Selasa, 28 Februari 2017

Memutus Mata Rantai Kemiskinan

Memutus Mata Rantai Kemiskinan
Nurul Lathiffah  ;    Konsultan Psikologi dan Penulis Buku
                                           MEDIA INDONESIA, 27 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEJAUH ini kita menyimak realitas bahwa pendidikan belum bisa dijangkau semua lapisan masyarakat. Meski pemerintah telah berupaya menjadikan pendidikan ramah bagi masyarakat miskin, tanpa kesadaran diri dan perubahan sikap dari keluarga, pendidikan akan sulit dijadikan pemutus mata rantai kemiskinan. Bahkan, jika sejak dini anak-anak kaum marginal diizinkan hanya untuk bermain, bermain, dan bermain, serta jauh dari kebiasaan membaca, kita bisa menyaksikan bahwa kemiskinan di negeri ini akan menjadi warisan yang sulit dijeda. Menarik untuk kita kaji bersama bahwa melalui Program Keluarga Harapan (PKH), pemerintah telah memberikan motivasi kepada keluarga prasejahtera untuk melibatkan anak-anak mereka mengecap pendidikan formal secara layak.

Program yang dinaungi Kementerian Sosial ini mensyaratkan para pengurus keluarga (kaum ibu) untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Jika para ibu menyekolahkan anak-anak mereka mulai jenjang SD hingga SMA atau sederajat, bantuan akan terus diberikan. Sebaliknya, jika peserta tidak komitmen dan angka partisipasi kasar belajar siswa di sekolah tidak menyentuh persentase 85 (baca: sering membolos), bantuan akan dipotong. Pemotongan bantuan sebagai bentuk hukuman bagi anak-anak dari peserta program yang tidak komitmen dengan pendidikan merupakan sebuah gebrakan tegas. Sebab, tidak mustahil, anak-anak pamit untuk ke sekolah padahal ia tidak hadir. Perilaku membolos memang disebabkan banyak hal, misalnya karena keengganan belajar.

Pendidikan dapat memutus mata rantai kemiskinan jika dan hanya jika anak-anak memiliki semangat dan daya juang yang tinggi dalam belajar dan berprestasi. Sayangnya, tak banyak para orangtua yang menyadari bahwa pendidikan dapat memutus mata rantai kemiskinan. Kita sering menutup mata dan enggan mengungkap kisah keberhasilan pendidikan yang ditempuh anak dari keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Sering kali para orangtua terlalu pesimistis dan memandang hitam harapan pendidikan cerah ketika dirinya mengalami masa-masa sulit, terutama dalam aspek perekonomian keluarga. Keberhasilan menempuh pendidikan bukan hanya membutuhkan dukungan finansial, melainkan juga kecerdasan berjuang (adversity quotient). Sayangnya, banyak orangtua yang gagal membentuk kecerdasan berjuang pada anak. Banyak keluarga miskin yang masih percaya bahwa membekali anak dengan uang saku setara dengan teman-temannya ialah cara terbaik mendukung pendidikan.

Sulit diwujudkan

Konsekuensi dari langkah 'memanja' anak secara finansial secara akumulatif memberikan pukulan berat bagi keluarga miskin. Alhasil, orangtua memandang pendidikan anak sebagai sebuah beban berat sehingga mereka memberi label pendidikan mahal bukan semata-mata dari biaya pendidikan, melainkan justru dari biaya harian (nonpendidikan). Jika para orangtua masih berpikir bahwa biaya menjadi kendala kesuksesan belajar anak, akan sulit mewujudkan harapan pemerintah untuk menjadikan pendidikan sebagai pemutus mata rantai kemiskinan. Agar pendidikan dapat memutus mata rantai kemiskinan, keluarga harus mampu mengajarkan nilai-nilai perjuangan bagi anak. Sangat mungkin mencapai prestasi tinggi apabila ditempuh dengan semangat belajar yang optimal.

Tidak mudah memang melakukan edukasi bagi para orangtua agar memahami bahwa di balik keterbatasan (ekonomi) sesungguhnya tersimpan kekuatan untuk belajar dengan gigih. Terlebih bila orangtua telanjur sering memanjakan anak-anaknya sebagai kompensasi atas ketidakberhasilannya dalam membahagiakan anak secara lahir. Dalam jangka panjang, kita memerlukan sebuah mekanisme edukasi pada keluarga prasejahtera agar mampu memberikan motivasi belajar bagi putra-putrinya, bukan hanya angka partisipasi kasar semata. Dari titik inilah seharusnya para orangtua mendapatkan pemahaman bahwa mendidik anak tidak sama dengan memberi kesenangan lahir. Sebaliknya, orangtua harus mampu memberikan kesenangan batin pada anak, yang tak harus didapat dengan kilau kemewahan.

Bahkan dengan belajar kecewa, anak justru mendapat kepuasan batin. Anak pun akan belajar bahwa menahan rasa sakit di awal untuk memperoleh kebahagiaan merupakan suatu hal yang memberi rasa positif kepada diri sendiri. Dalam kasus memberikan bekal uang jajan, misalnya, orangtua harus memberikan pemahaman kepada anak agar tidak berperilaku konsumtif. Orangtua perlu menegaskan kebiasaan menahan dan 'puasa' pada anak dengan mengizinkan mereka menabung dari uang saku untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan sebagai penunjang kebutuhan belajar. Pujian atas prestasi psikis anak dalam menahan keinginan di awal merupakan stimulan yang baik untuk menciptakan anak-anak yang tangguh dan berdaya juang. Untuk membesarkan anak dengan kualitas daya juang yang dapat menuntun pada keberhasilan, orangtua juga harus memberi teladan.

Sedapat mungkin, orangtua harus tegar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan putra-putrinya. Bekerja apa pun asalkan halal dan baik harus diupayakan. Prinsip bahwa menahan keinginan di awal untuk mendapat kepuasan di akhir merupakan bekal untuk menjemput kesuksesan. Jika sejak kecil anak dilatih untuk mau prihatin dan menahan keinginan (bermain dan bersenang-senang, melakukan konsumsi secara boros, dan sebagainya), anak akan belajar untuk menjadi pribadi yang tekun. Ia juga akan merasakan dampak positif dari kerja keras, di antaranya mendapat nilai memuaskan. Dunia anak merupakan dunia bermain. Namun, bermain yang terlampau akan membuat anak merasa bahwa belajar merupakan suatu beban. Akibatnya, anak akan sulit untuk memiliki hasrat belajar. Dalam realita di lapangan, sering terlihat betapa para orangtua membebaskan anak-anaknya bermain, yang berarti juga membebaskan mereka terpapar virus komunikasi negatif.

Bermain tanpa pengawasan orangtua kadang membuat anak menjadi korban bullying, atau bahkan menjadi pelaku. Dari sudut pandang orangtua, melepas anak-anak bermain tanpa kontrol kadang menjadi sebuah kesenangan tersendiri. Dengan melepas anak, mereka berpikir bisa bebas bekerja, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dan asyik dengan aktivitas tanpa gangguan. Mereka lupa bahwa dengan melepas anak ke dalam rimba permainan tanpa kontrol akan menjadikan anak mengalami euforia bermain sehingga sering mengalami kegagalan dalam menemukan keasyikan dalam belajar.

Anak yang terlalu asyik bermain juga cenderung memiliki kualitas konsentrasi yang buruk sehingga membuatnya tak memiliki prestasi belajar yang baik. Maka, para orangtua dari keluarga prasejahtera juga harus memahami bahwa penting untuk memberikan latihan konsentrasi dan kesabaran pada diri anak. Catatan pentingnya, orangtua harus menanamkan pesan dengan bahasa yang motivatif dan tidak menghakimi anak. Orangtua juga perlu menggunakan nada yang lembut dan kalimat penuh kasih sehingga mampu menimbulkan getaran semangat bagi buah hati. Prestasi dan keberhasilan meretas jalan sukses selalu dibangun dengan perjuangan, kesabaran, dan kegigihan.

Jika orangtua berhasil menanamkan daya juang pada anak, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bersemangat, termasuk dalam menempuh pendidikan. Seandainya tidak memiliki buku, anak-anak yang memiliki daya juang tinggi akan rela meminjam di perpustakaan, mencatat, atau bahkan menghafal materi pelajaran. Anak-anak ibarat kertas putih, dan orangtualah yang memberikan warna dan torehan. Tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan kecuali menorehkan anak dengan pelajaran hidup sejak dini. Ketika sebuah keluarga prasejahtera berhasil mencerdaskan daya juang anak, ketika itu pula mereka menggenggam erat harapan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Wallahu'alam.