Senin, 29 Mei 2017

Semoga Masih Ada Napas Sampai Ramadan

Semoga Masih Ada Napas Sampai Ramadan
Candra Malik  ;   Budayawan Sufi
                                                      DETIKNEWS, 24 Mei 2017



                                                           
Ramadan memang sebentar lagi tiba. Namun, kita belum tentu sampai ke sana, ke bulan suci puasa itu, termasuk saya. Ajal adalah rahasia terbesar dalam hidup. Adakah yang tahu kapan ia akan wafat?

Pernah suatu ketika saya bertanya pada para peserta kelas meditasi yang saya asuh. "Apa yang sesungguhnya paling kita butuhkan di dunia ini?" Aneka jawaban muncul, dan tak berlebihan jika ada yang menjawab: kebahagiaan. Ya, siapa yang tidak membutuhkan kebahagiaan?

Lalu, ada seorang perempuan yang menyodorkan jawaban yang berbeda dari orang kebanyakan. Jawaban yang saya punya ternyata juga ia miliki. "Napas!" Ah, betapa benar jawaban ini. Napas!

Tanpa napas, kita niscaya mati. Oleh karena itulah, Allah dalam Al Quran menyandingkan napas dengan ajal, jiwa dengan maut, diri dengan kematian. Ayat 35 dari Surat Al Anbiya ini sungguh terkenal, yaitu "kullu nafsin dzaaiqatul maut." Tanpa napas, tamatlah kita.

Namun, ternyata tidak setiap orang sadar bahwa dirinya sedang bernapas. Atau, tidak setiap orang bernapas dengan kesadaran. Sejak dilahirkan, kita mulai bernapas begitu saja. Tak setiap dari kita belajar ilmu bernapas. Ilmu pernapasan.

Kita baru ngeh terhadap napas ketika ngos-ngosan atau napas tersengal-sengal; baik karena olah raga atau karena sedang naik pitam. Kita baru merasa napas itu penting ketika keadaan darurat. Segala upaya diusahakan, entah itu pernapasan buatan dari mulut ke mulut atau dari selang oksigen ke lubang hidung.

Saya kok ragu ada yang secara verbal berdoa meminta napas kepada Allah. Padahal, jika Allah tidak mengaruniakan napas sesaat saja, niscaya kita megap-megap. Betapa napas adalah karunia yang teramat besar bagi kita, namun ternyata kita lalai untuk mensyukurinya.

Bulan Ramadan sudah mendekat, namun belum tentu kita tidak menjauh darinya. Menjauh? Ya, menjauh. Allah memanggil orang-orang beriman untuk memenuhi kewajiban berpuasa, namun tidak setiap kita memenuhi panggilan itu. Jika pun berpuasa, acapkali kita berpuasa untuk memenuhi panggilan kita sendiri.

Jelas-jelas diamanatkan dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa, "Setiap amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalas ganjarannya," namun terang-terangan kita memperlihatkan betapa puasa ini untuk kita sendiri.

Dari mulai menu sahur hingga menu buka puasa, tabiat yang menuntut dihormati karena sedang berpuasa, tingkat konsumsi yang justru meninggi di bulan yang seharusnya lebih ekonomis itu, hingga puncaknya yang berupa aneka hal-hal baru yang diada-adakan atas nama perayaan Lebaran, menunjukkan betapa puasa kita masih untuk kita sendiri. Bukan untuk Allah.

Dinamika penetapan 1 Ramadan yang mungkin saja berlainan, selisih pandang tentang jumlah rakaat dalam Tarawih, beragam komentar soal toa masjid ketika tiba waktu salat, beda pendapat mengenai apakah mereka yang berbeda agama juga berhak mendapat zakat, hingga penetapan 1 Syawal, sebaiknya dimaknai sebagai ikhtiar masing-masing dari kita dalam mempersembahkan puasa untuk Allah. Tak perlu bertengkar.

Mumpung masih ada napas, mari kita berdoa masih diberi napas hingga dapat memasuki Bulan Ramadan dan tulus berpuasa. Bahkan tanpa perlu menunggu bulan suci itu benar-benar datang, kita pun bisa mensyukuri setiap tarikan dan embusan napas dengan merasukkan zikir di dalamnya.

Semoga Masih Ada Napas Sampai RamadanIlustrasi: Edi Wahyono
Bagi saya, Ramadan adalah salah satu di antara sekian banyak bukti betapa Islam itu rahmatan lil 'alamin. Bacalah sekali lagi Surat Al Baqarah ayat 183 yang selalu kita kutip di bulan malam seribu bulan itu. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa."

Spesifik Allah memanggil siapa pun yang beriman, dan kita sama-sama tahu bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Jadi, jika Anda kumur-kumur saja, atau membasuh muka, apalagi sampai mandi, yang adalah untuk menjaga kebersihan, maka Allah memberikan kewajiban berpuasa itu kepada Anda --tentu ini tak berlaku bagi perempuan yang sedang berhalangan.

Dan, lebih dari itu, puasa adalah tradisi. Lebih tepatnya lagi layak disebut tradisi kebaikan. Sinyalemen itu muncul dari kalimat "sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian". Ya, Allah memerintahkan kepada siapa pun yang beriman untuk melestarikan tradisi kebaikan untuk mencapai ketakwaan.

Secara pribadi, saya mengartikan takwa sebagai kesadaran penuh dalam setiap napas. Senantiasa menghirup dan mengembus napas dalam keadaan ingat kepada Allah, dan selebihnya --tentu saja-- berikhtiar mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya selama napas masih dikandung badan. Semoga, kali ini kita berhasil mencapai tujuan berpuasa yaitu agar kita bertakwa. Marhaban ya Ramadan.