Minggu, 21 Mei 2017

Bangkitkan Batang Terendam

Bangkitkan Batang Terendam
Daoed Joesoef ;   Alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne
                                                          KOMPAS, 20 Mei 2017



                                                           
Setiap tahun kita memperingati ”Hari Kebangkitan Nasional” atau HKN. Adalah tanggal 20 Mei yang ditetapkan menjadi HKN berhubung pada tanggal tersebut di tahun 1908 dibentuk satu organisasi yang dinamakan Boedi Oetomo di gedung Stovia Batavia. Bangunan ini merupakan lembaga pendidikan kedokteran, School ter Opleiding van Indische Artsen.

Pembentukan Boedi Oetomo dipelopori oleh beberapa pemuda-pelajar, antara lain R Soetomo dan R Goenawan Mangoenkoesoemo. Organisasi ini lahir sebagai perpaduan antara semangat nasional dalam menentang penjajahan dan kesadaran intelektual tentang kemajuan melalui pendidikan ”modern”.

Peristiwa ini kiranya bukan satu kebetulan, tidak tanpa latar belakang kesejarahan lokal. Mereka berasal dari klaster penduduk Hindia yang sudah mengembangkan sistem pendidikannya sendiri, katakanlah ”klasik”. Sudah mengelaborasi seperangkat pengetahuan berporos ”kawruh” dan memerincinya menjadi ”kawruh lahir” dan ”kawruh batin”, ”ngelmu lahir” dan ”ngelmu batin.

Kawruh lahir adalah ”pengetahuan” yang obyeknya adalah hal-hal lahir dan daya yang digunakan adalah juga daya-daya lahir, seperti pengetahuan tentang alam berupa tanem tuwuh, pranata mangsa, dan kanuragan (oleh kekuatan fisik manusia).

Kawruh batin adalah ”pengetahuan” yang obyeknya adalah hal-hal batin dan daya yang digunakan adalah juga daya-daya batin, seperti kawruh mengenai hidup dan kehidupan serta hubungan antara manusia dan Tuhan, kawruh kasukman.

Ada terdapat gradasi(unda-usuik) antara kawruh lahir dan kawruh batin, tetapi tidak terdapat sekat pemisah tegar di antara keduanya, bahkan ada semacam kontinuitas serta jalinan. Kawruh batin tentang hidup, kehidupan, problematik dumadi, ketergantungan, sikap saderma, hal bener dan pener, ngerti dan wasis, sampai pada hal Kang Murbeng Gesang. Semua itu merupakan proses produk pengolahan kawruh batin, berpangkal konkret pada pengalaman konkret yang terjadi di dalam lingkup kawruh lahir.

Walaupun ada perbedaan, tidak jarang terjadi pembauran, bahkan terjadi penyamaan sehingga kawruh batin ditarik kedudukannya menjadi sama dengan kawruh lahir. Hal tanem tuwuh dan pranata mangsa, misalnya, yang pada awalnya adalah kawruh lahir, selanjutnya menjadi pemikiran di dalam kawruh batin, ketika kenyataan tersebut mengungkap suatu makna batin mengenai hidup, kehidupan, dumadi, purwa-madya-wasana, dan sampai pada makna ketergantungan hidup dari Kang Paring Gesang, Kang Among Tuwuh.

Terkait erat dengan pembelajaran kawruh, sudah dikemukakan pula gradasi pemahamannya dengan istilah khas: weruh, ngerti, sumurup, miyat, tampa, nampa, ngrasa, pana, pengerten, panampa, pangrasa, ngelmu, wikan, dong, dunung.

Semua ini menunjukkan betapa telah terjadi proses observasi yang tekun dan cermat mengenai ”pengetahuan” dan tingkat penguasaannya, begitu rupa hingga terbentuk istilah-istilah dan signifikansinya sendiri. Bandingkan dengan predikat kelulusan ujian universiter yang bergradasi hanya enam pemahaman/penguasaan materi yang diuji: ragu-ragu, baik, memuaskan, sangat memuaskan, cum laude, summa cum laude.

Nyaris semua aneka kawruh sudah dibukukan. Gubernur Jenderal Raffless menyebut buku Serat Centini sebagai ”the Javanese Encyclopaedia” karena memuat aneka pengetahuan; dari yang mengenai pembuatan makanan/minuman, obat-obatan (jamu), melalui makna dan bentuk serta cara penyajiannya—nasi tumpeng, bubur sumsum, sajen—hingga ke pembelajaran seksual.

Meski begitu komprehensif, ternyata ”kawruh” ini tidak bisa menyaingi ”pengetahuan ilmiah” Belanda yang dibelajarkan melalui sistem pendidikan ”modern”. Pengetahuan ala Barat ini memberi kekuatan pada Belanda dan dengan kekuatan intelektualnya ini ia bisa menguasai Hindia. Padahal, negeri kincir angin ini hanya seluas Jawa Barat, jumlah penduduknya tidak sampai sepertiga penduduk pulau Jawa.

Maka, para pemuda Jawa terdidik dari Boedi Oetomo berkesimpulan bahwa jalan terpenting yang harus ditempuh demi memerdekakan bangsa adalah dengan menguasai ”pengetahuan ilmiah” melalui sistem pendidikan ”modern” ala Barat. Langkah awal untuk hal ini berupa pembentukan ”Studiefonds” (Dana Studi).

Sikap mereka ini betul-betul mencerminkan kesadaran untuk ”membangkitkan batang terendam” dan pantas dinamakan ”Hari Kebangkitan Nasional”.

Menulis ulang sejarah

Sementara itu, dengan pengetahuan ilmiahnya Belanda menulis sejarah kita yang diajarkan di jalur pendidikan formal. Kalau kita renungi secara kritis, sesuai dengan semangat keilmuan, terlihat ada kesengajaan untuk tidak menarasikan hakikat alami bumi kelahiran kita dan, terkait dengan itu, kelebihan kita masa lalu di samping keburukan dan kekurangan tercela yang sangat ditonjol-tonjolkan.

Kita adalah bangsa pelaut. Bukan kebetulan kalau nenek moyang kita telah menempa istilah ”Tanah Air” yang padanannya di Barat adalah”Moederland”, ”lapatrie” dan ”Heimat”. Dua per tiga dari keseluruhan permukaan Indonesia memang terdiri dari air (lautan). Semua kerajaan yang pernah berjaya di sini terkait erat dengan laut. Seorang pelaut Inggris konon mengaku pernah menyaksikan keberadaan angkatan laut yang tangguh dari Kerajaan Ternate. Di Candi Borobudur yang dibangun pada abad IX ada relief perahu cadik bertiang tiga yang menurut ukuran ketika itu tergolong ”ocean-going vessels”.

Kita pernah punya seorang laksamana perempuan, Malahayati, yang sanggup mengusir armada Portugis dari perairan di sekitar Aceh termasuk Selat Malaka. Sementara Portugal ketika itu, dengan armadanya, diakui sebagai ”World Power”.

Hingga saat jatuhnya Kerajaan Belanda dek serbuan tentara Nazi Hitler, Akademi Angkatan Laut Belanda (Den Helder) tidak bersedia menerima kadet Indonesia, padahal Akademi Angkatan Daratnya (Brede) sudah lama menerimanya. Belanda rupanya dengan sadar mau mematikan semangat kebaharian kita. Kita betul-betul terpukau oleh ajaran sejarah Belanda, yang katanya serba ilmiah, hingga kita lalai setelah merdeka membangun kekuatan laut. Doktrin ketahanan nasional yang kita susun sangat beraspek daratan.

Maka, sudah saatnya kita menulis ulang riwayat hidup kita sendiri, memberi makna pada peristiwa-peristiwa hidup tersebut dalam rangka upaya membangkitkan batang terendam. Upaya ini merupakan tantangan tersendiri bagi para sejarawan kita.

Kerja ini memang tidak mudah. Orang diakui sebagai ”sejarawan” apabila dia memperoleh gelarnya dari lembaga pendidikan ilmiah. Sementara masih ada anggapan bahwa ”sejarah” bukan merupakan ilmu pengetahuan (IP), tetapi sesuatu yang dekat dengan ”humanities”, paling banter tergolong ilmu sosial di mana ia dinilai ”the least scientific”. Sementara bidang pemerintahan kadang-kadang disebut ”political science” dan ekonomi dikaitkan dengan ”economic science”, jurusan pembelajaran sejarah jarang disebut ”Department of historical science”.

Orang sudah terbiasa membayangkan IP (science) bermetode eksperimental, yang mendefinisikan obyeknya dengan ketat begitu rupa hingga ia dapat menjadi obyek eksperimen yang bisa diulang di laboratorium mana saja, bagaimana pun kondisi politik, serta ideologi dan sosial yang berlaku.

Namun, istilah IP yang adalah padanan kata ”science”, berasal dari kata Latin ”scire” (mengetahui) dan ”scientia” (pengetahuan), yang diperoleh melalui metode apa pun yang dianggap cocok dengan bidang tertentu yang sedang dikaji.

Pembahasan tentang sejarah merupakan aktivitas intelektual yang tidak pernah basi walaupun mengenai tema yang tetap sama. Secara naluri selalu ada kecenderungan pada diri manusia untuk mengetahui masa lalu human dan berdasarkan pengetahuan tadi berharap memperoleh pelajaran guna menduga masa datang kehumanannya.

Perkataan ”sejarah” digunakan menurut dua pengertian yang berbeda dan memang cukup membingungkan, yaitu menurut artian subyektif dan obyektif. Pada mulanya artian subyektif ini yang dipakai. Perkataan Yunani ”historia”berarti ”pengusutan” dan karenanya dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu tentang sesuatu dari segala hal. Penggunaan dari pengertian ini tecermin sampai sekarang dalam istilah ”natural history” yang di Barat berarti pengusutan mengenai keadaan makhluk non-manusia yang hidup di dunia.

Meski demikian, lama kelamaan orang Yunani itu sendiri pula yang secara arbitrer banyak sedikitnya membatasi pengertian subyektif dari ”historia” pada pengusutan tentang hal-hal yang sudah terjadi dalam kehidupan human. Lalu melalui pergeseran pengertian dari penggunaan subyektif ke penggunaan obyektif, kata ”historia” juga dipakai untuk menunjukkan masa lampau dari kehidupan human itu sendiri. Penggunaan ganda dari kata ”historia” atau ”sejarah” ini memang kadang kala cukup membingungkan.

Realitas berkaitan erat dengan fakta dan setiap sejarawan pasti akan menggunakan kata ”fakta” tanpa ragu-ragu. Bagi sejarawan, fakta-fakta masa lalu manusia merupakan perbendaharaan kerjanya. Namun, ada baiknya sejarawan bertanya pada dirinya sendiri apakah yang disebut ”fakta” yang diasumsikan sebagai ”realitas” itu dan di mana dia memperolehnya. Apakah yang dianggap sebagai fakta-realitas itu adalah obyek di luar dirinya, seperti batu atau potongan kayu yang ditemuinya dan dapat dikutipnya di sepanjang jalan kehidupan manusia? Apakah fakta-realitas itu sebenarnya bukan hasil ciptaan pikirannya sendiri yang tidak ada mitranya (counterpart) di dalam kehidupan di luar dirinya?

Kesadaran nilai

Pendidikan di bidang sejarah jelas berperan sekali dalam memberikan kesadaran akan nilai-nilai, jalan pikiran, pandangan hidup, dan perangai nenek-moyang dalam membentuk kebudayaan (sistem nilai) bangsa sepanjang riwayat hidupnya selaku bangsa.

Indonesia boleh saja dikatakan baru lahir sejak Agustus 1945, tetapi ketika memproklamasikan kemerdekaannya itu bangsa Indonesia sudah memiliki suatu kebudayaan yang telah diturun-temurunkan sejak lama. Bangsa Indonesia saat itu jelas sudah mempunyai sejarah yang cukup panjang, baik jika ditinjau dari sudut masing-masing daerah dan suku sebagai unsur mandiri maupun apabila dilihat dalam keseluruhan wilayah dalam kesatuan bangsa.

Pengetahuan mengenai kegemilangan yang sudah pernah dicapai oleh bangsa di zaman lampau, di samping juga, bahkan justru, kesadaran akan penderitaan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan melawan kekuasaan penjajah, akan menggugah rasa bangga dalam diri anak Indonesia atas peranan bangsanya dalam semua kehadiran umat manusia di bumi dan mempertebal rasa harga diri (honour) sebagai anggota dari bangsanya. Anak Indonesia pada setiap saat dari setiap generasi perlu diberi kesadaran akan keseluruhan hidup bangsanya sebagai latar belakang dari kelahirannya sendiri. Jangan dibiarkan dia merasa hidup tanpa akar. Biasakan dia menyadari dirinya sebagai unsur penting dalam rangkaian kesinambungan bangsa sejak zaman purba.

Narasi sejarah sangat membantu pemupukan kesadaran perjuangan panjang kepada anak didik kita tentang kedudukannya sebagai mata rantai antara masa lalu dan masa depan. Sebagai titik-titik yang membentuk garis yang terus berkembang, titik mana pun yang diambil, ia selalu merupakan titik di antara dua titik, yaitu titik yang mendahuluinya dan titik yang menyusul. Dan, sebagai titik antara, selaku generasi antara masa lalu dan masa depan, Negara-Bangsa Indonesia seharusnya dia lihat tidak hanya sebagai satu ”warisan”, tetapi juga selaku suatu ”janji”. Sebagai warisan ia diterima sebagaimana adanya, tetapi sebagai janji ia harus dibina guna diteruskan lebih lanjut.

Kesadaran seperti inilah yang perlu dibangkitkan, membangkitkan batang terendam, dan lalu dipupuk di dalam watak anak didik melalui sejarah perjuangan bangsa dan kebudayaannya. Hari Kebangkitan Nasional sebagai salah satu tonggak sejarah bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, merupakan concern khas dari siapa pun yang merasa terpanggil untuk menggeluti bidang sejarah. La noblesse oblige! Kita bisa berupa makhluk yang terlempar secara acak di antara sejumlah besar materi dan bintang, tetapi walaupun tetap terkurung di situ, kita mampu menciptakan citra diri yang cukup kuat untuk membantah ”kenihilan” kita dan, sekaligus, menyatakan bahwa kita adalah ”sesuatu”. Dan sejarah, berkat kinerja sejarawan, bisa membantu realisasi kemampuan tersebut.

Studi kesejarahan tentang komunitas human dapat dilakukan sama ilmiahnya dengan studi tentang apa saja dan kapan saja, dengan jalan mengajarkan apa-apa yang telah membentuk dunia modern dan apa-apa yang berpeluang membentuk masa depan kita.