Minggu, 06 Mei 2012

TNI versus Polri


TNI versus Polri
Sarlito Wirawan Sarwono; Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
SUMBER : SINDO, 06 Mei 2012


Peristiwanya berawal 1–2 pekan yang lalu. Dimulai dengan ulah ugalugalan sejumlah anggota geng motor di Jakarta yang menyebabkan seorang anggota TNI AL tewas dan kawannya luka. 

Maka besok malamnya, sejumlah pria berbadan tegap dan berambut cepak (konotasinya: TNI) menyerbu sebuah minimarket, mengejar pemudapemuda yang sedang nongkrong, dianiaya, sehingga gantian, pemuda sipil yang tewas dan terluka. Besoknya lagi, operasi gabungan: Garnisun dan Polri. Jalan-jalan yang rawan trek-trekan geng motor disisir dan dirazia. Situasi langsung aman dan terkendali. Walaupun agak terlambat, TNI dan Polisi kompak untuk bersama-sama mengendalikan situasi.

Tetapi lain Jakarta, lain Gorontalo. Di Gorontalo tidak ada patroli bersama Garnisun-Polri. Seorang prajurit infanteri dari Batalion Kostrad di sana tewas tertembak oleh anggota Brimob. Isu yang lezat sekali untuk digoreng jadi makanan media massa. Maka berita yang berkembang adalah TNI kontra polisi. Diungkit lagi topik tentang pemisahan Polri dari ABRI, seakan-akan ada rasa iri-mengiri antara instansi TNI dan Polri karena pemisahan pada 1999 itu (sudah 13 tahun yang silam).

Digali lagi catatan-catatan tentang konflik antara institusi TNI versus Polri dari masamasa yang lalu. Dikaitkan dengan pembakaran Polsek Sumalata oleh kelompok orang tak dikenal (tapi berambut cepak dan berbadan tegap, cirri-ciri ini tidak pernah ketinggalan). Dikaitkan lagi dengan pertemuan- pertemuan antara kapolda dan pangdam (tingkat lokal) dan Kapolri dan Kastaf TNI (tingkat pusat),maka kompletlah dasar untuk mengembangkan teori bentrok antar institusi: TNI versus Polri.

Tetapi kalau memang bentrok itu antarinstitusi, sudah lama kedua institusi perang, karena masing-masing memanggul senjata. Pada masa pasca G-30-S tahun 1965-1966, walaupun tidak pernah disebut secara terbuka, saya yang aktivis aksi-aksi mahasiswa ketika itu, bisa merasakan bahwa antarinstitusi ABRI waktu itu ada konflik yang hebat. Kolonel Sarwo Edi Wibowo, yang ketika itu Komandan Baret Merah-RPKAD, berpidato di halaman FKUI Salemba 6 untuk memberi semangat kepada mahasiswa yang sedang mendemo Bung Karno.

Kawan-kawan saya yang sesama aktivis Angkatan 66 tentunya masih ingat ngobrol-ngobrol dengan anggota pasukan Siliwangi yang ngepos di sekitar kampus UI. Tetapi jangan coba-coba mahasiswa UI, dengan jaket kuning, berkeliaran di sekitar markas KKO di Kwitang, apalagi dekat-dekat Istana yang dijaga Cakrabirawa. Mahasiswa Arif Rahman Hakim tumbang kena peluru Cakrabirawa, karena berdemo terlalu dekat dengan Istana Merdeka.

Jelas sekali terasa konflik antar-ABRI yang masing-masing didukung oleh partai-partai politik tertentu (PKI dan PNI mendukung Bung Karno, sisanya: anti-Bung Karno). Karena itu saya yakin, dengan partai-partai politik zaman sekarang yang masingmasing mau menang sendiri, kalau memang TNI-Polri sudah saling kontra,tidak perlu tunggu lama-lama, koalisi partaipartai “X” yang duitnya banyak akan “membeli TNI”, sedangkan koalisi partai-partai “Y”yang duitnya sama banyaknya akan “membeli Polri”,dan bertempurlah kedua institusi negara itu sejadi-jadinya.

Maju tak gentar, membela yang bayar. Bukan membela yang benar. Tetapi bukan itu yang terjadi. Kecuali bentrok-bentrok lokal yang sporadis, hubungan TNI-Polri adem-ayem saja. Bahkan di mana-mana sudah berkali-kali digelar operasi bersama,termasuk pengamanan unjuk rasa Pilkada atau anti kenaikan harga BBM, sampai kepada operasi gabungan Garnisun- Polri yang sudah saya sebutkan di atas. Jadi apa sebenarnya yang terjadi? ***

Saat ini kebetulan saya menjadi dekan di Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia, yang lebih terkenal dengan sebutan YAI. Pada tahun pertama, saya jadi dekan di kampus yang berlokasi di Jalan Diponegoro ini (sekarang sudah masuk tahun ketiga), hampir setiap hari terjadi tawuran antara mahasiswa YAI dan mahasiswa UKI (Universitas Kristen Indonesia) yang kampusnya tepat bersebelahan dengan kampus YAI.

Beberapa kali saya terjebak di dalam kampus, karena di luar sedang ada tawuran dan pintu-pintu pagar ditutup rapat. Berbagai upaya sudah dilakukan. Mulai dari MoU antarrektor, perundingan antardekan, sampai diskusi antar-BEM kedua pihak, dan butir-butir perdamaian pun sudah disepakati bersama.Tetapi tawuran jalan terus. Pasalnya, mereka yang membuat MoU atau yang berunding bukanlah yang seharihari melakukan tawuran.

Yang bertawuran ternyata adalah orang-orang yang mengaku mahasiswa YAI atau UKI, tetapi kerjanya hanya nongkrong, memalaki orang yang lewat, atau ya… tawuran. Jadi pemecahannya ternyata cukup simpel. Dengan bekerja sama dengan Kapolres Jakarta Pusat, pihak YAI mengorbankan sedikit lahan parkir motornya yang menghadap ke jalan Diponegoro dan di situ dibangun Pos Polisi, lengkap dengan AC dan alkom (alat komunikasi). Pos itu dijaga anggota polisi 24 jam, dan dikomandani oleh seorang ipda (inspektur dua).

Sejak itu tidak pernah ada lagi tawuran antar kedua kampus. Situasi di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat,selalu aman dan terkendali. Kalaupun ada kerusuhan, itu bukan antara YAI dan UKI, melainkan sebagian mahasiswa YAI dan UKI larut dengan massa lainnya di Jalan Diponegoro dalam demo antikenaikan harga BBM yang berbuntut bentrok dengan polisi. Jadi apa sebenarnya yang terjadi?

itu sudah dijawab oleh psikolog sosial Muzafer Sheriff. Dia pernah mengadakan eksperimen yang sukses dan hasilnya selalu konsisten walaupun diulang berkali- kali, oleh berbagai psikolog sosial di berbagai negara. Dalam eksperimennya,Sheriff mengambil secara random (acak) sejumlah anak sekolah lanjutan dari sebuah kota di negara bagian Oklahoma AS. Para remaja yang awalnya tidak saling kenal itu, diajak kemping dan dipecah jadi dua regu yang selama minggu pertama tidak saling jumpa.

Para pelatih berusaha untuk menumbuhkan jiwa karsa di kedua grup yang terpisah itu. Lama kelamaan sesama anggota kelompok menciptakan yel-yel, lambang-lambang dan gerak tubuh yang menunjukkan identitas diri kelompok sendiri. Di minggu kedua, baru kedua kelompok ini saling dipertemukan dalam acaraacara bersama. Antara lain mereka harus bersaing memperebutkan sebuah “harta karun di gua sarang penyamun” (robbers cave), seperti dalam permainan Pramuka.

Ternyata persaingan itu dalam waktu singkat telah menimbulkan sikap ingroup-outgroup, artinya mereka lebih senang pada teman sekelompoknya sendiri dari pada anggota kelompok yang lain. Ternyata persaingan itu begitu hebat, sehingga mereka tidak saling bertegur sapa, dan ketika permainan usai pun mereka tidak mau pulang bersama. Pada titik ini panitia mengatur seolah-olah bis yang menjemput mereka terjebak pohon tumbang, sehingga mereka tidak akan bisa pulang, kecuali kedua kelompok itu bersamasama menyingkirkan pohon yang tumbang itu.

Hasilnya luar biasa. Anak-anak yang tadinya sudah terpolarisasi dalam dua kelompok, setelah bersusah payah bersama menyingkirkan pohon yang tumbang, bisa kompak lagi, naik bus bersama dan nyanyi bersama dalam bus menuju pulang. Jadi sebetulnya tidak ada itu konflik TNI versus Polri atau UKI verus YAI. Yang ada adalah apa yang dinamakan oleh Muzafer Sheriff sebagai The Real Conflict Theory (RCT) yaitu pengembangan sikap insider-outdsider sebagai akibat adanya sumber yang terbatas, baik yang riil maupun yang hanya dipersepsikan, yang harus diperebutkan untuk memperolehnya.

Caranya untuk menghilangkan RCT adalah dengan menghilangkan sumber konflik (UKI versus YAI) atau menciptakan suatu sumber atau tantangan baru yang harus/bisa dicapai dengan menyinergikan kekuatan kedua pihak yang berkonflik.Tsunami adalah contoh dari adanya satu tantangan bersama yang bisa mempersatukan pihak-pihak yang bertikai.

Korban anggota TNI telah menyinergikan patroli Polri dan Garnisun. Pertanyaan kita sekarang: adakah yang bisa kita laksanakan di Gorontalo untuk meredam RCT di sana?