Selasa, 28 Februari 2017

Abu Nawas

Abu Nawas
Trias Kuncahyono  ;    Wartawan Senior Kompas
                                                     KOMPAS, 26 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pekan lalu, seorang rekan mengirimkan lewat WA dua renungan menarik: yang satu mengutip ucapan Lucretius dan satunya menceritakan kisah Abu Nawas. Kedua tokoh itu hidup di zaman yang berbeda, bahkan sangat berbeda. Akan tetapi, pesan lewat ucapan Lucretius dan kisah Abu Nawas memiliki napas yang sama.

Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami (756-814) dikenal dengan nama Abuu-Awaas atau Abu-Nuwas. Salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik pada awal periode Abbaasid atau Abbasiyah (750-1258) ini dilahirkan di Ahvaz, Persia, dan meninggal di Baghdad. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab dan Persia. Ia digambarkan sebagai sosok yang bijaksana dan kocak. Abu Nawas, yang belajar di Basrah, lalu di Kufah di bawah bimbingan penyair Walibah ibn al-Hubab, kemudian dibimbing Khalaf al-Ahmar. Namanya disebut-sebut dalam kisah Seribu Satu Malam. Banyak yang mengatakan, karyanya mencerminkan gambaran masyarakat: lucu, sinikal, bahkan ironi kehidupan.

Lucretius, lengkapnya Titus Lucretius Carus (99-55 SM), adalah seorang penyair Romawi dan pengarang epik filsafat De Rerum Natura (Tentang Sifat Alam Semesta). Ia meninggal sebelum magnum opus, karya besarnya, De Rerum Natura, diselesaikan lengkap. Tidak banyak yang diketahui tentang masa hidup Lucretius. Meski demikian, karyanya banyak memengaruhi tokoh-tokoh dunia. Misalnya, seorang imam Katolik, ilmuwan yang juga filsuf Pierre Gassendi (1592-1655) dari Perancis, dan Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955), seorang imam Katolik yang juga filsuf dan paleontologis.

Cerita yang dikisahkan Abu Nawas menarik. Demikian ceritanya. Suatu hari, Abu Nawas berjalan di tengah pasar sambil menengadah melihat ke dalam topinya. Orang banyak memperhatikannya dengan wajah heran. Apakah Abu Nawas telah gila? Apalagi dia melihat ke dalam topinya sambil tersenyum. Salah seorang datang menghampirinya dan bertanya, "Wahai saudaraku, apa yang sedang kamu lihat di dalam topi itu?"

"Aku sedang melihat surga, lengkap dengan barisan bidadari," jawab Abu Nawas.

"Coba aku lihat! Aku tidak yakin kamu bisa melihat seperti yang saya lihat," kata orang itu.

"Mengapa?" tanya Abu Nawas, dan menambahkan, "Hanya orang beriman dan saleh saja yang bisa lihat surga di topi ini."

Orang itu tergoda dan kemudian melihat ke dalam topi. Sejenak dia berkata, "Benar. Aku melihat surga di topi ini dan juga bidadari." Orang itu berteriak dan didengar orang banyak. Abu Nawas tersenyum.

Banyak orang kemudian ingin melihat surga di dalam topi. Tetapi, Abu Nawas mengingatkan, "Hanya orang beriman dan saleh yang bisa lihat surga di dalam topi ini. Yang tak beriman tidak akan melihat apa pun."

Satu demi satu orang melihat ke dalam topi Abu Nawas itu. Ada yang dengan tegas menyatakan melihat surga, dan ada juga yang lalu mengatakan, Abu Nawas berbohong. Abu Nawas tetap tenang saja sambil menebar senyum. Akhirnya, yang tidak melihat surga di dalam topi itu melapor kepada Raja dengan mengatakan, Abu Nawas menyebarkan kebohongan. Raja pun memanggil Abu Nawas untuk menghadapnya.

"Abu Nawas. Benarkah kamu bilang, orang dapat melihat surga di dalam topimu?" tanya Raja.

"Benar, Raja. Tetapi, yang bisa lihat hanya orang beriman dan saleh. Yang tidak bisa melihat itu artinya dia tidak beriman dan tidak saleh," jawabnya tenang.

"Oh, begitu? Coba saya buktikan, apakah benar ceritamu itu," kata Raja, yang lalu melihat ke dalam topi. Setelah melihat ke dalam topi, Raja terdiam. Dalam hati Raja berkata, "Benar, tidak tampak surga di dalam topi ini. Tetapi, kalau aku bilang tidak ada surga, orang banyak akan mengatakan bahwa aku tidak beriman. Tentu akan hancur reputasiku."

Lalu Raja berkata, "Benar! Saya sebagai saksi, di dalam topi Abu Nawas kita bisa melihat surga dengan sederetan bidadari." Setelah Raja mengatakan hal itu, orang yang mendengarnya menerima cerita Abu Nawas karena khawatir berbeda dengan Raja, dan yang lebih penting akan dicap sebagai tidak beriman.

Bersenjatakan "surga", Abu Nawas mampu membuat orang-yang takut kehilangan jabatan, kehilangan kekuasaan, tidak populer, dan dianggap tidak beriman-membuang akal sehat, mematikan akal sehat, dan melakukan kebodohan. Karena itu, masuk akal yang dikatakan oleh Lucretius, tantum religio potuit suadere malorum, betapa hebatnya agama sampai bisa mendorong berbuat jahat.

Kejahatan karena agama dalam sejarah manusia banyak terjadi di mana-mana, di seluruh dunia, termasuk di negeri kita. Dunia pernah diwarnai dengan Perang 30 Tahun (1618-1648) antara Katolik dan Protestan di wilayah yang sekarang menjadi Jerman, perang di Irlandia Utara antara Protestan dan Katolik, Perang Salib, konflik Sunni dan Syiah di Irak, konflik Hindu dan Muslim di India, dan masih banyak lagi, termasuk kekejaman-kekejaman karena agama.

Fanatisme agama yang berlebihan, yang kelewat batas, telah meruntuhkan toleransi antarmanusia yang aneka ragam ini. Agama digunakan sebagai senjata untuk melegalkan semua cara, termasuk untuk tujuan-tujuan politik. Demi agama, orang bisa menyakiti orang lain, seperti yang terjadi di Myanmar, Suriah, Nigeria, Pakistan, Afganistan, Somalia, dan jangan lupa termasuk Indonesia. Bahkan, teriakan Donald Trump ketika kampanye dan kebijakannya pun bermuatan kebencian agama dan ras.

Kalau keberadaan agama harus dibela dengan kekerasan, apa sumbangannya terhadap peradaban manusia? Bukankah toleransi, saling menghormati, saling menghargai, persaudaraan, merupakan ungkapan keberadaban manusia? Benar yang dikatakan Lucretius, "Seluruh hidup merupakan perjuangan dalam kegelapan." Dan, kegelapan itu sekarang menguasai Bumi karena munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak peduli pada kemanusiaan, hak asasi manusia, populis, dan xenofobia.