Selasa, 30 Mei 2017

IS dan Basis di ASEAN

IS dan Basis di ASEAN
Bambang Soesatyo  ;   Ketua Komisi III DPR RI; Anggota Fraksi Partai Golkar;  Presidium Nasional KAHMI 2012-2017
                                                 SUARA MERDEKA, 29 Mei 2017



                                                           
“Ancaman terhadap stabilitas kawasan ASEAN sudah menjadi kenyataan. Kalkulasi ancamannya pun sudah tereskalasi. Tidak lagi semata-mata ancaman serangan bom terhadap obyek-obyek tertentu.”

ISLAMIC State of Iraq and Syria (ISIS) atau Islamic State (IS) sudah sampai pada upaya merealisasikan pendirian basis di Asia Tenggara. Jika itu terwujud, dia akan menghadirkan ancaman bencana kemanusian di kawasan ini. Indonesia dan ASEAN harus all out menggagalkannya.

Khusus di Indonesia, TNI dan Polri harus diberi payung hukum yang kuat untuk melumpuhkan jaringan sel-sel IS yang kini bertebaran di sejumlah daerah. Selasa sore (23/5) sekitar pukul 15.00 waktu Filipina, terjadi pertempuran sengit di kota Marawi, Mindanao, Filipina.

Terjadi baku tembak antara militer Filipina dari Brigade Infantri ke-103 melawan kelompok militan Maute yang nyaris menguasai kota itu. Saat itu, militan Maute telah mengambil alih sejumlah gedung, rumah sakit, membakar sekolah dan rumah ibadah.

Maute melancarkan perlawanan sengit untuk mencegah militer Filipina menangkap gembong teroris Isnilon Hapilon. Sosok Hapilon dikenal sebagai pemimpin kelompok penculik Abu Sayyaf.

Pihak berwajib Filipina mencatat militan Maute dan Abu Sayyaf sudah menyatakan sumpah setia kepada IS. Mungkin karena itu, AS menilai Hapilon sebagai salah satu teroris paling berbahaya.

Serangan militer Filipina hari itu berhasil menewaskan 31 militan Maute. Tetapi pengumuman resmi juga menyebutkan sedikitnya 11 tentara dan dua polisi Filipina tewas.

Untuk menguasai keadaan sepenuhnya, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memberlakukan darurat militer di pulau Mindanao. Pertempuran di kota Marawi itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti simpatisan dan sel-sel terkecil IS sudah bertebaran di kawasan Asia Tenggara.

Mereka membangun kekuatan untuk mewujudkan basis IS di kawasan ini, setelah terdesak di Timur Tengah. Anggota ASEAN lainnya akan terus menyimak kelanjutan langkah pemerintah dan militer Filipina di Mindanao.

Apakah Filipina mampu menggagalkan niat militan Maute dan Abu Sayyaf mendirikan basis IS di Marawi? Itulah pertanyaan di benak para pemimpin ASEAN. Sudah banyak data yang menunjukan sel-sel IS sudah bertebaran di sejumlah negara ASEAN.

Indonesia baru saja dikejutkan ledakan bom bunuh diri terminal bus Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5). Polri menduga pelakunya terkait jaringan Jamaah Anshar Daulah (JAD) yang juga berafiliasi dengan IS.

Sebelumnya, Densus 88 Anti-teror Mabes telah menyergap sejumlah orang atau kelompok yang juga terindikasi sebagai sel-sel IS. Penjelasan resmi otoritas Filipina mengungkap sejumlah WNI bergabung dengan militan Maute dalam upaya menguasai kota Marawi.

Sementara itu, Sabtu (27/5), pihak berwajib Malaysia menangkap enam pria berkewarganegaraan Malaysia yang diduga terkait dengan IS. Dalam pertempuran di Marawi, ada warga Malaysia yang bergabung dengan militan Maute.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak pernah mengingatkan bahwa IS merupakan ancaman nyata bagi negaranya. Pada bulan Agustus 2016, Polri menangkap enam terduga teroris yang terkait dengan IS. Mereka berencana melancarkan serangan ke hotel Marina Bay di Singapura.

April 2017, Polisi Filipina juga menangkap pasangan suami-istri asal Kuwait di Manila. Berdasarkan informasi yang diberikan otoritas Kuwait, keduanya diduga simpatisan IS. Apalagi, keduanya bepergian ke Filipina Selatan.

Bencana Kemanusiaan

Semua kegiatan sel-sel IS di kawasan ASEAN itu merupakan rangkaian proses persiapan mewujudkan basis di Asia Tenggara. Upaya menjadikan Indonesia sebagai basis makin sulit karena para simpatan IS terus diburu. Apalagi, Polri dan TNI telah melumpuhkan Santoso alias Abu Wardah, sosok yang memimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Karena ruang geraknya di Indonesia makin kecil, militan Maute dan Abu Sayyaf mencoba menjadikan kota Marawi sebagai basis.

Di Timur Tengah, IS terus terdesak akibat gempuran militer dari negara-negara barat. Para anggota IS tidak lagi pergi ke Afrika. Mereka memilih datang ke Asia Tenggara, dan langsung bergabung dengan kelompokkelompok militan lokal yang selama ini berafiliasi dengan IS.

Karena itu, tidak mengherankan jika dalam waktu singkat, aktivitas dan sebaran ancaman dari sel-sel IS di kawasan ini semakin tinggi intensitasnya Indonesia, Filipina dan anggota ASEAN lainnya mau tak mau harus all outmenggagalkan niat IS mewujudkan basisnya di kawasan ini.

Sekali lagi, ISIS tidak lagi sekadar berencana, tetapi sudah sampai pada tahapan upaya merealisasikan rencana itu.

Penjelasan sangat gamblang tentang langkah-langkah IS itu tergambar dari serangan militan Maute dan Abu Sayyaf dalam upaya menguasai kota Marawi dan kemampuan tempur mereka menghadapi militer Filipina.

Khusus mengenai ancaman terhadap Indonesia, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, sudah mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara tujuan pelarian kelompok IS paling aman di dunia. Ia mengimbau semua pihak agar waspada.