Senin, 25 Agustus 2014

Kuburan Menziarahi Manusia

                                  Kuburan Menziarahi Manusia

Binhad Nurrohmat  ;   Penyair, Tinggal di Jakarta
KOMPAS, 24 Agustus 2014
                                                


Di bak terbuka mobil pikap terbujur replika kuburan berkijing tumpukan batu bata yang di atasnya tertaburi mawar merah dan terpasang dua nisan. Di sisi replika kuburan ada dua kursi dan satu meja kayu coklat tua. Di pintu bak pikap ini tertempel selembar kardus berisi grafiti bertuliskan ”Kuburan adalah masa depan semua orang”.

Menjelang senja, Kamis (26/6), kuburan ini diarak di keramaian jalan-jalan utama di kota Jombang dan berhenti di pasar tradisional, minimarket, kampus, bank, kantor pemerintah, pondok pesantren, kantor media massa, alun-alun, stasiun, terminal, kompleks kuburan, dan kantor PWI. Titik-titik perhentian ini melambangkan keduniawian dan keakhiratan dalam persepsi kolektif publik.

Kuburan ”kelayapan” di ruang publik ini merupakan perlawanan ”politik ruang”. Perlawanan ini membuat kuburan bisa terbebaskan dari belenggu identifikasi ruang konvensionalnya, yaitu kompleks kuburan. Kuburan tak lagi hanya menjadi obyek ziarah bagi publik. Kuburan pun bisa menjadi ”subyek” yang menghampiri publik atau ”menziarahi” publik. Antara kuburan dan publik terjadi revisi status subyek-obyek. Kuburan dan publik saling bertukar posisi, saling bertukar tempat, sehingga menciptakan perjumpaan yang setara.

Emansipasi kuburan terjadi di sini. Emansipasi ini memperluas identitas tradisional kuburan. Kuburan berada di ruang yang sama dengan mobil di jalan raya. Kuburan hadir di tempat yang sama dengan barang dagangan di pasar tradisional. Memang terjadi kekikukan, keterenyakan, juga kebergidikan manusia dalam perjumpaan dan interaksi non-verbal ini. Dan, ini merupakan isyarat bahwa kuburan dianggap hadir di ruang yang tak semestinya. Kuburan dianggap salah tempat, salah posisi. Tentu sikap ini wajar belaka jika terjadi sebagaimana ketika publik melihat jimat dipajang di mal.

Dalam happening art yang diprakarsai oleh beberapa seniman Jombang, Jawa Timur, bertajuk ”Kuburan Menziarahi Manusia” ini, kuburan bukan lagi sebatas tanda yang terlokalisasi di kompleks kuburan belaka. Kuburan tak lagi pasif dan statis seperti pemahaman umum kuburan selama ini.

Melalui seni di ruang publik ini, kuburan menjadi aktif dan bergerak mendatangi publik. Kuburan hadir di ruang publik. Kuburan keluar dari tempat yang sunyi atau sudut desa yang terpencil dan hadir di keramaian ruang publik di tengah kota.

Kuburan merupakan sebuah bangunan spiritual-religius. Pembebasan atau perluasan ruang kehadiran kuburan terjadi melalui seni di ruang publik ini sehingga membuka ruang baru bagi bertemunya simbol spiritual-religius dengan yang material-sekular. Dalam happening art ini, kuburan hadir di tengah kesibukan aktivitas publik di keramaian pasar. Momen ini juga menjadi sebuah interupsi kesadaran bagi publik yang berada di keramaian pasar.

Adapun sepasang kursi dan sebuah meja di sebelah kuburan ini merupakan wujud simbolik ruang keakraban. Kuburan atau kematian menjadi akrab seperti kita dan ruang tamu di rumah kita. ”Dan kematian makin akrab” seperti dalam puisi Soebagio Sastrowardoyo terjelma dalam happening art ini.

Ruang tamu merupakan tempat manusia yang datang dan pergi. Ruang tamu menjadi tempat pertemuan dan sekaligus batas antara kehidupan privat dan kehidupan publik. Bukankah kuburan juga batas antara alam manusia yang hidup dan alam manusia setelah mati?

Di sejumlah perhentian, di dua kursi itu duduk dua orang berdialog tentang kematian dan kuburan. Dua kursi itu berada tepat di sisi replika kuburan. Mereka membicarakan pokok-soal yang dekat dengan ihwal yang mereka bicarakan. Dialog ini membuat isi dialog dan yang didialogkan berada di ruang dan waktu yang tak berbeda. Kuburan menjadi bagian yang terlibat dalam dialog dan menjadi subyek, bukan obyek. Batas atas antar-ruang dan antar-waktu telah terterabas di atas bak pikap itu.

Imajinasi masa depan

Setiap manusia nanti mengalami kematian. Setiap yang hidup akan mengalami maut, menurut Al Quran. Ini berarti kematian adalah bagian dari kehidupan juga karena garis kehidupan pasti bergerak ke arah garis kematian. Seperti isi grafiti di selembar kardus di pintu bak pikap itu.

Metafisikus Jerman, Martin Heidegger, berpandangan bahwa manusia adalah Ada-menuju-Kematian (Sein-zum-Tode). Pandangan ini membuat kehidupan tak dianggap terpisah dari kehidupan. Kehidupan yang mendalam menyadari kematian terarah ke dalam siklus dinamika hidup. Pandangan ini membuat kehidupan lebih terhayati lantaran menyadari kematian tersemat dalam perjalanan hidup manusia.

Imajinasi tentang kematian merupakan misteri besar bagi setiap orang karena kematian dianggap hanya dialami oleh mereka yang mati. Yang sudah mati tak bisa menceritakan pengalaman kematian kepada yang hidup. Imajinasi ini telah melahirkan agama, filsafat, dan klenik.

Dalam happening art ini, muncul fenomena yang kontras dari publik. Publik dari kalangan muda kurang terenyak atau kurang responsif menyaksikan replika kuburan diarak keliling kota ini. Barangkali pandangan umum mengisi pikiran mereka bahwa kematian masih jauh dari realitas kehidupan manusia yang masih muda. Kematian adalah untuk orang-orang tua. Dan memang kalangan orang tua menyaksikan happening art ini dengan respons dan reaksi yang berlawanan dengan kalangan anak muda. Kalangan orang tua tampak lebih terkoneksi oleh dan lebih merespons kehadiran replika kuburan yang hadir di ruang publik ini.

Terjadi arus-balik kesadaran ketika simbol kematian (kuburan) mendatangi manusia yang hidup. Arus-balik ini menjadi teror atau kejutan bagi kesadaran manusia. Perasaan khusyuk mendadak muncul ketika kuburan menghampiri publik. Kuburan ini hadir dan seperti mengaktivasi kesadaran tentang waktu yang pasti akan tiba dan kehadiran kuburan ini seperti ”mempercepat” datangnya waktu itu.

Kuburan merupakan tanda, sebuah semiotika yang identik dengan kematian. Bagi publik yang religius, kematian diyakini bukanlah akhir kehidupan. Kematian adalah halte bagi kehidupan selanjutnya setelah melewati fase dunia ini. Ada debar atau rasa gentar menghadapi keyakinan semacam ini.

Akhir eksistensi dan biografi manusia bisa terwakili oleh artefak kuburan. Keberadaan manusia terawetkan lewat kuburan. Dan happening art ini menggerakkan kuburan dari satu titik lokasi ke titik lokasi yang lain. Kuburan menjadi mobile, kuburan menjadi tak statis lagi. Kuburan menjadi dinamis. Kuburan melaju di keramaian lalu lintas jalan raya dan kuburan merayap di tengah keriuhan publik di pasar tradisional.

Kuburan menjadi sebuah eksistensi dan biografi yang hadir dan berinteraksi dengan khalayak ramai dengan pernik-pernik kebudayaannya. Dan jika kebudayaan diciptakan oleh manusia yang hidup, maka kematian adalah titik puncak kebudayaan manusia. Namun, kuburan tak selalu menjadi ”akhir kebudayaan” manusia.

Kuburan di sejumlah tempat ternyata melatari terciptanya fenomena kapitalistik, yaitu munculnya peluang pasar di sekitar kuburan para tokoh publik berupa maraknya lahan parkir kendaraan peziarah atau munculnya toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan ritual ziarah, suvenir, penginapan peziarah, warung makan, dan lain-lain.

Happening art ini pun merupakan produk kebudayaan atau hasil dari sebuah estetisasi yang bangkit dari fenomena kuburan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar