Selasa, 28 Februari 2017

Habis Gelap Terbitlah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang
Samuel Mulia  ;    Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                     KOMPAS, 26 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Langit begitu gelap gulita di pagi hari ketika saya menulis artikel ini. Mendung menutupi Kota Jakarta. Belum lagi hujan yang tak berhenti turun. Matahari sudah tiga hari tak memperlihatkan batang hidungnya.

Dengan cuaca seperti itu, biasanya saya jadi baper alias bawa perasaan. Namun, pagi itu, saya teringat pesan seorang teman yang pernah sekali waktu menasihati, bahwa saya harus mampu bersinar seperti matahari di tengah kegelapan.

Gelap

Dulu, ketika pesan yang tampaknya masuk akal dijalani itu disampaikan, saya hanya manggut-manggut menyetujuinya. Entah mengapa pagi itu saya jadi bertanya, apakah pesan yang sudah lama disampaikan itu masuk akal untuk dijalani. Saya harus mampu menjadi seperti matahari bersinar di tengah kegelapan, di tengah mendung nan kelabu?

Saya melepaskan pandangan kepada gelapnya pagi pada hari itu. Dari tempat tinggal yang berlokasi di lantai yang lumayan tinggi, pemandangan Kota Jakarta dalam kegelapan dan hujan, seperti sebuah lukisan yang dramatis. Bahkan beberapa gedung pencakar langit yang biasanya dapat dilihat dengan jelas, hari itu tertutup kabut dan hanya samar-samar terlihat.

Tentu, pemandangan semacam itu tak menyuguhkan sedikit pun sinar matahari. Sinarnya yang biasa terik dan menyengat tak mampu menembus kegelapan sepagi itu. Maka sebuah pagi hari disebut pagi yang mendung, berkabut, dan gulita, kalau sinar matahari menjadi impoten alias tak berdaya melawan kegelapan yang dihadirkan semesta.

Melihat pemandangan dramatis sepagi itu, saya mulai meragukan nasihat teman saya di atas untuk mampu menjadi matahari yang menyinari kegelapan sehingga kegelapan sirna. Bukankah pemandangan dramatis itu telah menyuguhkan sebuah bukti nyata, bahwa matahari dengan sinarnya yang kuat sekalipun, tidak mampu menyinari kegelapan?

Dengan kemampuan intelektual yang digambarkan oleh kepala sekolah di masa sekolah dasar dahulu, sebagai ayam tanpa otak, saya berpikir bahwa akan datang masanya setiap orang akan menghadapi sebuah hari yang gelap, dan ada masanya menghadapi situasi yang terang. Namun, seseorang tak bisa menjadi pahlawan kesiangan untuk menepis hari yang seharusnya gelap, menjadikannya terang benderang.

Terang

Saya ingat sekali waktu pernah dinasihati oleh teman-teman, dan oleh mereka yang sudah mengenyam garam kehidupan lebih lama, bahwa pelajaran hidup itu bisa didapat dari begitu banyak hal dan kejadian. Baik dari sebuah keadaan yang terang, atau oleh keadaan yang gelap.

Pelajaran yang diberikan ketika kita sehat walafiat dan kaya raya, dan pelajaran ketika kita kekurangan uang dan berkelimpahan penyakit. Saya tak tahu apakah Anda pernah dinasihati seperti itu. Kalau saya, sudah sampai bosan rasanya.

Nah, kalau benar demikian nasihat mulia itu, apa pentingnya saya sampai harus menerangi kegelapan, kalau dari kegelapan seseorang bisa belajar sesuatu dan naik kelas? Mengapa saya harus berpikir bahwa kegelapan itu selalu perlu diterangi? Mengapa saya seperti merasa terang memiliki posisi tawar yang lebih tinggi?

Kalau memang benar bahwa kita bisa naik kelas karena mengalami terang dan karena mengalami gelap, bukankah keduanya memiliki bobot yang sama? Terang bisa memberi terik yang membuat seseorang berkata: "Duh panasnya setengah mati." Namun, di lain pihak, teriknya terang membuat jemuran cepat kering.

Mendung yang sangat dan membuat gulita serta hujan deras yang datang, bisa mendatangkan banjir yang merepotkan, tetapi mendung menyejukkan hari. Jadi, kalau saya menjadi manusia yang menerangi kegelapan, tidakkah saya malah menghalangi orang untuk naik kelas dan ia tak bisa belajar dari sebuah situasi yang gulita?

Saya percaya, setelah hari-hari penuh hujan yang menggelapkan bumi, akan datang hari-hari musim panas yang terik memanasi fisik. Dan, seperti juga musim yang berganti secara alamiah, maka perubahan gelap ke dalam terang akan terjadi secara alamiah ketika masanya sudah tepat untuk berubah. Maka, seyogianyalah manusia menikmati keduanya tanpa perlu mempercepat atau memaksa proses perubahan itu.

Benarlah kalau dikatakan bahwa habis gelap terbitlah terang, bukan di tengah gelap terbitlah terang. Maka, wujud dari kebahagiaan yang sejati buat saya adalah tidak bercita-cita seperti pungguk merindukan bulan untuk bersinar di tengah kegelapan.

Wujud kebahagiaan yang sejati itu adalah terdapat di dalam kemampuan bersyukur untuk menikmati kegelapan tanpa harus berharap ada terang, dan bersyukur menikmati teriknya hidup tanpa mengharap datangnya hujan yang mendinginkan.

Karena manusia hanya diberi dua kesempatan besar dalam hidupnya. Diberi kesempatan mengalami gelap dan mengalami terang. Dan, ketika manusia bercita-cita menepis kegelapan, masih pantaskah ia disebut manusia?