Senin, 27 Februari 2017

Dukung Magang Mahasiswa

Dukung Magang Mahasiswa
Handa S Abidin  ;    Wakil Rektor Bidang Kerja Sama President University
                                               KORAN SINDO, 24 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Deklarasi Pemagangan Nasional dengan target sekitar 2 juta peserta magang dicanangkan Presiden Jokowi pada akhir 2016 (www.setkab.go.id, 23/12/2016). Apakah urgensi magang dalam konteks mahasiswa? Bagaimana peran pihak terkait untuk mendukung program pemagangan dalam konteks pendidikan tinggi?

Urgensi Magang

Idealnya mahasiswa perlu melaksanakan tiga periode magang saat mereka kuliah. Pertama, magang harus dilakukan sedini mungkin pada tahun pertama mahasiswa kuliah. Kegiatan magang ini dapat dilakukan saat libur semester awal atau ketika kuliah berlangsung dengan cara paruh waktu baik terintegrasi dengan kurikulum ataupun tidak. Kegiatan magang pada periode ini tidak terlalu dini. Justru apabila kegiatan magang tidak dilakukan pada awal perkuliahan, dunia pendidikan tinggi kita sulit berkembang mengikuti tuntutan industri.

Dengan magang pada tahun pertama, mahasiswa akan tersadarkan sejak awal pentingnya menyeimbangkan teori dan praktik. Setelah magang, mahasiswa diharapkan akan lebih kritis di perkuliahan dengan mengaitkan teori dan praktik. Magang pada tahun pertama membantu mengarahkan mahasiswa untuk dapat menentukan pilihan karier sejak awal.

Mahasiswa yang melakukan magang pada tahun pertama diharapkan akan mengetahui apa yang dibutuhkan untuk dapat bersaing di dunia kerja sehingga mereka dapat mengejar hal tersebut sejak awal perkuliahan. Apabila mahasiswa ingin melakukan wirausaha, magang lebih awal akan membantu mahasiswa untuk mengetahui apa yang perlu mereka pelajari untuk menjadi pengusaha sukses. Kedua, magang harus dilaksanakan pada sekitar tahun pertengahan kuliah.

Pada periode ini mahasiswa perlu mencari peluang magang di luar negeri. Mahasiswa Indonesia tidak boleh hanya jago kandang. Magang di luar negeri dapat dilakukan di negara tetangga seperti Singapura sampai negara di benua lain misalnya di Amerika Serikat. Pengalaman magang di negara lain akan meningkatkan wawasan internasional mahasiswa sehingga meningkatkan daya saing global mahasiswa Indonesia.

ProgramPemaganganNasional perlu mengakomodasi mahasiswa Indonesia yang ingin melakukanmagangdiluarnegeri, bukan hanya di dalam negeri. Untuk menghindari ambiguitas dari nama “Pemagangan Nasional”(kata “Nasional”), adabaiknya nama program ini diubah menjadi suatu yang lebih netral dan tidak ambigu. Ketiga, magang pada tahun terakhir. Tahun terakhir adalah tahun kelulusan. Idealnya pada tahun ini magang dilakukan secara penuh waktu dan terintegrasi dengan kurikulum.

Magang pada tahun terakhir ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk mahasiswa ke dunia kerja atau awal pendirian usaha mereka di Indonesia atau di negara lain. Tentu pelaksanaan magang di luar kurikulum tidak boleh mengganggu kegiatan pendidikan dan nilai mahasiswa di universitas. Mahasiswa tetap harus menguasai ilmu perkuliahan sebagai fondasi mereka dalam menghadapi dunia kerja.

Selain itu, diharapkan mahasiswa juga tidak meninggalkan aktivitas organisasi mahasiswa dan pergaulan antarsesama mahasiswa. Kegiatan organisasi dan kehidupan sosial mahasiswa yang positif dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan karakter mahasiswa yang akan bermanfaat bagi karier mahasiswa.

Dukungan Berbagai Pihak

Terdapat paling tidak tiga pihak strategis yang memiliki peranan penting dalam mendukung pelaksanaan program pemagangan ini. Pihak pertama adalah universitas. Universitas dalam konteks ini adalah seluruh sivitas akademika dan pihak terkait lain dalam jajaran universitas, fakultas, program studi, dan bagian pendukung lain. Pada intinya universitas harus mendidik mahasiswa untuk siap magang mulai dari tahun pertama.

Mahasiswa sedini mungkin harus ditanamkan urgensi magang sehingga mereka secara sadar dan antusias ingin melakukan magang. Mahasiswa perlu dipersiapkan memahami kerangka besar ilmu program studi masing-masing sejak dini dan menguasai soft and technical skills strategis untuk persiapan magang pada tahun pertama. Teori itu penting, namun universitas perlu menghilangkan stigma dunia perkuliahan hanya belajar teori.

Teori dan praktik harus seimbang di dalam kelas. Dosen tidak boleh asing dengan dunia praktik. Idealnya dosen harus mempraktikkan ilmunya di luar kelas agar dapat mengikuti perkembangan di industri. Jika pun terdapat dosen yang belum berpraktik, dosen tersebut diharapkan mendekatkan diri dengan industri melalui metode penelitian yang tepat. Dosen juga perlu mendorong mahasiswa untuk magang dan memberikan jaringan industrinya kepada mahasiswa untuk mempermudah mereka diterima di industri.

Selain fokus mencari kerja sama magang di dalam negeri, universitas juga diharapkan dapat mengembangkan kerja sama magang dengan universitas lain, perusahaan, dan pihak terkait lain di luar negeri. Dukungan universitas untuk pelaksanaan magang internasional akan mempermudah mahasiswa untuk mendapatkan tempat magang di negara lain.

Pihak kedua adalah sektor industri. Tanpa dukungan sektor industri mahasiswa akan kesulitan mendapatkan tempat magang. Dukungan sektor industri diharapkan tidak sekadar formalitas. Ucapan Presiden Jokowi yang menyatakan peserta magang jangan hanya diberikan tugas membuat kopi dan fotokopi (www.setkab.go.id, 23/12/2016) wajib sektor industri garis bawahi. Mahasiswa magang perlu diberi pekerjaan industri yang sebenarnya dengan bimbingan dari sektor industri terkait.

Sektor industri sebetulnya diuntungkan dengan menerima mahasiswa magang yang biayanya dapat lebih kecil dibandingkan dengan pekerja tetap dan tidak tetap nonmagang. Selain itu, sektor industri juga dapat mempersiapkan calon-calon pemimpin perusahaan atau badan terkait lain sedini mungkin melalui program magang mereka. Pihak ketiga adalah negara. Negara melalui seluruh pihak relevan perlu membuat dan mendorong hukum dan kebijakan promagang.

Jangan persulit universitas dan industri untuk melaksanakan program magang. Dalam konteks magang luar negeri, pemerintah harus berdiplomasi dengan negara-negara lain untuk memudahkan birokrasi magang di luar negeri untuk mahasiswa Indonesia. Apabila berhasil, program pemagangan ini diharapkan akan memperbesar daya serap tenaga kerja dan meningkatkan pertumbuhan wirausaha di Indonesia.

Ekspansi mahasiswa magang kita di luar negeri dan yang melanjutkan dengan bekerja secara tetap atau membuka usaha di sana diharapkan bukan hanya akan menghasilkan devisa bagi Indonesia, namun juga memperlebar pengaruh Indonesia di luar negeri.