendiri. Itu mengapa saya sampai pernah berpikir untuk tidak memercayai siapa pun, terutama diri sendiri.

Melalui peristiwa semacam itulah saya jadi tahu, kalau yang tak bisa dipercaya itu acapkali hadir dengan penampilan seperti malaikat. Mulut manis yang berbisa itu adalah salah satu bukti bahwa seseorang itu tak bisa dipercaya.

Pertanyaannya kemudian, mengapa saya dapat menjadi manusia yang tak bisa dipercaya? Bahkan, lebih dari itu, mengapa saya yang tidak bisa dipercaya dapat tetap hidup tenang? Mungkin, alasan utamanya hanya sederhana. Mungkin.

Kalau saya ini saja tidak bisa dipercayai oleh diri saya sendiri, yaaa... mana mungkin saya membangun sebuah sosok yang bisa dipercaya. Bukankah apa yang telihat dari luar, semuanya berasal dari dalam?
Bukankah katanya, buah itu tak jauh jatuhnya dari pohonnya. Jadi, kalau buahnya terlihat tak bisa dipercaya, ya. mungkin bisa dilihat saja pohonnya seperti apa.