Selasa, 30 Mei 2017

Puasa Masyarakat Impulsif

Puasa Masyarakat Impulsif
Ahmad Sahidah  ;   Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia
                                                 SUARA MERDEKA, 29 Mei 2017



                                                           
SECARA normatif, puasa didefinisikan dengan mencegah makan, minum, dan berhubungan badan di siang hari. Namun pada waktu yang sama, mereka digalakkan untuk menyegerakan berbuka jika azan Maghrib tiba.

Selain tubuh kembali mendapatkan asupan yang diperlukan agar kembali cergas untuk berkegiatan, sekaligus ia menekankan bahwa menahan diri adalah pesan kunci dalam kewajiban tersebut, sehingga manusia bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan jiwa dan raga.

Tak bisa dielakkan, kebutuhan menu berbuka turut mewarnai pemaknaan pada konsumsi. Kebiasaan menyediakan kurma pada waktu berbuka bukan sekadar mengikuti sunah Nabi.

Di sini fungsi kurma terkait pola makan dalam menjalankan hidup sehat. Makanan pokok itu diutamakan tentu saja dikaitkan selera yang dibentuk oleh apa yang disebut habitus dalam Pierre Bourdieu.

Lebih jauh, kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi seeloknya adalah barang yang diproduksi sendiri dan terjangkau karena termasuk kebutuhan dasar. Apa sejatinya relevansi puasa dengan kehidupan sekarang? Arti dasar dari shaumadalah menahan diri (imsak).

Dengan berpijak pada makna dasar kita bisa mengembangkan lebih jauh untuk menerapkan kemampuan untuk tidak bersikap tergesa-gesa di tengah perkembangan konsumsi, teknologi, dan hiburan yang serba cepat dan masal.

Dengan ketersediaan semua fasilitas, seperti alat transportasi, internet dan tempat pemuasaan kebutuhan, seperti mal, pasaraya (supermarket), dan belanja daring, manusia dengan mudah memuaskan hasrat dan keinginan.

Dalam bukunya, The Impulse Society: Whatís Wrong with Getting What We Want (2015), Paul Roberts mencemaskan masyarakat impulsif, karena manusia menjadi mesin politik yang mengutamakan perbaikan jangka pendek dibandingkan kemajuan sosial berjangka panjang dan luas.

Model ekonominya ketagihan pada untung cepat, tidak menimbang betapa akibatnya merusak. Selain itu, ia adalah populasi yang tidak setia dan semakin berpusat pada diri yang dilayani sebuah pasar yang didorong untuk memenuhi kecanduan pribadi sementara tidak memenuhi kebutuhan sosial.

Dengan tantangan di atas, semestinya puasa perlu hadir sebagai cara untuk mencegah agar manusia tidak terperangkap pada keinginan memperturutkan hawa nafsu karena ia bisa merusak dirinya, keluarga, dan lingkungannya.

Dengan mengatur jam makan, manusia tidak hanya memperlakukan tubuh dengan baik, tetapi juga acara makan sahur dan berbuka senantiasa dilakukan bersama sehingga mengeratkan hubungan keluarga.

Kecenderungan masing-masing anggota makin larut dengan dunianya masing-masing adalah ancaman terhadap ikatan emosional. Namun demikian, internet tetap mengancam kedekatan jika gawai hadir dalam makan bersama.

Ketika manusia mempunyai kecenderungan menumpuk kekayaan dengan cepat, teknologi memberikan jalan memenuhi hasrat ini. Keserakahan ini tentu mendorong yang bersangkutan untuk memilih mesin dibandingkan manusia sebagai pekerjanya.

Padahal, kata Nabi, salah satu keutamaan di bulan Ramadan adalah berbuat baik pada bawahan. Dilema ini tak bisa dielakkan, tetapi jika diabaikan akan melahirkan masalah pengangguran, yang pada gilirannya masalah sosial bisa meledak.

Lagipula, model kapitalisme seperti ini kontradiktif. Jika pabrik menggunakan mesin agar bisa menghasilkan banyak barang dengan mengurangi pekerja, maka siapa yang akan membeli produk industri tanpa adanya pendapatan.

Ibadah Tarawih

Harus diakui hubungan masyarakat makin cenderung individualistik. Selain ditunjukkan dengan pola tempat tinggal, warga juga makin sibuk dengan pekerjaannya dan banyak menghabiskan waktu di jalan karena macet.

Alih-alih bersosial di waktu senggang, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan menikmati hiburan yang hanya melibatkan dirinya. Di sini, ibadah tarawih yang sangat dianjurkan di malam hari adalah peluang untuk menyemai silaturahim dengan tetangga.

Betapapun pintu rumah tertutup, pertemuan di masjid atau surat mencairkan hubungan manusia yang disandera oleh telepon pintar dan pagar tembok yang tinggi. Tak hanya itu, masyarakat impulsif memanjakan dirinya dengan kebutuhan pribadi yang tidak ada habisnya.

Dengan keutamaan bersedekah di bulan suci ini yang akan mendapatkan pahala berlipat ganda, individu tidak lagi asyik dengan hasratnya, tetapi prihatin pada orang yang tidak beruntung.

Malah, denda bagi orang yang mengandung dan menyusui berupa pemberian makanan pada 60 fakir miskin adalah tanda betapa sesungguhnya nilai instrinsik puasa itu bukan tidak makan, tetapi penanaman nilai empatik pada nasib orang lain.

Dengan menjalankan puasa secara sungguh-sungguh, ancaman terhadap solidaritas sosial bisa dikurangi. Keterasingan kehidupan manusia yang terbelenggu rutinitas yang bersifat banal akan mencair dengan keutamaan menunaikan salat berjamaah tarawih bersama di surau atau masjid.