Minggu, 12 Februari 2017

Trump dan Transformasi Struktural Global

Trump dan Transformasi Struktural Global
Tri Winarno ;  Peneliti Ekonomi Senior Bank Indonesia
                                                   TEMPO.CO, 10 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Donald Trump kini telah resmi menjadi Presiden Amerika Serikat. Dunia akan menghadapi transformasi struktural. Pertama, kebijakan ekonomi Trump dipastikan menyebabkan tingkat bunga dan inflasi AS lebih tinggi daripada ekspektasi pasar. Terpilihnya Trump sudah dapat dipastikan mengakhiri kecenderungan penurunan laju inflasi dan tingkat bunga yang telah berlangsung, sehingga akan berpengaruh signifikan bagi kondisi ekonomi dan harga aset di tingkat global. Namun investor dan pemangku kebijakan belum teryakinkan sepenuhnya akan dampak tersebut.

Ketika Trump meluncurkan kebijakannya, Federal Reserve alias The Fed—sebutan bagi bank sentral AS—akan mengetatkan kebijakan moneternya lebih besar daripada yang direncanakan sebelum pelantikan Trump. Ketika kebijakan Trump berdampak terpacunya pertumbuhan ekonomi dan inflasi di AS, tingkat bunga jangka panjang yang berpengaruh signifikan bagi perekonomian dunia akan mengalami kenaikan yang lebih curam dibanding tingkat bunga overnight.

Alasan di balik skenario itu sederhana. Rencana perpajakan dan belanja Trump akan membalik secara tajam konsolidasi anggaran yang diterapkan oleh Kongres pada masa pemerintahan Barack Obama. Pinjaman rumah tangga akan meningkat drastis tatkala Trump memperlonggar regulasi perbankan yang telah diterapkan sejak krisis keuangan global 2008. Ketika stimulus ekonomi tersebut diterapkan saat perekonomian AS telah mendekati optimal (full employment), dipastikan inflasi AS semakin terakselerasi. Ditambah dengan kebijakan proteksionisnya, dipastikan peningkatan inflasi akan lebih dramatis, khususnya yang berhubungan dengan harga produk impor.

Yang belum pasti adalah bagaimana kebijakan moneter The Fed merespons "Trumpflation" ini. Namun apakah The Fed menimpali dengan cara menaikkan bunga secara agresif atau memutuskan lebih hati-hati, tingkat bunga jangka pendek akan tepat berada di bawah kenaikan kurva pertumbuhan harga, sehingga investor yang memegang obligasi bakal lebih menderita. Akibatnya, tingkat pengembalian obligasi AS tenor 10 tahun meningkat dari 2,5 persen ke 3,5 persen atau lebih pada tahun-tahun mendatang.

Kedua, kondisi kontras terjadi di Eropa dan Jepang. Mereka cenderung menerapkan kebijakan moneter yang tetap longgar. Bank sentral di negara-negara tersebut, dalam upaya memacu pertumbuhan ekonominya, akan menerapkan kebijakan tingkat bunga 0 persen dan quantitative easing (QE). Dan, kebijakan yang berlawanan arah dengan kebijakan AS ini merupakan kejutan struktural potensial kedua.

Hal ini akan membuat dolar AS semakin menguat, khususnya terhadap mata uang negara-negara berkembang, walaupun Trump berupaya keras menggenjot ekspor AS. Katalisator apresiasi dolar AS bukan hanya kenaikan tingkat bunga AS, tapi juga langkanya dolar di pasar negara-negara berkembang, ketika utang luar negeri negara berkembang meningkat US$ 3 triliun sejak 2010.

Kombinasi penguatan dolar AS dan pinjaman luar negeri yang besar mengakibatkan krisis utang di Amerika Latin dan Asia pada 1980-an dan 1990-an. Saat ini proteksionisme Trump akan membuat keadaan semakin memburuk, khususnya untuk negara-negara seperti Meksiko dan Turki, yang strategi pembangunannya bergantung pada sektor eksternal dan pembiayaan yang bersumber dari utang luar negeri.

Ketiga, ini berita baiknya, kinerja perekonomian Uni Eropa diperkirakan lebih baik daripada ekspektasi pasar. Indikator ekonomi mulai tampak membaik dengan cepat di sebagian besar negara Uni Eropa sejak awal 2015, ketika Bank Sentral Eropa menghentikan fragmentasi dengan meluncurkan program pembelian obligasi yang besarnya lebih dari QE-nya The Fed.

Tapi, tahun lalu, derap pemulihan ekonomi Uni Eropa ini dibayangi oleh kekhawatiran akan disintegrasi politik di Uni Eropa. Dengan Belanda, Prancis, Jerman, dan Italia menghadapi tantangan dari kelompok populis, Brexit dan USxit telah memicu tumbangnya Uni Eropa.

Ekspektasi ini akan menciptakan kejutan terbesar: alih-alih terdisintegrasi, Uni Eropa justru akan makin stabil, yang ditandai dengan pemulihan ekonomi serta membaiknya kinerja keuangan—mirip dengan periode  "Goldi-locks " AS dari 2010 hingga 2014.

Peristiwa penting pada 7 Mei mendatang adalah pemilihan umum Presiden Prancis. Entah Francois Fillon entah Emmanuel Macron yang menang, Prancis akan menjalankan reformasi ekonomi, yang mirip dengan di Jerman pada 2003 oleh Kanselir Gerhard Schroeder. Langkah reformasi meliputi relaksasi persyaratan program pengetatan anggaran. Semakin kooperatif dan konstruktif hubungan Jerman dengan Prancis, dukungan kelompok populis Five Star Movement—partai politik di Italia—akan semakin terkikis.

Risiko terberat muncul jika Le Pen yang memenangi pemilihan umum Prancis. Bubarnya Uni Eropa menjadi suatu keniscayaan yang akan memicu kepanikan di pasar uang dan ekonomi global. Berdasarkan jajak pendapat, Le Pen bisa menjadi presiden hanyalah fantasi. Namun, sebelum pemilihan Presiden AS, hampir semua jajak pendapat menafikan Trump sebagai pemenang, bukan? ●