Selasa, 23 Mei 2017

Trump dan Visi Arab Saudi 2030

Trump dan Visi Arab Saudi 2030
Musthafa Abd Rahman  ;   Wartawan KOMPAS di Mesir Kairo
                                                          KOMPAS, 22 Mei 2017




                                                           
Hanya kalimat fantastis dan historis yang pantas dialamatkan atas nilai transaksi yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud, Sabtu (20/5), di Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Luar biasa, nilai transaksi tersebut mencapai 280 miliar dollar AS atau-jika dirupiahkan-sekitar Rp 3.733 triliun!

Harian Asharq al-Awsat yang terbit di Jeddah dan London menyebut, transaksi fantastis itu merupakan Visi Kemitraan Strategis Masa Depan AS-Arab Saudi. Transaksi fantastis itu disebut mencakup kesepakatan alih teknologi canggih, terutama di bidang teknologi informasi dan militer, pembangunan infrastruktur, energi, dan jasa keuangan.

Stasiun televisi Al Jazeera juga menyebut, AS-Arab Saudi menandatangani transaksi kerja sama militer senilai 460 miliar dollar AS. Dari transaksi itu, 110 miliar dollar AS merupakan transaksi yang sudah berjalan, sedangkan nilai 350 miliar dollar AS lainnya merupakan transaksi kerja sama untuk masa 10 tahun mendatang.

Nilai historis transaksi yang ditandatangani Trump-Raja Salman itu bisa disebut setara dengan kesepakatan historis yang dicapai dalam pertemuan antara pendiri negara Arab Saudi, Raja Abdulaziz al-Saud, dan Presiden AS Franklin D Roosevelt di atas kapal perang AS USS Quincy di Laut Tengah tahun 1945.

Kesepakatan Abdulaziz dan D Roosevelt saat itu berupa transaksi minyak dengan imbalan keamanan (Oil for Security Formula). Dalam kesepakatan itu, AS menjamin keamanan Arab Saudi dengan imbalan Arab Saudi harus menjamin aliran minyak murah ke jaringan industri di AS.

Kesepakatan Abdulaziz dan D Roosevelt tersebut merupakan titik balik sejarah negara Arab Saudi, karena tidak hanya berandil besar melanggengkan negara yang didirikan tahun 1932 itu, tetapi juga mengantarkan negara Arab Saudi meraih kejayaan, seperti yang dicapai saat ini.

Transaksi Trump-Raja Salman tersebut bisa merupakan titik balik sejarah negara Arab Saudi yang kedua setelah transaksi Abdulaziz dan D Roosevelt. Sebab, transaksi Trump-Raja Salman itu bisa menjadi amunisi terbesar dalam mewujudkan Visi Arab Saudi 2030 yang berpijak pada konsep ekonomi nonmigas.

Faktor ekonomi

Jika melihat nilai transaksi fantastis Trump-Salman itu, menjadi wajar, bahkan suatu keniscayaan, bahwa Arab Saudi merupakan negara pertama yang dikunjungi Trump dalam lawatan pertama ke luar negeri sejak dilantik sebagai presiden AS pada akhir Januari lalu.

Dengan kata lain, latar belakang yang mendorong Trump memilih Arab Saudi sebagai negara pertama yang dikunjungi bukan semata isu terorisme, melainkan faktor yang lebih besar, justru mungkin isu ekonomi.

Bisa jadi sudah tercipta kesepahaman tak tertulis Trump-Raja Salman, berupa jaminan AS atas keamanan Arab Saudi dari ancaman teroris dan ekspansi Iran, dengan imbalan AS mendapat kue terbesar dari Visi Arab Saudi 2030.

Visi Arab Saudi 2030 memang merupakan magnet luar biasa bagi negara-negara berkekuatan ekonomi raksasa, sekelas AS, China, Inggris, Jerman, dan Jepang.

Negara-negara tersebut akhir-akhir ini terlibat pertarungan sengit untuk memperebutkan kue Visi Arab Saudi 2030, terutama porsi saham 5 persen Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia, yang 5 persen sahamnya akan dilepas melalui penjualan saham perdana (IPO) tahun depan.

China telah berhasil meraih transaksi raksasa di berbagai sektor dengan Arab Saudi senilai 65 miliar dollar AS ketika Raja Salman berkunjung ke Beijing pada Maret lalu. Jika melihat nilai transaksi fantastis Trump-Raja Salman saat ini, bisa dipastikan AS telah mendapat kue terbesar dalam proyek ambisius Arab Saudi, yaitu Visi Arab Saudi 2030.