Selasa, 28 Februari 2017

Gerson Poyk si Jenaka

Gerson Poyk si Jenaka
AS Laksana  ;    Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                   JAWA POS, 26 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

ADA satu buku yang terasa provokatif saking tebalnya, yaitu Laut Biru Langit Biru, sebuah antologi karya sastra yang disusun Ajip Rosidi. Ia tampak berwibawa di antara buku-buku lain yang berjajar di rak perpustakaan, seperti seekor kuda nil dikerumuni serangga. Itulah buku pertama yang saya pinjam dari perpustakaan SMA 3 Semarang pada tahun pertama saya masuk sekolah tersebut, 1984, dan juga buku yang paling sering saya perpanjang masa peminjamannya karena tidak habis-habis dibaca.

Saya tidak ingat berapa ratus halaman tebalnya, tetapi edisi cetak ulangnya yang terbaru, 2013, setebal 800 halaman. Ia memuat cerita pendek, puisi, nukilan novel, esai, dan kritik sastra, mencakup rentang waktu dari 1966 hingga 1976, dan para penulisnya adalah nama-nama besar sastra Indonesia.

Di buku itu saya kali pertama berjumpa dengan nama Gerson Poyk melalui Matias Akankari, sebuah cerpen yang mengisahkan pengalaman beberapa hari seorang lelaki dari pedalaman hutan Irian Jaya di ibu kota Jakarta. Cara bertutur Gerson sangat lincah meskipun pada waktu itu saya merasa Matias Akankari bukanlah cerita yang sungguh-sungguh. Ia semacam banyolan –untuk menyampaikan berbagai ironi– untuk mengabarkan kepada kita bahwa kehidupan kelas atas di Jakarta sama belaka dengan kehidupan ’’primitif’’ di pedalaman hutan Irian Jaya: orang-orangnya sama-sama hanya memakai cawat.

Setelah perkenalan itu, tak lama kemudian saya membeli buku kumpulan cerpen Gerson Poyk Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk. Saya menyukai kelincahan bertutur Gerson Poyk dan kemampuannya menggarap cerita tentang kemiskinan dalam cara yang gagah dan lucu. Sebagian besar tokoh cerita Gerson adalah orang-orang miskin, sama seperti beberapa pengarang Indonesia. Bedanya, ia selalu bisa melihat sisi jenaka orang-orang melarat itu dan sepertinya tidak berminat menjadikan mereka bahan penguras air mata.
Saya cepat jatuh cinta pada cerpen-cerpen Gerson karena pada dasarnya saya menyukai tulisan-tulisan yang jenaka. Itu jenis karangan yang paling sulit ditulis menurut Mark Twain. Yang paling mudah, menurut saya, adalah membenamkan diri ke dalam melodrama.

Tiga puluh tahun setelah perjumpaan dengan Matias Akankari, Oktober 2015, untuk kali pertama saya bertemu penulisnya. Kami dalam pesawat yang sama dari Jakarta menuju Ende, memenuhi undangan Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur. Ia sudah 84 tahun saat itu, berangkat berdua dengan putri yang sangat menyayanginya, Fanny Jonathans –orang yang akan menjadi teman sekantor sekiranya saya dulu menerima tawaran Arswendo Atmowiloto untuk bergabung dengan tabloid anak-anak Fantasi setelah tabloid DeTIK diberedel, 1994.
Pesawat transit beberapa jam di Kupang. Kami dijemput panitia, mencari tempat makan siang, dan kemudian dibawa singgah ke kantor redaksi majalah setempat. Saya menggunakan kesempatan untuk memotretnya, baik pada saat makan maupun ketika wartawan mewawancarainya.

’’Kupang sangat menyenangkan karena ada sopi,’’ katanya ketika kami di dalam mobil. ’’Itu minuman yang mampu melembutkan hati kita. Para perempuan akan terlihat lebih cantik saat kita minum sopi.’’

Saya tertawa mendengarnya.

’’Papa tidak boleh minum sopi, nanti mabuk,’’ Fanny mengingatkan.

Seandainya kami seusia, saya yakin kami bisa menjadi teman akrab. Gerson sangat periang dan ia gemar menipu teman-temannya. Pernah suatu saat, ketika koperasi seniman baru dibentuk Dewan Kesenian Jakarta, Gerson mengabarkan bahwa setiap seniman mendapatkan pinjaman beberapa ratus ribu –jumlah yang besar pada masa itu.

’’Temuilah Motinggo Busye, dan ambil jatahmu,’’ katanya kepada salah seorang temannya, sesama penulis.

Orang itu menemui Motinggo, bendahara koperasi, dan tentu saja tidak mendapatkan apa-apa. Dia kemudian menyampaikan kabar yang sama kepada orang lain lagi, yang segera menemui Motinggo. Dan seterusnya kabar itu ditularkan dari satu orang ke orang lain, sampai kembali ke Gerson sendiri. Dan Gerson menemui Motinggo untuk mengambil jatah pinjamannya.

’’Lho, Son, itu kan yang mengarang cerita kamu sendiri,’’ kata Motinggo.

Ketika kami kembali lagi ke Bandar Udara Kupang untuk menyeberang ke Ende, saya menghabiskan waktu bersamanya di ruangan tempat merokok. Dia keras kepala dalam urusan merokok. Fanny berkali-kali mengingatkan ayahnya, ’’Papa sudah merokok terlalu banyak.’’ Gerson seolah-olah tidak mendengar.

Di ruangan merokok dia cepat akrab dengan siapa saja yang ada di sana dan menceritakan banyak hal, termasuk usianya yang sebetulnya sudah di atas 90 tahun, meskipun di dalam kartu identitas dia tercatat lahir 16 Juni 1931. Dia juga menceritakan stroke yang pernah menyerangnya.

’’Stroke itu penyakit yang menjengkelkan,’’ katanya. ’’Tiba-tiba saja dia mendatangi saya. Lalu, saya usir saja dia jauh-jauh.’’

Saya menikmati pertemuan pertama dengan Gerson, dan itu rupanya juga pertemuan terakhir. Pekan lalu, dia masuk rumah sakit. Saya berharap dia kembali bugar dan kami bisa bertemu lagi, merokok bersama-sama sambil berkelakar. Namun, kali ini dia tidak berhasil mengusir penyakitnya.

Jumat, 24 Februari 2017, Gerson Poyk meninggal. Saya mengantar kepergiannya dari rumah, dengan harapan baik, dengan ucapan terima kasih. Dari cerpen-cerpennya, saya belajar bahwa kepedihan bisa disampaikan secara gagah dan jenaka.