Jumat, 24 Februari 2017

Menanti Satria Pinilih yang Negarawan

Menanti Satria Pinilih yang Negarawan
Adi Sujatno  ;    Tenaga Profesional Bidang Hukum dan HAM Lemhannas RI
                                           MEDIA INDONESIA, 23 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

TAHUN 1955 merupakan momentum pertama bagi rakyat Indonesia untuk menggunakan hak pilih. Indonesia menyelenggarakan pemilu pertama untuk memilih anggota lembaga legislatif DPR/MPR, sementara presiden dipilih MPR. Hal tersebut berlangsung hingga 10 periode. Pemilu ke-11, yang diselenggarakan pada 2004, merupakan langkah baru bagi penyelenggaraan pemilu. Kali ini rakyat Indonesia dapat memilih presiden secara langsung. Alam demokrasi semakin kuat terus mengalami perkembangan hingga pada 2007, masyarakat daerah dapat memilih kepala daerah secara langsung.

Namun, seiring dengan dinamika politik dan kebangsaan, akhirnya pemilihan umum kepala daerah secara bertahap akan diselenggarakan secara serentak di Indonesia. Kini pilkada serentak tahap II telah terselenggara dengan aman dan damai pada Rabu, 15 Februari 2017 yang tersebar di 101 wilayah dan daerah dari Sabang-Merauke yang meliputi 7 Provinsi; 76 Kabupaten, dan 18 Kota, diikuti 337 pasangan calon pemimpin daerah.

Satria piningit

Dalam setiap pemilihan kepemimpinan diharapkan munculnya satria piningit. Satria piningit, berarti satria yang dipingit/disembunyikan atau sedang dipersiapkan untuk menduduki jabatan sebagai pemimpin bahkan pemimpin nasional. Dalam buku Serat Wulang Reh, satria piningit ialah sebuah surat yang berisi ajaran, piwulang, pelajaran tentang ilmu memimpin atau ilmu memerintah yang mengungkap makna tentang pemimpin sejati atau satria piningit. Buku karya Sri Paku Buwono IV tersebut digali dari warisan khasanah budaya Jawa, yang menyingkap makna tentang pemimpin sejati, yang harus diawali kemampuan memimpin diri sendiri terlebih dahulu, baru memimpin orang lain, rakyat, dan masyarakatnya menuju kemerdekaan dan kearifan. Surat yang berisi pedoman ajaran kepemimpinan ini ditujukan kepada para putra dan cucunya yang tidak lain ialah para penerus bangsa.

Konsep pemikiran satria piningit ialah pemimpin nusantara yang ideal, yaitu pemimpin sejati yang memiliki kualifikasi seorang negarawan, yang memiliki ciri-ciri antara lain, berhati putih (berbudi luhur, hormati budaya leluhur bangsanya); bergelar pangeran perang yang memiliki senjata trisula weda (benar, lurus, dan jujur); adil; dan berkasih sayang. Satria piningit inilah yang diharapkan benar-benar muncul dalam setiap suksesi kepemimpinan bangsa dan negara ini. Seorang pemimpin yang benar-benar dipersiapkan yang memiliki karakter negarawan. Namun, dengan dinamika demokrasi yang berkembang di Indonesia tampaknya sulit berharap munculnya sosok satria piningit karena kini suksesi kepemimpinan melalui pemilihan langsung oleh rakyatnya.

Satria pinilih

Secara etimologis kata pinilih berasal dari kata pilih mendapat sisipan "-in" menjadi pinilih. Ini berarti satria yang dipilih masyarakatnya, rakyatnya, bangsanya, melalui Pilkada Serentak 2017 secara luber dan jurdil sesuai perundang-undangan yang telah ditetapkan. Dalam Pasal 1 ayat (2) UUD NRI 1945, sebagai hasil amendemen ke III, dinyatakan "Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD." Makna pernyataan "Kedaulatan berada di tangan rakyat" ialah rakyat memiliki kedaulatan, tanggung jawab, hak dan kewajiban untuk secara demokrasi memilih pemimpin yang akan membentuk pemerintahan yang mengurus dan melayani seluruh kegiatan masyarakat serta memilih wakil rakyat untuk mengawasi jalannya pemerintahan melalui pemilu yang berlandaskan kepada asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (luber dan jurdil) setiap lima tahun sekali.

Memilih pemimpin artinya bukan memilih seorang kepala atau seorang manajer, melainkan pemimpin yang asalnya dari kata pimpin yang bermetafora menjadi memimpin, pimpinan, pemimpin yang bermakna pimpinlah dirimu sendiri terlebih dahulu, sebelum memimpin orang lain, sehingga lahirlah konsep self leadership, yang semoga berubah menjadi strong leadership, bahkan akan lahir seorang negarawan (statesmanship) bagi sebuah bangsa bahkan dunia.

Pilkada: mencari negarawan

Kepemimpinan ialah salah satu faktor bagi sebuah bangsa untuk menyelesaikan permasalahan nasional dan keluar dari krisis multidimensi, termasuk krisis moral. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok pemimpin strong leadership. Pemimpin yang memiliki kepemimpinan integratif, komunikatif, akomodatif, aspiratif serta yang kapabel, kredibel, arif, dan bijaksana, konsisten, tegas, dan pantas disuriteladani rakyatnya. Dalam konteks nasional, konsep berpikir pemimpin nasional harus bersifat komprehensif, integratif, dan holistis dengan tecermin pada terciptanya interaksi yang harmonis antara seorang pemimpin dengan jajarannya. Kepemimpinan yang andal harus memenuhi 11 asas kepemimpinan dan Hasta Brata.

Seluruh prasyarat itu sejatinya tidak bisa lepas dari penegasan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai strategi kepemimpinan nasional yang kontekstual, sesuai dengan situasi, kondisi, dan kurun waktu yang dihadapi. Diharapkan rakyat bangsa ini tidak salah memilih para pemimpinnya yang diharapkan dapat membawa bangsa dan negara ini semakin lebih aman sejahtera serta adil dan makmur. Semoga akan muncul pemimpin nasional yang negarawan karena maksud dan tujuan diselenggarakannya Pilkada Serentak 2017 ini tiada lain ialah mencari negarawan. Sosok pemimpin nasional yang negarawan dengan kriteria dipercaya dan diterima masyarakat; konsisten, tegas, dan tidak ambivalen; memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual serta sosial.

Berpikir sebagai negarawan; bersikap sebagai negarawan; dan bertindak sebagai negarawan. Pilkada serentak tahap II sudah dilaksanakan, kini tinggal menanti hasil penghitungan suara, menanti sosok satria pinilih. Siapa pun yang terpilih, semoga rakyat tidak salah memilih para pemimpinnya menuju Indonesia hebat. Pemimpin yang siap menjadi teladan bagi yang dipimpinnya.