Selasa, 28 Februari 2017

Wedhatama

Wedhatama
Goenawan Mohamad  ;    Esais; Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
                                                   TEMPO.CO, 27 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada suatu hari di tahun 1870-an, di Istana Mangkunegaran sebuah naskah selesai ditulis: sehimpun puisi yang frasa-frasanya dikutip orang di Jawa Tengah sampai sekarang: Serat Wedhatama.

Serat itu terasa masih "bicara", mungkin karena ia seakan-akan cetusan hari ini: pergulatan batin seseorang yang menghadapi desakan Islamisasi di sekitarnya. Dalam 100 bait itu kita bersua dengan seseorang yang dibesarkan dalam sebuah tradisi lokal yang bangga akan nilai-nilainya tapi terluka oleh zaman yang berubah.

Naskah itu disebut sebagai karya puncak kesusastraan Jawa abad ke-19. Mungkin berlebihan. Yang pasti, melalui beberapa generasi, Wedhatama ditembangkan dengan khidmat oleh para literati -- dianggap kitab petunjuk spiritual -- tapi juga dikenal luas hingga para pengamen di tepi jalan Solo dan Yogya hafal tiap baitnya.

Disebutkan bahwa penggubahnya Mangkunegara IV, yang waktu itu berkuasa di sebagian wilayah Surakarta. Dalam riwayat resmi ditulis, ia memang kelihatan istimewa sejak remaja. Kakeknya memberinya perhatian khusus: anak ini harus belajar kepada guru-guru Belanda.

Perhatiannya kepada kesusastraan berkembang. Di masa kekuasaannya, ada 45 karya yang diproduksi -- sebuah jumlah yang mengesankan dalam sejarah Jawa setelah zaman Hindu. Tak bisa dipastikan Wedhatama memang buah tangan sang raja sendiri. Di antara bait-baitnya sang penulis menyebut diri seseorang yang di ujung kariernya "mengajar putra raja". Tapi mungkin ini kamuflase.

Ia merendah: ia bodoh (cubluk) dan belum bisa berbahasa Arab (durung weruh cara Arab), bahkan "bahasa Jawaku pun tak sempurna". Di masa muda, ia pernah sebentar menjalani hidup yang "bergairah kepada agama" (abérag marang agama). Tapi ia berguru ajaran Islam dengan motif yang baru kemudian ia ungkapkan: "Rahasia hatiku: sangat takut akan ketentuan akhir zaman" (Sawadiné tyas mami, banget wediné ing bésuk pranatan ngakir jaman).

Maka ia merasa tak pantas jadi ketib suragama, pengkhotbah yang berani membahas agama. Ia tak akrab dengan ajaran Islam. Ia memilih berpegang pada apa yang digariskan leluhur. Dasar-dasar kearifan yang berlaku di lingkungannya sejak dulu itu penting. Jika ia ingkari itu, "daun jati kering akan lebih bernilai" ketimbang dirinya.

Demikianlah sang penulis Wedhatama menghindari kehidupan beragama yang formal. Ia hanya ingin jadi seseorang yang peka kepada yang tersirat dalam ayat Tuhan, mangayut ayat winasis. Dari sana ia bisa memandang ruang dan waktu tanpa penghalang. Lakunya ibarat orang bertapa, mengikuti jejak Yang Mahakasih (tapa tapaking Hyang Suksma).
Maka dengan masygul ia saksikan anak-anak muda memamerkan keislaman mereka dengan pongah: mengunggulkan diri dengan menghafal ayat, mundhi dhiri rapal makna. Dengan pengetahuan yang terbatas, tapi tak sabar untuk memperlihatkan keunggulan diri, mereka tafsirkan ayat dengan sikap seperti "sayid lulusan Mesir". Lalu menilai orang.

Durung pecus

Kesusu keselak besus

Amaknani rapal

Kaya sayid weton Mesir

Pendhak-pendhak angendhak gunaning janma

Sikap beragama itulah, yang tak mau kalah, yang merisaukan Wedhatama. Penyair Jawa ini seorang tradisional, tapi kecenderungan konservatifnya merupakan jawaban, atau pertahanan, terhadap perubahan di masyarakatnya: ia cemas ketika Islam jadi identitas yang dikibar-kibarkan generasi baru. Ia mengacu ke masa silam, ke masa awal Mataram di abad ke-17, ketika Islam belum jadi bendera yang dipasang agar dilihat orang lain -- ketika orang menyukai kehidupan yang sunyi.

Menarik bahwa baginya sikap itu justru mengandung sikap ethis yang lebih dalam ketimbang sikap generasi yang "gemar menirukan Nabi", manulad nelad Nabi, dan anggung anggubel saréngat, bangga bersyariat. Di situ sang penyair lebih mirip seorang sufi. Tapi ia sufi yang tanpa ilmu—atau ilmunya ia capai dengan dan dalam laku, kalakoné kanthi laku.

Laku itu adalah pengalaman hidup yang terlatih dengan empati kepada sesama, bagian hidup yang selalu pantas disyukuri. Tercelalah orang yang gampang marah kepada dunia. Wedhatama mengutamakan sikap "rela, tak pernah merasa menyesal karena kehilangan, bersabar bila dihina, legawa dalam kesengsaraan, pasrah kepada Tuhan" -- yang dalam teks disebut "Bathara".

Dalam diri penyair ini, agama adalah penghayatan. Iman tumbuh dalam dunia yang ia terima dengan akrab—bukan datang dari luar. Maka ia kritik mereka yang "paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah", memaksakan diri mengambil pengetahuan di Mekah. Ia tunjukkan bahwa sesungguhnya inti penghayatan itu melekat dalam diri kita—dan iman jadi autentik.

Para pembaca mungkin akan menilai perspektif Wedhatama menolak apa yang bukan-Jawa. Tapi kita ingat, penyairnya merasa bahagia merasakan isyarat dari Tuhan di mana-mana, tanpa penghalang: tan pangaling-aling. Artinya, di sanalah tumbuh sesuatu yang universal, yang melebihi rumusan ajaran.

Sang penyair seakan-akan mengutarakan pengharapan religius yang sedang terancam di abad ke-21.