Rabu, 08 Februari 2017

Membangun Mental Pendaki

Membangun Mental Pendaki
Hasanudin Abdurakhman ;  Cendekiawan, Penulis;  Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                 DETIKNEWS, 06 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Para pendaki adalah orang-orang yang sedang berjalan menuju puncak. Orang pada posisi ini penuh semangat dan keyakinan untuk tiba di puncak. Puncak bisa bermakna suatu tempat pasti, pada posisi tertinggi, tapi lebih sering bermakna mengalahkan pemain yang sudah berada di depan kita, memimpin kompetisi. Karakter terpenting para pendaki adalah semangat dan keyakinan bahwa ia akan tiba di puncak, atau bisa menyalip orang di depannya. Semangat ini penting untuk dimiliki oleh perorangan atau organisasi yang sedang berjuang mengejar cita-cita.

Keunggulan seorang pendaki adalah pada semangatnya yang membara. Ini bisa menjadi energi pendorong yang sangat besar. Energi ini bisa membuat orang terus menerus berusaha, tanpa kenal lelah. Energi ini juga bisa membuat orang tidak menyerah, saat ia mengalami kegagalan. Membangun semangat pendaki artinya membangun semangat tak kenal menyerah ini.

Para pendaki juga memiliki mental prihatin. Kita pendaki, bukan pemimpin yang sudah berada di depan atau di puncak. Kita tidak boleh terlena dengan kenikmatan. Kenikmatan bisa menguras energi kita. Energi yang seharusnya dipakai untuk mendaki, malah dipakai untuk mengejar kenikmatan. Kenikmatan juga bisa membuat kita terlena, lupa pada tujuan yang hendak kita capai. Para pendaki tak boleh berperilaku seperti itu.

Pendaki harus punya strategi yang tepat. Strategi itu terdiri dari visi memastikan ia berada pada jalur yang benar menuju puncak. Visi diterjemahkan dalam rencana aksi yang detail, yang relevan, memastikan setiap detilnya membawa sang pendaki selangkah lebih dekat kepada puncak. Lalu ia fokus mengeksekusi setiap langkah itu, sambil sesekali melakukan evaluasi apakah ia sudah berada di jalur yang benar. Bila melenceng, maka ia harus mengambil langkah korektif.

Selain itu, inovasi juga merupakan kunci penting yang harus dipunyai setiap pendaki. Ia harus berinovasi mencari jalan-jalan yang bisa membuatnya mendaki lebih cepat. Tentulah jalan itu bukan jalan yang sudah dilalui oleh para pendahulunya. Ia harus membangun kreasi baru. Atau, bisa saja ia menempuh jalan yang sama, tapi dengan teknik yang berbeda. Intinya, ia harus punya inovasi untuk membuat perbedaan, bukan sekadar jadi pengekor.

Sifat kreatif-inovatif sering kali merupakan bagian intrinsik dari seorang pendaki. Ia hanya perlu menjaga agar semangat itu tidak pudar. Lebih bagus lagi bila semangat itu bisa terus dibesarkan. Dalam konteks perusahaan, inovasi bisa dihasilkan dari kegiatan riset dan pengembangan. Banyak orang salah kaprah, menganggap kegiatan ini sebagai barang mewah yang baru boleh dinikmati kalau perusahaan sudah besar. Mentalitasnya tetap begitu, meski perusahaan sudah tumbuh lebih besar. Kelak ketika sudah besar pun, kegiatan pengembangan tetap dianggap mewah atau mubazir.

Riset dan pengembangan tidak perlu menunggu sampai perusahaan menjadi besar. Skalanya selalu bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada. Penentu utamanya bukan pada dana atau sumber daya, tapi pada visi pelaku organisasi. Bila visi itu ada, maka pelaku organisasi akan mengusahakan sumber daya yang diperlukan.

Ada satu hal penting yang harus diperhatikan oleh organisasi yang sedang tumbuh besar, yaitu inefisiensi. Inefisiensi pada organisasi bisnis kecil tidak terasa, karena nominalnya bisa dianggap kecil. Namun saat organisasi membesar inefisiensi ini jadi terasa, karena merupakan kelipatan dari inefisiensi yang selama ini ada, pada semua unit bisnis baru. Menghilangkannya tidak mudah, karena perilaku inefisiensi sudah menjadi kebiasaan yang dianut begitu banyak orang. Karena itu, dalam jalur pendakian sangat penting untuk membangun berbagai kebiasaan efisien, yang menjadi perilaku setiap individu dalam organisasi.

Bukankah semangat ini hanya relevan untuk yang sedang tumbuh? Bagaimana dengan yang sedang berada di puncak? Ingatlah bahwa sesungguhnya puncak-puncak itu virtual sifatnya. Ketika kita sudah mencapai suatu titik, selalu ada titik yang lebih tinggi untuk dikejar. There is always one more mountain left to climb. Justru semangat ini harus terus menerus dipelihara oleh orang atau organisasi yang sudah berada di puncak. Kalau tidak, ia akan terperosok pada turunan, tergelincir jatuh ke jurang, lalu berada pada posisi terbawah. ●