Sabtu, 25 Februari 2017

Saudi dan Ekspansi Wahabisme ke Dunia Islam

Saudi dan Ekspansi Wahabisme ke Dunia Islam
Ibnu Burdah  ;    Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam;
Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
                                                   JAWA POS, 22 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kunjungan delegasi Parlemen (Majelis Syura) Arab Saudi ke Indonesia 16 Februari lalu menjadi pengantar bagi rencana kunjungan Raja Salman ke Indonesia pada 1–9 Maret mendatang. Setelah 46 tahun tak ada satu pun raja Saudi yang datang ke Indonesia, seolah-olah tiba-tiba kerajaan itu memandang Indonesia sebagai negara yang sangat penting.

Rencananya, kedatangan raja disertai hampir seluruh menteri, rombongan pejabat dalam jumlah sangat besar, dan para pengusaha kakap selama sembilan hari di Indonesia. Rencana kunjungan tersebut terasa ”aneh” karena selama ini hampir seluruh presiden RI pernah berkunjung ke negara itu, tapi tak ada satu pun kunjungan balasan.

Betapapun, berita tersebut tentu menggembirakan. Kita perlu menyambut kedatangan mereka. Sebab, mereka juga saudara kita sesama umat manusia (juga sesama muslim). Dan kita –sebagaimana mereka– memiliki kepentingan yang luas dengan Saudi, baik itu soal perlindungan TKI, kuota haji, investasi, dan seterusnya. Tapi, kita bagaimanapun harus tetap menjaga sikap kehati-hatian terkait dengan negara tersebut. Di samping keterlibatan dalam konflik yang ganas di Yaman, Syria, dan Iraq serta permusuhan yang dalam terhadap Syiah-Iran, negara itu adalah sponsor utama penyebaran Wahabisme.

Keragaman

Di tengah lingkungan baru yang menuntut sikap toleran terhadap keberagaman, Wahabisme yang kaku dan konservatif justru berkembang pesat di dunia Islam. Media-media baru dan percepatan sarana transportasi menciptakan peningkatan dan masifikasi interaksi antarkelompok yang beragam di lingkungan global, baik dunia nyata maupun virtual. Dan lingkungan itu jelas menuntut dikembangkannya sikap yang kosmopolitan, inklusif, dan ramah dalam melihat perbedaan, bukan sebaliknya.

Faktanya, paham-paham keislaman yang tidak ramah dengan perbedaan justru berkembang pesat di negara-negara berpenduduk muslim. Salah satu paham itu adalah Wahabisme. Mengapa Wahabisme berkembang cukup pesat di negara-negara berpenduduk muslim, mulai Maroko dan Mauritania di ujung Barat hingga ke Indonesia di ujung Timur? Setidaknya kehadiran mereka sangat menonjol di ruang-ruang publik.

Jawaban yang mengemuka biasanya sederhana, yakni peran aktor kuat dan kaya raya Kerajaan Saudi atau aktor-aktor yang lebih personal lain. Saudi memiliki segalanya untuk menyebarkan paham itu ke seluruh penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia. Mereka memiliki legitimasi keagamaan kuat dengan penguasaan atas Makkah dan Madinah.

Mereka memiliki kemampuan finansial yang melimpah dari minyak. Legitimasi keagamaan dan kekuatan ekonomi kerajaan itu membuat negara-negara berpenduduk muslim memiliki kepentingan yang begitu besar terhadap Saudi, termasuk Indonesia.

Pada titik inilah penyebaran paham Wahabi berlangsung begitu masif. Bisa dibayangkan jika setiap tahun saja ada 5 juta jamaah haji dan jumlah yang hampir sama untuk jamaah umrah. Setiap jamaah membawa oleh-oleh berupa buku-buku keislaman Wahabi, brosur, dan kaset yang dibagikan secara gratis. Berapa pula jumlah masjid, madrasah, pesantren, Islamic Center, dan universitas yang didirikan atau dibantu pembangunannya oleh penyandang-penyandang dana di bawah Rabithah Al Alam Al Islami yang merupakan sayap sosial keagamaan Saudi di dunia.

Faktor Kerajaan Saudi begitu dominan dalam penyebaran paham Wahabi ke dunia Islam. Kekuatan besar Saudi itu berubah menjadi agresivisme secara luar biasa di tengah semakin gencarnya Iran merentangkan sayap pengaruhnya di banyak negara muslim sejak 1979 serta tekanan Arab Spring yang begitu kuat.

Namun, persebaran Wahabisme bukan sepenuhnya hasil dari keringat dan minyak Saudi. Ada beberapa faktor lain yang mendorong penguatan dan perluasan pengaruh Wahabisme itu di dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Pertama, di banyak negara muslim, keran kebebasan mulai terbuka. Dalam situasi ini, kelompok-kelompok yang semula sedikit tiarap kemudian tampil ke permukaan, bahkan dengan suara yang lebih nyaring daripada kelompok mayoritas. Dengan dukungan finansial kuat, kelompok kecil itu bisa memiliki saluran media seperti jaringan TV dan radio Rodja yang tidak dimiliki kelompok mayoritas.

Kedua, banyaknya orang yang hidup dari mempromosikan aliran ini. Sulit dimungkiri, hubungan kelompok-kelompok Wahabi lokal dengan Saudi atau Kuwait atau Jordania diwarnai hubungan ”finansial” yang kental, kendati tidak semuanya, terutama dalam bentuk-bentuk bantuan sosial dan keagamaan. Di tengah masyarakat kebanyakan negeri muslim dengan tingkat ekonomi lemah, orang-orang dengan otoritas menyalurkan bantuan ini tentu memiliki daya tawar yang tinggi untuk masuk di masyarakat.

Ketiga, jargon kembali ke Alquran dan hadis, Islam yang murni dan sebagainya, serta salafuna as-salih merupakan sesuatu yang memiliki daya tarik hebat di masyarakat yang didesak modernisme dan kapitalisme yang merasuk hingga ke sumsum kehidupan umat Islam. Jargon hidup ala salafuna as-salih memiliki daya pikat yang menyilaukan banyak orang kendati mereka juga tetap menikmati perangkat-perangkat modernitas seperti HP, pesawat, dan TV. Bagi orang yang tak memiliki latar belakang pendidikan keislaman memadai tetapi punya semangat keagamaan yang sangat kuat, jargon-jargon semacam itu sungguh memiliki daya pikat kuat.

Pada titik itulah, agresivitas Saudi di dunia Islam dan faktor-faktor yang disebutkan di atas menghasilkan perluasan pengikut Wahabisme di dunia Islam. Kendati perluasan itu sering pula diiringi konflik dan perpecahan di internal mereka sendiri secara tajam.