Sabtu, 17 Maret 2012

Menggagas Kebangkitan Melayu

Menggagas Kebangkitan Melayu
Margani M. Mustar, KETUA HARIAN PP MASYARAKAT MELAYU BARU INDONESIA (MABIN), ALUMNUS S-3 UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
SUMBER : REPUBLIKA, 17 Maret 2012



Secara sosiologis dan filosofis, munculnya sebuah bangsa karena didorong adanya kesamaan visi dan tujuan ideal dari beragam etnis atau suku bangsa tersebut untuk mempersatukan dirinya dalam suatu bangsa (nation). Namun, banyak pula ditemukan suatu bangsa lahir karena penduduknya mempunyai kesamaan dalam agama, etnis, geografis (kewilayahan), dan kesejarahan, yang terakhir misalnya sama-sama dijajah oleh pihak kolonial.

Sejarah dan realitas menunjukkan, hampir semua etnis dan bangsa yang biasanya ditandai oleh agama dan warna kulitnya di dunia pernah mengalami kejayaan dan di antaranya hingga kini tetap bertahan. Misalnya, bangsa Amerika, Eropa, Arab, Jepang, dan kini menyusul Cina dan India. Eropa dikenal sebagai bangsa yang beragama Kristen dan Katolik dan berwarna kulit putih, dan Arab dengan agama Islamnya. Sedangkan, bangsa Asia Timur dalam hal ini Jepang dan Cina berwarna kulit putih dengan Kong Hu Chu sebagai agamanya.

Umat juga pernah mengalami masa kejayaan. Kejayaan Islam ialah hingga merambah berbagai benua: Asia, Afrika, dan Eropa. Di negara ASEAN, yang di antaranya beretnis Melayu, Islam tumbuh dan berkembang demikian pesat. Bahkan, di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, Islam menjadi agama yang paling banyak penganutnya.

Melayu adalah sebuah nama yang menunjuk pada suatu kelompok yang ciri utamanya adalah penuturan bahasa Melayu. Suku Melayu bermukim di sebagian besar Malaysia, pesisir timur Sumatra, sekeliling pesisir Kalimantan, Thailand Selatan, serta pulau-pulau kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia, jumlah suku Melayu sekitar 65 persen dari seluruh populasi, yang sebagian besar mendiami Provinsi Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Bugis, Gorontalo, dan Jakarta.

Suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays). Di Afrika, ciri Melayu terlihat kental di Madagaskar. Di sana ada perkampungan orang-orang Makassar yang dulu dikembangkan oleh Syekh Yusuf al-Makassari. Fakta juga menunjukkan, lebih dari 500 juta masyarakat dunia menggunakan bahasa Melayu.

Sebenarnya, tidak terlalu sukar mencari penyebab mengapa etnis Melayu belum mampu mencapai suatu derajat kemajuan yang diharapkan? Di antaranya karena faktor ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang atau belum maju, selain faktor sejarah sebagai bangsa yang pernah dijajah dan ditindas.
Faktor lainnya, dan ini secara sistematis dengan bungkus akademis dikembangkan oleh Barat, bahwa etnis Melayu dari sononya merupakan rumpun etnis pemalas, bermental inlander atau budak. Padahal, mitos itu, sebagaimana dikatakan Syed Husein al-Attas (1988) sengaja dibangun untuk mempertahankan cengkeraman kolonialisme dan imperialisme.

Kelemahan pada sektor ilmu pengetahuan dan teknologi pada sebagian etnis Melayu terkait dengan pendidikan yang masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara barat maupun Asia Timur. Kelemahan di bidang teknologi dan pendidikan berakibat ketertinggalan di bidang ekonomi. Satu-satunya yang mungkin tetap bertahan adalah di bidang kebudayaan. Itu pun kebudayaan dalam pengertian sebagai suatu warisan (heritage), yang acap kali bersifat statis.

Ikhtiar dan Peluang

Dalam konteks itulah, muncul kesadaran kolektif yang dimotori oleh sejumlah elite politik lokal Melayu untuk menjawab berbagai problema tersebut. Di antaranya, dengan membentuk organisasi yang diberi nama Melayu Baru Indonesia (MABIN). Organisasi ini lahir dari hasil konferensi pertama di Desa Hamparan Perak pada 16 Februari 2004, sebagai manifestasi kesadaran berkumpulnya masyarakat rumpun Melayu senusantara.

Sesungguhnya, MABIN berkemampuan dan berpeluang untuk mengemban tugas tersebut karena mempunyai sejumlah modal dasar yang tak ternilai.
Seperti, modal sosial, intelektual (sumber daya manusia), kapital (sumber daya alam), politik (adanya suatu kenyataan sejumlah elite Melayu menjadi pemimpin lokal dan bahkan di tingkat nasional), kultural (budaya Melayu), modal agama (Islam), dan lainnya. Bila berbagai modal tersebut disinergikan dan dikelola secara profesional, MABIN bakal tumbuh menjadi organisasi nasional dan bahkan internasional yang solid dan efektif dalam melaksanakan fungsi dan perannya.

Saat ini, MABIN berkembang menjadi organisasi rumpun masyarakat Melayu terbesar. Selama delapan tahun sejak berdirinya, telah terbentuk kepengurusan di 16 provinsi sampai ke daerah timur Indonesia. Yang memberikan tambahan harapan optimisme adalah perkembangan MABIN bersamaan munculnya dengan kerinduan akan persatuan dan kesatuan serta kemajuan dan kejayaan rumpun Melayu menjadi suatu Melayu Raya dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Yang juga menggembirakan, tren positif ini dibarengi dengan menipisnya sentimen primordialisme, tribalisme sempit, dan egoisme (sifat ananiyah merasa lebih Melayu dari Melayu yang lain) antara Melayu Lama dengan Melayu Baru. Kondisi ini jelas merupakan conditio sine qua non bagi terwujudnya paradigma baru dalam melihat Melayu secara utuh serta setara sebagai rumpun yang harus bersatu. Oleh karena itu, jargon “Tak Melayu Dihilang Dibumi“ tetap relevan dan harus terus digelorakan dan diwujudkan secara nyata dalam berbagai aspek kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar