Jumat, 23 Maret 2018

Guru Kurang Piknik

Guru Kurang Piknik
Khoiruddin Bashori  ;   Psikolog Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta
                                              MEDIA INDONESIA, 19 Maret 2018



                                                           
PIKNIK adalah kata dalam bahasa Inggris yang berarti tamasya, darmawisata, bepergian untuk bersenang-senang. Namun, 'kurang piknik' merupakan istilah ejekan kepada sahabat yang kuper, kurang pergaulan. Mereka yang tidak nyambung ketika diajak berdiskusi juga biasa mendapatkan julukan ini.

Meski kini istilah itu tidak lagi banyak dipergunakan dalam bercakapan sehari-hari, bukan berarti kehilangan relevansi dengan persoalan kekinian dunia pendidikan. Di saat guru kini memiliki tugas yang sedemikian sarat beban, mengharap mereka untuk mengadakan 'petualangan intelektual' seperti menggantang asap, mengukir langit.

Padatnya tugas guru, apakah karena tuntutan administrasi persiapan mengajar, atau banyaknya mata pelajaran yang harus diampu agar tunjangan sertifikasi tetap diperoleh, sering kali menjadi alasan kurang optimalnya upaya pengembangan diri guru. Padahal, pada kenyataannya bekal pendidikan formal yang telah dimiliki guru, ditambah aneka ragam pengalaman selama menjadi pendidik, belum cukup mengantarkan anak didik mengembangkan potensi diri seperti yang diharapkan. Diperlukan program pengembangan kapasitas secara lebih sistematis dan terstruktur agar pengelolaan pendidikan memperoleh peningkatan signifikan.

Pengembangan kapasitas

Pengembangan kapasitas guru merupakan upaya berkelanjutan yang dilakukan guru bersama sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan untuk terus mengembangkan diri menuju kualitas idealnya sebagai guru profesional yang dapat menginspirasi pencapaian prestasi optimal peserta didik.

Dinamika perubahan yang sedemikian cepat dan kebutuhan standar kualitas yang tinggi menyebabkan guru sangat perlu, lebih dari waktu-waktu sebelumnya, menyesuaikan diri dan terus memperbaiki keterampilan yang dimiliki melalui program pengembangan kapasitas pembelajaran.

Menurut Craft (2000), pengembangan kapasitas tidak lain dimaksudkan untuk, pertama meningkatkan keterampilan kinerja seluruh staf. Kedua, memperbaiki ketrampilan kinerja setiap guru. Ketiga, memperluas pengalaman guru agar kariernya berkembang dan mendapatkan promosi. Keempat, mengembangkan pengetahuan dan pemahaman profesional setiap guru. Kelima, memperluas bekal kependidikan guru. Keenam, membuat staf merasa lebih berharga. Ketujuh, meningkatkan kepuasan kerja. Kedelapan, mengembangkan cara pandang yang lebih baik terhadap pekerjaan. Kesembilan, membantu guru mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan. Ke-10, memperjelas kebijakan sekolah dan kementerian. Pada akhirnya muara keseluruhan kegiatan pengembangan kapasitas guru ialah peningkatan hasil belajar siswa.

Sebenarnya terdapat sejumlah metode untuk meningkatkan profesionalisme guru, antara lain penelitian tindakan, belajar mandiri, penggunaan materi-materi pembelajaran jarak jauh, mengikuti program pendampingan, mentoring atau pembinaan, kursus dalam jangka waktu tertentu baik di dalam maupun di luar sekolah. Termasuk, magang dan rotasi pekerjaan, jejaring sebaya, terlibat dalam kelompok kerja bersama atau satuan tugas tertentu yang biasa disebut dengan istilah professional learning teams.

Selanjutnya, kegiatan bersama antarsekolah yang berisi kerja sama dalam pengembangan dan sharing pengalaman dan keterampilan, pertukaran guru dan staf, refleksi personal, dan experiential assignments. Lalu, belajar bersama dan lewat media IT melalui diskusi kelompok dalam surat elektronik, atau belajar mandiri menggunakan sumber-sumber multimedia online (Bashori dkk, 2016).

Apa pun bentuk pengembangan kapasitas yang dipilih guru agar efektif, menurut Bandura (2001), hendaknya berorientasi pemecahan masalah. Memberi peluang bagi guru untuk bekerja sama dengan mereka yang lebih ahli, memfasilitasi munculnya inovasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, praktik mengajar, dan teknologi yang dapat mendukung hal ini serta memungkinkan guru mencoba dan mengasah keterampilan dan strategi mengajar yang baru, mempromosikan penciptaan dan berbagi sumber daya dengan maksud meningkatkan hasil belajar siswa, dan memungkinkan berlangsungnya refleksi bertujuan dan diskusi berkelanjutan.

Sejatinya yang paling mengetahui kebutuhan pengembangan kapasitas guru ialah guru sendiri, pada aspek-aspek apa saja yang bersangkutan yang perlu dikembangkan secara lebih bersungguh-sungguh. Menurut Hargreaves (2000), pengembangan profesionalisme guru memang dapat dilakukan melalui sejumlah peraturan. Namun, untuk dapat mempertahankan dan mengajarkan profesionalisme secara lebih berkelanjutan, sangat ditentukan partisipasi guru itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menjadi guru profesional yang inspiratif, pendidik harus berpartisipasi dalam proses pembelajaran sepanjang hayat.

Piknik virtual

Memang tidak mudah menjadi guru inspiratif sekarang ini. Bukan saja mereka dituntut memiliki integritas tinggi, melainkan juga banyak akal, kaya bahan ajar, dan mampu menyampaikannya dengan sangat variatif.

Di lapangan, fakta yang acap kali kurang disadari guru ialah perbedaan sangat mencolok antara siswa zaman old dengan siswa zaman now. Dulu siswa memiliki pengalaman belajar terbatas dan kurang variatif. Kini anak dimanja berbagai fasilitas yang dapat memberikan pengalaman belajar lebih beragam. Akibatnya kebutuhan mereka akan variasi sedemikian tinggi.

Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa siswa kini menjadi lebih cepat bosan jika berinteraksi dengan guru monoton. Mereka lebih mengapresiasi guru yang kaya perspektif dan mampu mengajar dengan aneka cara beragam yang menyenangkan.

Untungnya, guru zaman now tidak selalu harus melakukan petualangan intelektual secara fisik, dengan mengunjungi tempat-tempat yang dapat memberikan inspirasi baru, tetapi mereka kini dapat melakukannya secara virtual. Dulu piknik selalu diasosiasikan pergi mengunjungi suatu tempat. Kini tempat itu dapat berarti situs internet. Perkembangan teknologi informasi memang telah menyajikan surga dunia bagi para petualang. Berselancar di dunia maya-virtual tidak kalah seru jika dibandingkan dengan studi banding konvensional. Malah piknik virtual dapat lebih memberi rangsangan imaji tak terduga.

Dengan tersedianya fasilitas belajar secara virtual, guru memiliki lebih banyak kesempatan menambah wawasan dan melakukan refleksi terhadap setiap pengetahuan baru, dikaitkan dengan persoalan-persoalan nyata yang mereka hadapi di kelas masing-masing.

Saat ini di dunia maya terdapat sejumlah alamat situs yang dapat dengan mudah diakses guru untuk mempelajari apapun yang guru perlukan. Terdapat pula sejumlah COP (community of practice), komunitas praktisi, dan akademisi pendidikan, yang dengan suka rela berkenan sekadar sebagai teman berdiskusi mengenai persoalan-persoalan kependidikan, bahkan untuk menjadi mentor sekali pun.

Pada akhirnya diperlukan keberanian guru untuk mengunjungi daerah-daerah baru yang belum pernah dijelajahi. Guru pembelajar, secara berkelanjutan, hendaknya dapat mengoptimalkan diri belajar secara daring, baik dari guru di sekolah lain bahkan dari mereka yang berdomisili di luar negeri, atau dari sumber-sumber belajar yang dengan leluasa dapat diunduh gratis. Lewat dunia virtual guru dapat mempertajam minat-minat khususnya yang tidak terwadahi dalam agenda resmi pengembangan kapasitas guru yang disediakan sekolah. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar