Kamis, 25 Mei 2017

Aku Tua Maka Aku Pintar

Aku Tua Maka Aku Pintar
Iqbal Aji Daryono  ;  Praktisi Media Sosial, dan suka menulis di mana saja;
Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                      DETIKNEWS, 23 Mei 2017



                                                           
"Pak, Bapak tahu enggak kalau ayam itu sebenarnya dinosaurus?"

Hoahaha! Saya langsung ngakak mendengar candaan Hayun. Anak saya itu baru masuk kelas satu waktu bertanya demikian, dan saya menduga dia habis dapat cerita aneh-aneh dari temannya.

Namun tak dinyana, Hayun langsung protes keras mendengar tawa mengejek yang keluar dari mulut saya. "Beneraaaaan! Bapak pasti nggak tahuuu!" dia pun mulai emosi.

Segera saya tenangkan dia. Saya elus-elus kepalanya dan bicara pelan, lebih kurang, "Sudaaah, jangan marah. Mungkin kamu pingin Bapak mengalah. Tapi kalau memang yang kamu katakan itu salah, ya Bapak akan bilang itu salah. Kan Bapak pernah sekolah lama juga, sudah belajar banyak juga...."

Hayun tetap tidak terima. Dia ngambek. Sementara, saya tetap kokoh pada pendirian saya. Bagaimana pun saya hidup 29 tahun lebih lama ketimbang dia. Saya pernah belajar Biologi dengan sangat serius, karena guru Biologi saya semasa SMP terkenal menyeramkan. Belum lagi waktu kecil, banyak obrolan ilmu alam saya dapatkan pula dari mendiang ayah saya yang juga guru Biologi. Saya lumayan percaya diri untuk soal ini.

Hingga kemudian iseng-iseng saya buka Google. Saya ketik deretan kata "chicken is dinosaurs". Lalu tombol search saya klik.

Dan... astaga! Yang terpampang di hadapan saya adalah deretan artikel serius dengan judul semacam "Chicken are Closely Related to Dinosaurs", "How Dinosaurs Shrank and Became Birds", dan sebagainya. Saya baca sekilas, dan isinya memang menyatakan bahwa menurut riset-riset palaeoantropologi, ayam merupakan cicit-evolusi dari dinosaurus. Dengan kata lain, benar kata Hayun, bahwa pada dasarnya ayam adalah dinosaurus!

Panik, saya pun segera meminta maaf kepada Hayun. Khawatir sekali rasanya, jangan-jangan anak saya mengalami "keputusasaan intelektual", gara-gara arogansi orangtuanya yang sok tahu.

Begitu dia mendengar permintaan maaf saya, sambil merengut dia kasihlah gong itu. "Ya kaaan? Grown up nggak selalu lebih tahu daripada kids kaaan?"

Jleb banget saya rasakan kalimat itu. Sebelumnya saya ngotot lebih benar karena merasa, ehm, sudah cukup kenyang makan asam garam kehidupan. Tapi kemudian anak saya memukul telak dengan kalimat bahwa orang dewasa tidak selalu lebih tahu ketimbang anak-anak. Hahaha. Sialan.

Begitulah. Ini sebenarnya pengetahuan klasik saja, bahwa lamanya seseorang dalam menjalani kehidupan tidak otomatis berbanding lurus dengan kepintarannya. Secara rasional kita semua sangat paham soal itu. Namun di bawah sadar, acapkali muncul rasa gengsi. Gengsi untuk mengakui bahwa usia kita yang berjalan sebegini jauh ternyata tidak mampu menjadi jaminan atas jauhnya pula perjalanan dalam kekayaan pengetahuan.

Mungkin contoh cerita yang saya sampaikan terlalu ekstrem, yakni antara bapak dan anaknya sendiri. Agaknya itu pun saya pilih lebih karena saya gengsi mengakui bahwa teman-teman saya, dengan usia mereka yang lebih muda dari saya, banyak sekali yang jauh lebih pintar dari saya. Perasaan tidak rela semacam itu selalu muncul. Saya lebih tua, kok saya bego?

Padahal, andai hanya dengan menjadi tua saja manusia langsung pintar dengan sendirinya, maka sudah pasti intelektual paling moncer di Indonesia bukanlah Soedjatmoko atau Habibie, melainkan Mbah Gotho dari Klaten. Beliau hidup sampai umur 140 tahun, lahir pada masa penutupan Tanam Paksa, dan meninggal baru beberapa waktu lalu.

Sayangnya, usia tidak pernah menjadi jaminan keluasan pengetahuan. Ada banyak sekali orang yang umurnya panjang tapi tidak punya kesempatan untuk mempelajari banyak hal. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang punya kesempatan untuk belajar banyak, menemukan peluang yang banyak, tapi lebih suka bermalas-malasan. Kalau yang itu saya sendiri cocok jadi contohnya.

Untuk itulah, karena menjadi tua tidak menjamin apa-apa, seharusnya kita menyingkirkan faktor usia dalam aktivitas-aktivitas dialektika yang tak henti kita jalankan di zaman kejayaan media sosial ini. Begitu, bukan?

Hehehe, di antara Anda pasti ada yang langsung paham ke mana arah obrolan saya. Anda benar sekali. Jujur saja saya sangat terganggu dengan keriuhan hari-hari ini antara dua orang selebritas dunia maya. Yang satu masih SMA, yang lain sedang studi master di luar negeri. Saya tidak sepenuhnya setuju pandangan Si Adek SMA, meski jauh lebih tidak sejalan dengan cara Mas Master dalam memandang objek dan konteks perdebatan.

Meski demikian, yang paling mencuri perhatian saya justru gaya tulisan Mas Master yang terasa sekali mengunggulkan senioritasnya. Dalam tulisan pendeknya, tampak bejibun ungkapan-ungkapan seperti: "Adek belum tahu? Makanya Kakak kasih tahu."; "Buka mata dan jadilah orang dewasa dek"; "Makanya banyak baca dek, mumpung masih muda."; "Adek kayaknya beneran nggak tahu ya...."

Buat saya, itu menggelikan. Sudah jelas ada masalah yang dibahas. Ada data yang diadu. Ada alur logika yang diperlawankan. Kenapa kita tidak bisa berkonsentrasi pada sisi-sisi itu, sehingga bisa terbangun suasana diskusi yang asyik, yang menantang kecerdasan, dan bisa sama-sama dijadikan ajang belajar oleh siapa pun yang menyimaknya?

Lebih jauh lagi, ungkapan-ungkapan bernuansa seniorisme semacam itu sesungguhnya bentuk lain dari argumentum ad hominem. Memang benar, bahwa semua celetukan itu bukan bagian dari konstruksi yang membangun argumen, bukan pula peluru untuk meruntuhkan pendapat lawan. Namun dengan tonjokan-tonjokan bernada ganjil demikian, seolah si penulis sedang mengatakan, "Halah kamu tahu apa sih, anak kecil belajarnya baru seupil. Aku lebih tua, jadi aku sudah pasti lebih ngerti."

Persis di titik itulah yang terjadi tak lebih dari serangan personal, usaha mengalahkan (atau meneror?) lawan debat dengan cara menembak sisi yang tak ada kaitannya sama sekali dengan topik diskusi.

Sebenarnya, ada banyak kasus lain semacam ini yang kerap kita jumpai. Ungkapan seperti "Ngaji dulu sonooo!"; "Sekolah yang beneeer!"; sesungguhnya tak lebih dari serangan personal, tradisi yang sangat buruk dalam bertukar pendapat.

Saat saya menulis ini pun, aduh, saya mati-matian menahan diri untuk tidak menyerang sisi pendidikan Si Mas Master. Misalnya dengan mengatakan "Percuma sekolah tinggi sampai ke luar negeri" atau yang begitu-begitu. Bisa-bisa, ucapan demikian pun jadi bentuk lain dari ad hominem.

Yang saya kritik adalah gaya dia dalam glorifikasi senioritas. Saya tidak perlu menyerang sisi personalnya, yaitu pendidikan dia. Toh, pendidikan formal pun kadangkala bukan jaminan apa-apa.