Selasa, 30 Mei 2017

Bersikap terhadap Ancaman Eksistensi NKRI

Bersikap terhadap Ancaman Eksistensi NKRI
Hasanudin Abdurakhman  ;   Cendekiawan, Penulis; 
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                      DETIKNEWS, 29 Mei 2017



                                                           
Dalam waktu yang hampir bersamaan, ada 2 kejadian yang sangat mengkhawatirkan terjadi di Indonesia. Keduanya merupakan ancaman terhadap kewujudan kita sebagai bangsa. Pertama, serangan bom di Kampung Melayu. Kedua, kericuhan yang nyaris berkembang jadi kerusuhan besar di Jayapura.

Bom di Kampung Melayu jelas hasil kerja teroris. Demikian pula beberapa serangan sebelumnya. Apa yang diinginkan teroris? Kita tak tahu. Dengan logika kita tak mungkin bisa memahaminya. Juga tak akan kita temukan jawabannya kalau kita cari dalam ajaran Islam. Ajaran Islam tak mengajarkan orang untuk meneror. Teror dilakukan terhadap penduduk sipil tak bersenjata. Itu sama sekali bukan ajaran Islam.

Ajaran Islam membolehkan perang, dengan berbagai syarat. Salah satunya, perang hanya boleh dilakukan di bawah komando negara, bukan kelompok perorangan. Lebih penting lagi, perang dilakukan terhadap kelompok bersenjata (tentara), bukan terhadap orang-orang sipil tak bersenjata. Maka, tindakan teroris tadi sama sekali tak bisa dibenarkan dari sudut pandang ajaran Islam. Terlebih, mereka membunuh umat Islam sendiri.

Kericuhan di Jayapura berawal dari isu yang mengatakan adanya Alkitab yang dibakar. Berita tak jelas itu beredar luas, membangkitkan kemarahan. Kapolres yang mencoba menenangkan massa, terluka oleh amukan massa. Untunglah akhirnya massa bisa dibubarkan oleh aparat.

Dua kejadian itu adalah ancaman terhadap eksistensi NKRI. Teror itu jelas bertujuan menggoyahkan fondasi eksistensi kita. Terlebih di negara tetangga kita, Filipina, para teroris sudah lebih leluasa unjuk kekuatan, dengan menguasai kota. Sementara itu, kericuhan bisa dengan mudah meluas menjadi kerusuhan yang lebih besar, dan mengancam stabilitas keamanan, baik di tingkat wilayah maupun nasional. Itu adalah ancaman terhadap eksistensi NKRI.

Tak banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegah teror, karena itu wilayah kerja aparat keamanan. Fokus kita terbatas hanya pada keselamatan diri dan keluarga kita. Tapi setidaknya kita bisa menegaskan bahwa teror ini bukan sesuatu yang patut didukung, khususnya oleh umat Islam.

Hal ini penting untuk diperhatikan. Kita harus menyadari bahwa masih ada saja sebagian kecil orang dari kalangan umat Islam yang mendukung teror dan terorisme. Sejumlah komentar di media sosial menunjukkan hal itu. Itu yang terdeteksi. Yang tidak terdeteksi bisa diperkirakan lebih banyak lagi.

Apa yang bisa kita lakukan terhadap mereka? Sekali lagi, tak banyak. Tapi kita bisa melakukan hal lain kepada kelompok-kelompok lain. Dalam situasi seperti ini sangat penting bagi kita untuk bersatu. Siapa yang harus bersatu? Kita yang masih cinta pada NKRI. Sebagian besar kita ini cinta NKRI. Kelompok-kelompok pendukung teror itu hanya segelintir saja.

Sayangnya, di antara kita sendiri masih ada berbagai ketegangan. Kita masih menyimpan kecurigaan. Kejadian di Jayapura tadi adalah indikasinya. Ada orang-orang yang masih percaya bahwa ada sejumlah orang dari kelompok lain yang memusuhi mereka. Ada orang yang dengan sengaja mau melecehkan kita. Kepercayaan seperti itu adalah potensi rusuh. Bila ada kejadian atau isu tentang kejadian pelecehan, maka ia bisa menjadi picu bagi sebuah kericuhan atau kerusuhan.

Dalam situasi ini penting bagi kita untuk saling meyakinkan bahwa kita ini satu. Kita ingin NKRI yang aman dan damai. Aman dari serangan orang-orang yang hendak merusaknya. Damai di antara berbagai komponen anak bangsa. Maka, kita harus saling menyampaikan pesan, itikad baik, bahwa kita menghormati saudara kita, dari agama dan golongan yang berbeda dengan kita.

Kita juga percaya bahwa mereka pun demikian terhadap kita. Kita harus membuang kecurigaan antaranak bangsa, menggantinya dengan keyakinan bahwa kita semua disatukan oleh keinginan untuk tetap bersama dalam wadah NKRI.

Khusus untuk umat Islam, kita perlu terus-menerus mengaskan kepada kelompok-kelompok awam bahwa teroris itu bukan pelaku ajaran Islam. Mereka bukan saudara kita, karena mereka tak segan membunuh kita. Maka tak boleh ada dukungan sedikit pun kepada mereka, dalam bentuk apapun.

Aman dan damailah Indonesia!