Kamis, 29 Maret 2018

Paskah dan Compassio

Paskah dan Compassio
Otto Gusti  ;   Dosen Filsafat Politik dan HAM di STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT;  Alumnus Doktor di Hochschule für Philosphie, Muenchen, Jerman
                                              MEDIA INDONESIA, 29 Maret 2018



                                                           
PADA 24 Maret 1980 Oscar Romero, uskup agung dari El Salvador, mati terkapar diterjang peluru aparat militer ketika sedang merayakan ekaristi. Oscar Romero ialah seorang pemimpin agama Katolik di Amerika Latin yang getol membela nasib kaum miskin dan terpinggirkan.

Keberpihakan Oscar Romero

Keberpihakannya pada orang-orang miskin dan tertindas telah mengganggu rezim El Salvador yang korup dan otoriter pada waktu itu. Untuk solidaritas tanpa kompromi itu Oscar Romero harus membayar dengan nyawanya. Di mata para penguasa dunia yang lalim dan tamak, khotbah-khotbah Oscar Romero dianggap sangat provokatif dan berbahaya.

“Saya mengutuk kekayaan, hak milik pribadi sebagai sebuah absolutum yang tak terbantahkan. Awas, jika Anda berani menyentuh pagar tembok gheto orang-orang kaya dengan tegangan listrik tinggi, Anda akan hangus terbakar!" (Jon Sobriono, 2013)

Demikian cuplikan khotbah Oscar Romero mengkritik gaya hidup mewah segelintir orang kaya yang tak peduli terhadap mayoritas rakyat miskin di El Salvador. Mereka ialah orang-orang beragama yang saleh secara ritualistik, tapi minus pertanggungjawaban sosial imannya.

Oscar Romero juga menelanjangi para penguasa politik El Salvador yang menutup mata terhadap penderitaan rakyat dan berlaku kejam terhadap rakyatnya sendiri. "Penguasa memanipulasi masa rakyat sebab mereka membiarkan orang banyak hidup dalam kelaparan. Saya tak akan pernah merasa lelah mengkritik ketidakadilan, penangkapan sewenang-wenang, penghilangan paksa, dan penyiksaan. Kekerasan, pembunuhan, penyiksaan, membunuh orang dan melemparkan ke dalam laut, melempar orang dari pesawat terbang adalah praktik-praktik dalam kerajaan neraka." (Jon Sobrino, 2013)

Untuk sikap profetis dan keberpihakannya terhadap masyarakat El Salvador yang menderita dan diperlakukan secara tidak adil, Oscar Romero akhirnya menemukan ajal secara tragis diterjang peluru aparat militer yang gajinya dibayar dari uang pajak rakyat. Ia yakin bahwa umat Allah menghayati imannya dalam realitas historis, sosiopolitik, dan ekonomi yang penuh pertentangan. 

Beragama dan menghayati iman secara radikal di tengah dunia yang diwarnai penindasan, tipu muslihat, korupsi, dan ketidakadilan sosial akan bermuara pada konsekuensi yang sama seperti Yesus Kristus sendiri yang mati di kayu salib.

Misteri Paskah

Dalam perayaan Paskah umat Kristen sejagat mengenang peristiwa penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus guna membebaskan umat manusia dari belenggu penderitaan dan dosa. Inti dari perayaan Paskah ialah cinta. Cinta yang tanpa pamrih serta mengatasi kebencian dan kematian.

Misteri cinta yang dirayakan dalam peristiwa Paskah tidak bersifat melankolis, tapi politis. Cinta itu mencapai puncaknya dalam peristiwa penyaliban Yesus. Bagi para pemimpin agama dan politik Yahudi pada masa itu, hidup Yesus dianggap sangat provokatif. 

Provokasi Yesus tidak bersifat kategorial, tapi total. Bersifat total karena bertumbuh dari sebuah inkarnasi ke tengah dunia yang dikuasai kejahatan dan kegelapan dosa. Dalam dunia seperti ini tak mungkin Yesus bersikap netral sebab bersikap netral berarti membiarkan kejahatan berkuasa. Atas nama Kerajaan Allah yang berpihak terhadap yang menderita, Yesus beroposisi terhadap kerajaan kekelaman.

Bagi Yesus, pax romana bukan gambaran dunia yang dikehendaki Allah. Yesus senantiasa menentang kekuasaan yang lalim. Maka dalam kacamata hukum yang berlaku masa itu, kematian Yesus bukan kekeliruan. Itu konsekuensi logis dari radikalitas cara hidup dan inkarnasi ke tengah dunia yang bertentangan dengan Kerajaan Allah.

Yesus ialah seorang figur kontroversial, bahkan provokatif. Hidupnya mengganggu kemapanan para penguasa. Maka, ia dibenci dan dihukum mati. Provokasi Yesus tidak bersifat artifisial untuk sebuah pencitraan, tapi eksistensial sebab Yesus atas nama Allah yang membebaskan dan berpihak pada orang-orang miskin membongkar berhala-berhala para ahli taurat, orang-orang farisi, dan kaum saduki.

Compassio

Penyaliban dan kematian Yesus merupakan konsekuensi logis dari cara hidup dan keberpihakan-Nya (compassio) yang radikal kepada orang-orang miskin dan para korban ketidakadillan. Pewartaan dan praksis hidup Yesus adalah ancaman besar bagi para pemimpin agama dan politisi masa itu.

Untuk konteks masyarakat Indonesia yang plural, penderitaan korban dan sikap Yesus yang berpihak pada para korban seharusnya menjadi basis etika hidup bersama. Penderitaan merupakan locus yang mempertemukan pelbagai etnik, ideologi, agama, dan kepentingan yang menempati rumah Indonesia.

Di tengah kondisi bangsa yang kian jauh dari toleransi dan rentan akan kekerasan, narasi penderitaan para korban harus menjadi titik pijak semua agama dan kelompok ideologis untuk bersama mencari dan mengatasi akar segala penderitaan dan persoalan ketidakadilan.
Pertanyaan para korban dapat menjadi basis koalisi agama-agama dan ideologi demi menyelamatkan dan mendukung compassio sosial dan politik di dunia dewasa ini. Compassio lebih dari sekadar empati. Ia adalah kemampuan untuk mengambil bagian dalam penderitaan sesama, terutama sesama yang asing dan menderita.

Penderitaan adalah otoritas moral tertinggi yang menjadi basis terakhir setiap diskursus dan kriteria setiap konsensus (Bdk. JB Metz, 2008). Dalam jaringan masyarakat global, protes atas penderitaan yang tidak adil merupakan elemen yang mempertemukan dan mempersatukan pelbagai agama dan kebudayaan. Setiap kebudayaan, agama, atau ideologi yang cukup serius sekurang-kurangnya mencoba untuk memberi jawaban atas persoalan penderitaan dan kejahatan.

Otoritas etis wajah para korban bergaung melampaui sekat-sekat ideologi, agama, dan budaya. Bukan konsensus yang menciptakan otoritas etos, melainkan otoritas batiniah sebuah etoslah yang memungkinkan dan memberi pendasaran terhadap konsensus universal. Otoritas dimaksud adalah otoritas para penderita, para korban ketidakadilan sosial yang terus berjuang melawan absurditas mencari keadilan dan kebenaran di negeri para mafia dan preman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar