Kamis, 11 Mei 2017

PII dan Wajah Pelajar Kita

PII dan Wajah Pelajar Kita
M Anwar Djaelani  ;   Aktivis di saat pelajar dan mahasiswa;  
Penulis buku ’’50 Pendakwah Pengubah Sejarah’’
                                                        JAWA POS, 08 Mei 2017



                                                           
’’STUDENT today, leader tomorrow’’ adalah ungkapan populer dan memiliki banyak bukti. Maka, kapan pun perkembangan pelajar harus kita cermati. Terkait ini, ketika pekan lalu Pelajar Islam Indonesia (PII) genap berumur 70 tahun, menarik jika kita ’’menengok’’-nya dan lalu menyandingkannya dengan kondisi pelajar sekarang.

Wajah Pelajar Kehadiran sebuah organisasi pasti tak terlepas dari situasi yang melatarbelakanginya. Di masa lalu, pengaruh pendidikan penjajah memiliki bekas negatif di banyak pelajar. Terasakan bahwa hasil pendidikan (lewat berbagai modus) berhasil menjauhkan pelajar Islam dari roh Islam dan jiwa kebangsaan.

Atas situasi itu, pemuka Islam berusaha membentengi umat dan terutama generasi muda dengan mendidiknya lewat pesantren.

Tak lama setelah Indonesia merdeka terbit persoalan baru: Ada jurang pemisah antara pelajar umum (hasil didikan pola Belanda) dan pelajar Islam (buah didikan pesantren). Lalu, lahirlah gagasan untuk mendirikan organisasi pelajar sebagai upaya menutup jurang pemisah itu. Maka, di Jogjakarta pada 4 Mei 1947 Pelajar Islam Indonesia (PII) lalu didirikan.

Sejak tanggal itu, momentum tersebut dijadikan sebagai Hari Kebangkitan PII. Istilah ’’bangkit’’ didasari fakta bahwa kehadiran PII dipicu oleh kesadaran para pelajar Islam.

Apa tanggung jawab pemuda-pelajar? Tentang itu bisa ditemukan di tujuan PII. Bahwa, organisasi ini berusaha mewujudkan ’’Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam untuk segenap rakyat Indonesia dan umat manusia’’. Tampak PII peduli kepada semua hal yang mendorong kepada terbinanya pendidikan secara sempurna.

Sementara, menurut Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan itu bertujuan utama membentuk manusia yang beradab. Adab, kata Al-Attas, adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Hasil tertingginya, mengenal Allah dan beramal saleh pada tahap ihsan.

Orang beradab tahu yang hak dan yang batil. Maka, di pentas sejarah, lihatlah kontribusi PII dalam beramar makruf nahi mungkar. Berikut sekadar menyebut dua kontribusi besar PII.

Pada 1966 Indonesia bergolak. Rakyat menentang rezim Orde Lama. Di antara elemen perjuangan masya- rakat yang berperan sangat penting ketika itu adalah Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Di KAPPI –antara lain– bergabung PII (Pelajar Islam Indonesia). Sementara, di KAMI –antara lain– bergabung HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Kita tahu, hasil gerakan itu adalah tumbangnya Orde Lama.

Bagaimana situasi pelajar kini? Secara umum, banyak yang prihatin dengan perkembangan pelajar kita. Sisi-sisi negatif dari pelajar mencuat seperti berita ’’antar pelajar tawuran’’, ’’pelajar bacok guru’’, ’’pelajar arisan seks’’, atau ’’pelajar terlibat kasus narkoba’’. Tapi, apakah semua pelajar?

Pada 31 Maret 2017 sebuah media massa menurunkan hasil penelitian agama bertema ’’Transmisi NilaiNilai Keagamaan Melalui Organisasi Rohis’’. Di antara hasil penelitian dari Balai Litbang Agama Semarang itu menyebutkan bahwa pelajar mengidolakan Habib Rizieq Sihab dan Ustad Bachtiar Nasir. Dua nama itu menempati ranking tertinggi dalam daftar tokoh-tokoh idola para pengurus unit kegiatan sekolah kerohanian Islam (rohis) di beberapa SMA negeri favorit atau unggulan di Jawa Tengah dan DIJ.

Temuan itu menarik. Pertama, respondennya adalah pengurus rohis dari SMA negeri favorit. Asumsinya, responden adalah representasi dari pelajar-pelajar Islam. Asumsi lain, level intelektualitas responden di atas rata-rata sehingga pendapat mereka tentu sudah melewati pertimbangan yang rasional dan matang.

Kedua, tampak bahwa responden adalah pelajar yang aktif mengikuti perkembangan masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya. Mereka tampaknya tahu persis peran sentral Rizieq Sihab dan Bachtiar Nasir dalam menggerakkan jutaan orang di Aksi Bela Islam 411 dan 212 menuntut dipenjarakannya oknum penista agama. Hai PII, Halo Pemerintah! PII telah berusia 70 tahun. Sejarah telah ditorehkan dan insya Allah masih akan panjang catatannya. Dari PII telah lahir banyak tokoh bangsa. Sekadar menyebut, mereka antara lain adalah Jusuf Kalla (wakil presiden), Muhadjir Effendi (menteri pendidikan dan kebudayaan), Soetrisno Bachir (ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional –KEIN, sekarang), Abdul Malik Fadjar (mantan menteri agama).

Rasanya, para tokoh nasional yang disebut itu akan seragam berkesaksian bahwa kesuksesan yang mereka raih karena –antara lain– mereka pernah dibesarkan oleh PII. Lewat PII, mereka dikader untuk selalu tanggap memikirkan sekitar, cerdas dan kreatif mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang dihadapi, serta dapat memimpin organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya.

Alhasil, pertama, dengan berbagai prestasinya, semoga PII tetap eksis dan bersemangat dalam mewarnai dunia pelajar di negeri ini. Kedua, kepada pemerintah, patut untuk menciptakan situasi sedemikian rupa organisasi ekstra sekolah semisal PII mendapat kemudahan untuk berkiprah di sekolah-sekolah dalam mewujudkan ’’Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam untuk segenap rakyat Indonesia dan umat manusia’’.