Sabtu, 11 Februari 2017

Pustakawan dan Masyarakat Melek Digital

Pustakawan dan Masyarakat Melek Digital
Dyah Safitri ;  Dosen Manajemen Informasi dan Dokumen,
Program Pendidikan Vokasi, UI
                                                     KOMPAS, 10 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saat ini kita berada pada suatu era di mana informasi mengalir tanpa henti, melewati batas negara, multi-layar, dan dapati diakses oleh semua orang. Ketika masyarakat tidak siap dengan kemajuan itu, ekses negatif pun merebak. Kompas (6/2/2017) mencatat bagaimana reproduksi informasi melalui peranti digital dapat memicu konflik sosial di sejumlah tempat di Indonesia. Gara-garanya, banyak masyarakat yang sekadar membagi tautan dan konten ke akun media sosial tanpa mengecek kebenaran informasi yang disebarkannya.

Kondisi tersebut menguak kembali kondisi literasi di Tanah Air yang masih memprihatinkan. Melek digital (digital literacy) yang selalu dihubungkan dengan kemampuan masyarakat membaca dan mengevaluasi informasi yang mereka peroleh.

Ketika informasi tersebut benar dan bermanfaat mereka akan sukarela menyebarkan melalui peranti digital. Kondisi melek digital juga kerap dihubungkan dengan kemampuan literasi lain, yaitu melek media, melek internet, melek informasi, dan melek media sosial. Dengan definisi seperti di atas, maka mewujudkan masyarakat yang melek digital bukan upaya semudah membalik telapak tangan. Apalagi, di awal tahun lalu saja sebuah universitas di Amerika Serikat melakukan survei tentang literasi dan meletakkan Indonesia di posisi 61 dari 62 negara yang disurvei.  Hanya satu strip di atas salah satu negara Afrika, Botswana. Padahal, literasi selalu dihubungkan dengan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai tumpuan pertumbuhan ekonomi masa depan.

Indikator yang diukur adalah investasi negara pada pendidikan, jumlah buku di perpustakaan, jumlah komputer di rumah tangga, hingga konsumsi masyarakat pada surat kabar.

Seolah berhadapan dengan tembok tebal, bagaimana kita dapat membangun masyarakat melek digital di tengah kondisi literasi yang tidak mendukung seperti itu? Tentu, tanggung jawab ini bukan hanya menjadi beban pemerintah, melainkan juga masyarakat.

Upaya sosialisasi terus-menerus tentang melek digital perlu dilakukan secara berkala. Pada saat yang sama, upaya membangun kesadaran itu juga dilakukan dengan menggarap segmen anak usia sekolah. Segmen anak usia sekolah menjadi penting karena pada generasi milenial inilah perangkat teknologi baru sekalipun langsung gampang diadaptasi. Generasi ini juga kerap dilabeli sebagai generasi multi-layar karena hidup mereka berlangsung dari tatapan layar yang bergonta-ganti dari televisi, ponsel cerdas, komputer, hingga konsol permainan. Ketika kesadaran melek digital dibangun dari usia dini, maka antisipasi terhadap dampak negatif perkembangan digital dapat terbangun dari fondasinya.

Pustakawan berperan?

Melek digital memang menjadi salah satu topik menonjol dalam perbincangan di dunia ilmu informasi. Melek digital dan melek informasi kerap dihubungkan dengan pembicaraan mengenai banjir informasi, pembelajaran sepanjang masa, manajemen pengetahuan, dan tumbuhnya masyarakat informasi. McIntosh (2016) menyebut era ini sebagai tantangan besar bagi pustakawan karena mereka tak hanya bertugas menemukan, mengevaluasi, dan menyebarkan informasi. Mereka juga dituntut untuk dapat terus bersanding dengan melek digital dan melek informasi.

Berbagai upaya pemerintah untuk membangun literasi pada usia sekolah, seperti gerakan 15 menit membaca sebelum pelajaran, memang memberikan dampak positif. Namun, langkah itu belum cukup. Sebab, di luar waktu itu, anak-anak juga akan tetap berhubungan dengan peranti digital, entah itu melalui komputer dengan akses internet atau ponsel cerdas. Kemungkinan akan terpapar informasi bohong, tidak benar, hasutan, ataupun ujaran kebencian juga masih tinggi.

Pustakawan sekolah atau guru pustakawan sebaiknya memberikan makna dengan lebih menekankan kepada siswa bagaimana budaya melek digital dapat diterapkan dengan mudah dan sederhana. Pustakawan harus menekankan kepada siswa untuk tidak asal mengunyah informasi berbasis teks, gambar, dan video karena informasi memang mudah diakses, tetapi pada saat yang sama punya potensi negatif yang juga besar. Lalu, biasakan siswa untuk tetap kritis dan skeptis menghadapi serbuan informasi. Sikap ini sangat penting karena siswa akan mencari perimbangan informasi, melakukan cek dan cek ulang, serta dapat melakukan swa-evaluasi apakah perlu menyebar informasi yang kebenarannya dipertanyakan. Siswa juga dapat berperan aktif mencegah informasi tidak benar beredar di tengah masyarakat setidaknya mulai dari anggota keluarganya.

Bisa dibangun

Dalam konteks yang lebih luas, budaya melek digital dapat juga dibangun di tengah masyarakat. Sebagai profesional informasi, pustakawan berada di garda depan  dalam membangun melek digital. Pustakawan dapat menjadi jembatan pertukaran pengetahuan dari yang sudah melek digital ataupun yang belum.

Masyarakat dengan level melek digital yang bervariasi juga harus dapat difasilitasi oleh pustakawan sehingga mereka dapat saling berbagi dan membangun program kolaboratif. Setiap orang yang memiliki potensi dapat saling belajar dan mengajar sehingga melek digital dapat diperkuat melalui komunitas masyarakat.

Perpustakaan umum ataupun perpustakaan komunitas dapat melakukan penguatan dalam melek digital karena digitalisasi memang membutuhkan budaya baru berupa keterbukaan, kemanfaatan, inklusif, dan merasakan pengalaman menggunakan kemajuan teknologi informasi.
Artinya, ketika kita berhasil membangun kesadaran melek digital pada  level siswa ataupun masyarakat, dampak negatif berupa informasi bohong, hasutan, atau ujaran kebencian di multimedia sekalipun dapat ditekan. Kita boleh berharap informasi negatif seperti itu tak akan mendapat tempat suatu saat nanti. ●