Minggu, 24 Agustus 2014

ISIS di Antara Kita

                                                  ISIS di Antara Kita

Ahmad Taufik  ;   Pendiri Garda Kemerdekaan
KORAN TEMPO, 23 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

Video ajakan bergabung dengan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS)  sekarang disebut Islamic State (IS) disambut gegap gempita di berbagai pelosok Indonesia. Banyak orang berbondong-bondong masuk, melalui acara baiat (sumpah setia). Selain janji surga dengan jalan jihad, ada rindu cerita masa lalu, juga akibat kekuatan propaganda. Tak mengherankan jika rekaman video kegiatan mereka selalu diunggah ke situs termasyhur saat ini, YouTube.

Bukti tersebarnya ISIS diketahui belakangan setelah populer dan dijadikan musuh bersama. Polisi menemukan sejumlah identitas ISIS di berbagai tempat publik, dari bendera sampai mural (seni gambar di tembok). Padahal, sebenarnya, sebelum sepopuler sekarang, ISIS sudah berusaha bereksistensi. Bendera hitam dengan kalimat la ilaha ilallah terlihat berkibar saat hari bebas kendaraan bermotor (car free day) di Solo dan Jakarta.

Kenapa IS mendapat sambutan? Selain propaganda media, utopia negara Islam, dan janji surga, bibit IS tumbuh subur di negeri ini. Ada beberapa asumsi penyebab tumbuh suburnya kelompok itu. Bekas Perdana Menteri Inggris Tony Blair (2001) menyebut, "...negara gagal, kemiskinan, dan pemutusan hubungan kerja (PHK)." Alan B. Krueger, dalam buku What a Makes a Terrorist, (kalau kita mau menyebut ISIS teroris), berkata menjadi teroris adalah pilihan hidup, cita-cita atau karier, seperti menjadi dokter, jurnalis, dan jenis pekerjaan lain.

Menurut Mohamad Guntur Romli (2009), berkembangnya kelompok radikal yang mengedepankan kekerasan merupakan jalan lahir dari ketegangan, perebutan kekuasaan, hingga konflik di Timur Tengah. Di Indonesia, banyak alumnus dari perguruan tinggi atau pesantren di Timur Tengah yang pulang membawa "semangat kekerasan" dari tempat pendidikannya itu. Kemudian, pihak yang berkonflik, melalui alumnus, mengajak pihak lain untuk menjadi sekutu.

Satu faktor lagi penyebab tumbuh suburnya kelompok pro-kekerasan adalah peran aparat keamanan (polisi). Aparat gamang menindak penyeru penyebar kebencian (hate crime). Hal ini merupakan sumbangan bagi berkembangnya kelompok "jalan kekerasan", seperti ISIS sekarang ini, sehingga pelakunya merasa mendapat perlindungan.

Sebenarnya, hanya memusuhi ISIS adalah salah, karena kelompok ini bisa berubah rupa. Sebelum ini kita mengenal Al-Qaidah di Timur Tengah dan Jamaah Islamiyah (JI) di Nusantara. Saat ini yang terpenting adalah mengidentifikasinya. Ada tiga ciri untuk mengetahui kelompok seperti ISIS itu.

Pertama, kemantapan niat untuk mendirikan negara Islam dengan memberlakukan syariat Islam sesuai dengan pemahaman kelompok mereka sendiri, sehingga seluruh konsep kehidupan bernegara, selain pemberlakuan syariat Islam seperti yang mereka pahami, menjadi batil (wajib diperangi). Kedua, tafsir kebenaran bersifat tunggal, sesuai dengan pemahaman kelompok mereka. Untuk itu, siapa pun yang tidak menerima pemahaman tafsir kebenaran mereka dianggap sesat dan kafir. Karena itu, setiap yang kafir, halal darahnya untuk dibunuh. Ketiga, penganut agama selain Islam yang mereka pahami, agar tidak dibunuh atau dipersekusi, diwajibkan membayar jizyah atau pajak perlindungan.

Nah, dengan tiga identifikasi tersebut, jangan-jangan kita juga turut serta menumbuhsuburkan "ISIS-ISIS" lain di negeri ini. Jika asumsi itu benar, sia-sialah 69 tahun kemerdekaan yang telah kita capai sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar