Minggu, 28 Mei 2017

Muhammadiyah pun Melakukan Rukyat

Muhammadiyah pun Melakukan Rukyat
Agus Mustofa ;   Inisiator Astrofotografi Indonesia; 
Penulis buku ’’Mengintip Bulat Sabit sebelum Maghrib’’
                                                        JAWA POS, 26 Mei 2017



                                                           
TIGA hari menjelang Ramadan 1438 H saya memperoleh tembusan surat edaran yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Isinya adalah ajakan kerja sama kepada tim astrofotografi untuk melakukan observasi astronomi menjelang Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Sungguh ini sebuah langkah maju yang menggembirakan. Sebab, selama ini, dalam menentukan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, Muhammadiyah selalu mendasarkan ketetapannya kepada hisab hakiki dengan metode wujudul hilal. Tetapi, tahun ini agak berbeda. Selain mengumumkan penetapan melalui metode hisab hakiki, Muhammadiyah melakukan rukyat. Ya, rukyat dengan menggunakan peralatan astrofotografi yang saya perkenalkan ke publik Indonesia sejak 2014.

Ini tentu sangat menarik. Sekaligus menggembirakan umat Islam yang merindukan penyatuan metode hisab-rukyat dalam menetapkan awal bulan Hijriah di Indonesia. Sebab, ini bukan sekadar diskusi pinggiran atau obrolan informal. Melainkan surat resmi yang ditandatangani oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pengurus Pusat Muhammadiyah Prof Dr Syamsul Anwar MA.

Isi surat edaran itu penugasan dan ajakan kerja sama kepada sejumlah tim pengamat hilal dengan menggunakan teknik astronomi modern, memanfaatkan peralatan astrofotografi. Ada delapan lokasi yang akan dijadikan tempat pengamatan, yaitu Jogjakarta, Jakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Gresik, Purwokerto, dan Medan.

Tentu saya amat gembira menyambut berita ini. Sebab, ini sebuah langkah maju untuk menyelesaikan dualisme hisab-rukyat yang selama ini membebani umat Islam Indonesia. Lima di antara delapan lokasi itu bekerja sama dengan tim astrofotografi, lengkap dengan peralatan teleskop ala Thierry Legault.

Thierry Legault adalah pemegang rekor dunia yang berhasil memotret bulan sabit pada siang hari, saat terjadinya ijtimak alias konjungsi pada 2013. Praktisi astrofotografi Prancis itu dua kali saya undang ke Indonesia untuk menularkan ilmunya kepada sejumlah praktisi rukyat Indonesia dari berbagai ormas keagamaan dan lembaga astronomi yang berminat mendalami teknik modern tersebut untuk kepentingan rukyatulhilal.

Ada delapan peralatan yang saya beli darinya dan kemudian saya hibahkan kepada sejumlah tim astrofotografi didikan Thierry. Selama tiga tahun terakhir delapan tim tersebut terus mengasah kemampuan astrofotografi dengan harapan suatu saat skill mereka dibutuhkan oleh pemerintah atau lembaga keagamaan dalam penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah yang sering terjadi perbedaan itu.

Keputusan Muhammadiyah melakukan rukyat tahun ini, menurut saya, adalah keputusan besar dan strategis. Kini tidak ada lagi barrier yang membatasi antara hisab dan rukyat, yang dahulu terasa sangat rigid. Walaupun, saya melihat masih ada beberapa masalah yang berkaitan dengan perbedaan metode. Tetapi, itu cuma masalah ’’teknis’’ yang jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan masalah ’’psikologis’’ yang selama ini menghadang. Dan tak jarang lantas merambah ranah politis yang semakin rumit.

Ungkapan dalam surat edaran tersebut, yang melatarbelakangi keputusan hisab-rukyat itu, pun terasa menyejukkan dan mendasar. Karena itu, gemanya akan jauh ke masa depan sebagai sebuah kebijakan yang bersifat jangka panjang dari Muhammadiyah. Di antaranya, saya kutipkan berikut ini.

’’Dalam astronomi modern, perhitungan dan pengamatan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Ini disebabkan formulasi ilmu hisab yang ada sekarang didapatkan dari hasil pengamatan dalam waktu yang panjang. Selain itu, Muhammadiyah melalui perguruan tinggi yang telah memiliki pusat kajian astronomi perlu menggiatkan kegiatan observasi hilal guna melengkapi dan mendukung hisab yang selama ini dipedomani.’’

Alhamdulillah, satu langkah besar untuk menyatukan hisab dan rukyat telah dilakukan. Berikutnya adalah upaya terus-menerus untuk menyamakan metode penetapan awal bulan Hijriyah berdasar kepada perpaduan hisab dan rukyat dengan berbasis pada pengamatan-pengamatan astrofotografi. Bukan hanya menunggu datangnya hilal saat matahari tenggelam, melainkan juga melakukan pemotretan-pemotretan hilal di siang hari.

Sebab, salah satu keistimewaan peralatan astrofotografi ini adalah kemampuannya memotret bulan sabit tipis pada siang hari. Justru karena hal itu, Thierry Legault dinobatkan sebagai pemegang rekor dunia. Semoga Allah memberkati langkah penyatuan hisab-rukyat ini. Dan melimpahkan rahmat yang besar untuk umat Islam Indonesia maupun di seluruh dunia. ●