Kamis, 28 Agustus 2014

Prospek Perdamaian Israel-Palestina

Prospek Perdamaian Israel-Palestina

Smith Alhadar  ;   Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies
MEDIA INDONESIA, 27 Agustus 2014
                                                


KENDATI dampak pertikaian mereka mengerikan dan sangat menghancurkan, Israel dan Hamas masih terus berperang. Beberapa kali ada jeda untuk memungkinkan terjadinya perundingan gencatan senjata di Kairo, yang diupayakan Mesir dan dihadiri oleh AS, PBB, Israel, dan Hamas-Fatah. Namun, semua usaha itu buntu karena masing-masing berkukuh pada syarat yang diajukan.

Hamas dan faksi Palestina lain di antaranya menuntut Israel mencabut blokade atas Jalur Gaza yang telah berlangsung sejak 2007, blokade yang membuat warga Gaza sangat menderita akibat kurangnya obat dan bahan makanan dan ketiadaan akses ke dunia luar. Adapun Israel menuntut Hamas dan faksi Palestina lainnya melucuti atau dilucuti senjatanya, suatu tuntutan yang tidak masuk akal. 

Bagaimana mungkin pejuang yang mau membebaskan dirinya dari penjajahan disuruh melucuti senjata, satu-satunya alat perjuangan untuk mendapatkan hak-hak dasar mereka, yaitu kemerdekaan. Hamas mengalami kerugian ekonomi sekitar US$2,5 miliar. Akibat sosialnya, rakyat Gaza semakin miskin dan menderita.
Israel sendiri kehilangan 64 prajurit, 3 warga sipil, biaya perang sekitar US$3,5 miliar, dan kerugian ekonomi sekitar US$450 juta. Penyebabnya, Israel harus menggunakan rudal mahal sekitar US$50.000 per unit untuk menghadang setiap roket murah rakitan Hamas yang diluncurkan ke Israel.

Takut pada Hamas

Israel tak bersedia mencabut blokade atas Gaza sepenuhnya selama Hamas belum dilucuti karena akan sangat berbahaya bagi keamanan Israel di masa depan. Dengan pencabutan itu, ditambah izin menggunakan Bandara Internasional Gaza sesuai tuntutan Hamas, akan membuat Hamas leluasa berhubungan dengan dunia luar. Yang paling ditakuti ialah akses ke dunia luar itu akan dimanfaatkan Hamas untuk mendapatkan bahan-bahan senjata atau bahkan senjata siap pakai.

Ketakutan Israel pada Hamas belakangan ini meningkat setelah organisasi Islam militan itu bertambah kuat dengan inovasi pembuatan roket sendiri yang meniru teknologi roket buatan Iran seperti Fajr 5.

Dampak lain bila blokade dicabut, sementara Hamas tidak dilucuti, Hamas akan dilihat sebagai pemenang perang. Sebaliknya, Israel akan dipandang sebagai pecundang karena semua target perangnya tidak tercapai, antara lain melucuti Hamas dan menciptakan ketidakpercayaan serta perlawanan rakyat Gaza terhadap Hamas.

Maka, bila perang dihentikan sekarang tanpa Israel mencapai target perangnya, sementara Hamas berhasil membuat blokade dicabut dan beroperasinya Bandara Internasional Gaza, besar kemungkinan pemerintahan Israel pimpinan PM Benjamin Netanyahu akan jatuh. Sekarang saja publik Israel makin gencar mempertanyakan kebijakan perang Netanyahu menghadapi Hamas.

Ubah strategi

Memanfaatkan jeda 72 jam beberapa waktu lalu untuk memberi kesempatan pada perundingan gencatan senjata, Israel menarik seluruh pasukannya dari Gaza dan kemudian ditempatkan di sekeliling Gaza. Kebijakan itu diambil untuk antisipasi melakukan perang panjang. Dalam perang ini Israel sangat mungkin tidak lagi melancarkan serangan masif dan brutal terhadap rumah-rumah warga dan penduduk sipil yang akan semakin meningkatkan tekanan internasional, tapi mengulur-ulur waktu dengan melakukan serangan terbatas secara terus-menerus untuk menciptakan frustrasi rakyat Gaza dan, terutama, menghabiskan roket-roket Hamas.

Kalau skenario itu berjalan, tak lama lagi, menurut perhitungan Israel, Hamas akan kehabisan senjata pamungkas tersebut. Kalau demikian, Hamas akan habis. Israel sendiri tidak mudah menjalankan skenario itu mengingat komunitas internasional tidak sabar lagi menunggu perang kejam yang dilancarkan Israel dihentikan. 
Apalagi tekanan konkret Eropa dan PBB atas Israel mulai tampak.

Sementara itu, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas yang berbasis di Tepi Barat mendukung perjuangan Hamas melawan Israel. Abbas berharap ia harus memberi andil dalam perang Hamas-Israel ini sehingga bilamana gencatan senjata tercapai dengan kemenangan di pihak Hamas, ia akan didukung oleh seluruh rakyat Palestina, termasuk Hamas. Dengan demikian, dalam perundingan perdamaian dengan Israel kelak, posisi Palestina semakin kuat.

Bentuk nyata dukungan Abbas itu berupa keikutsertaan faksi Fatah yang dipimpinnya dalam perundingan gencatan senjata di Kairo dan da lam waktu bersamaan memobilisasi rakyat Tepi Barat melakukan protes massal terhadap Israel. Dengan demikian, Israel akan semakin tertekan. Kalau demikian, bukan tidak mungkin Netanyahu akan mengakhiri perang yang tidak populer ini dengan mene rima syarat Hamas, yaitu pencabutan blokade yang tidak berperikemanusiaan tersebut. Maka, Hamas akan dipandang memenangi perang, bukan secara fisik, melainkan politik.

Sangat mungkin Israel akan mengontak Abbas untuk memulai perundingan perdamaian yang serius guna mengakhiri konflik yang telah berusia seabad ini. Israel akan menganggap, dengan berdamai dengan Abbas, posisi Hamas di Jalur Gaza melemah. Memang dukungan warga Gaza terhadap Abbas akan sangat bergantung pada sejauh mana ia berhasil membuat perdamaian dengan Israel. Bila perdamaian abadi tercipta dan kemakmuran mengalir ke Gaza, tak ada alasan lagi bagi rakyat Gaza untuk mendukung Hamas, yang prospek kemenangan perjuangannya tidak dapat dibayangkan. Memang perjuangan Hamas untuk mengenyahkan Israel dari seluruh tanah Palestina, termasuk tanah yang diduduki Israel sekarang, dan mendirikan negara Islam tidak realistis dan prospektif. Wallahu a'lam bissawab!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar