Senin, 13 Februari 2017

Kutipan

Kutipan
Samuel Mulia  ;  Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                     KOMPAS, 12 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Di suatu pagi dengan hati yang kesal entah kenapa, saya membaca sebuah kutipan berbunyi begini, "Sometime we need to be hurt in order to grow. We must lose in order to gain". Membaca itu, saya tambah kesal. Benarkah demikian?

Hidup tanpa formula

Saya termasuk orang yang tidak mau memercayai kutipan, seberapa pun baik dan masuk akalnya kutipan itu. Saya tak tahu kalau Anda dan dia yang membagi kutipan di atas. Saya bisa mengatakan itu karena selama ini saya melihat secara nyata, tak semua manusia memiliki perjalanan hidup yang sama.

Kalaupun perjalanan hidup dua anak manusia itu sama, sama-sama menderita dengan penderitaan yang tingkatan dan jenisnya sama, toh hasil akhirnya tak bisa sama. Tidak samanya bukan karena yang satu memercayai kutipan dan yang satu tidak, tetapi hasil akhir itu bukan berada di tangan manusia.

Ada kehendak di luar manusia yang memiliki andil membuat hasil berbeda. Kutipan itu seperti narkoba. Membangkitkan semangat, tetapi seringkali mengecewakan. Kutipan itu saya percaya dibuat oleh seseorang yang telah mengalami sebuah peristiwa dan memberikan pengalaman hidup kepada dirinya.

Yang keliru, menurut saya, mereka menasihati orang lain dengan pengalaman hidup mereka kepada saya yang tak memiliki perjalanan yang sama. Maka, seringkali saya berpikir sebaiknya tak perlu membuat kutipan atau nasihat, yang perlu itu membagi pengalaman.

Kutipan atau nasihat itu buat saya cenderung menyimpulkan sebuah peristiwa akan berjalan demikian, atau harus demikian. Membagi pengalaman tidak ada unsur menyimpulkan. Itu mungkin, mengapa kutipan sebaik apa pun, selalu menjadikan saya kesal dibuatnya.

Karena saya berusaha memercayai bahwa kalau saya menyakini kutipan itu, saya akan mendapatkan hasil yang sama. Tetapi sama sekali tidak demikian adanya. Paling tidak kalau melihat hasil dari perjalanan hidup saya.

Waktu saya menjalani operasi cangkok ginjal, saya berkenalan dengan begitu banyak pasien yang sama penderitaannya. Penyebab penderitaan itu pun sebagian besar tak berbeda. Apa hasil akhirnya? Yang satu hidup sampai tulisan ini dibuat, yang satu meninggal dunia beberapa hari setelah operasi. Sekarang kalau saya bertanya, yang mana yang menderita dan yang memperoleh kemenangan? Yang meninggal atau yang hidup sampai sekarang?

Membuat formula

Jadi, benarkah kalau kadang saya butuh menderita untuk bertumbuh? Mengapa saya harus kehilangan untuk mendapatkan kemenangan? Mengapa saya butuh untuk menderita kalau saya bisa tidak menderita? Mengapa perlu sampai kehilangan untuk menang, sementara saya bisa tak perlu sampai kehilangan?

Memangnya kalau tidak menderita, tidak kehilangan, saya menjadi tak bisa tumbuh dan menang? Kalaupun bisa tumbuh dan menang, maka pertumbuhan dan kemenangan itu tidak setokcer dibandingkan dengan yang menderita dan yang kehilangan? Begitu?

Sejak kapan ada yang membuat aturan main atau standar baku bahwa kalau menderita pertumbuhan dan kemenangannya akan lebih dahsyat daripada yang tidak menderita dan tidak kehilangan? Memang ada manusia yang sejujurnya mau menderita? Kalau saya, sungguh tidak mau. Saya tak tahu kalau Anda.

Dulu saya pernah termakan dengan sejuta kutipan yang positif. Saya ikuti. Hasilnya? Lihat saja saya sekarang ini. Penderitaan saya tak membuat saya bertumbuh, tapi mendatangkan kekesalan yang sangat. Kehilangan yang saya alami tak memberi saya kemenangan apa pun, tetapi kekecewaan yang sangat.

Maka kemudian saya memutuskan untuk tidak lagi memercayai kutipan. Saya tidak lagi mengikuti akun seseorang di sosial media yang isinya kebanyakan berisi kutipan doang. Pembebasan terhadap kutipan itu memberikan hasil bahwa seyogianya saya ini lebih menghabiskan waktu untuk mengenal diri saya sendiri. Pengenalan atas hal-hal apa saja yang telah diberikan Yang Maha Kuasa sejak saya lahir sampai sekarang ini.

Baik soal kemampuan intelektual, emosional, maupun spiritual. Sebab, perbedaan ketiga kemampuan itu yang akan membedakan hasil dari sebuah perjalanan hidup. Bukan kutipan alias perjalanan hidup orang lain yang akan memberi persamaan hasil. Saya harus lebih memercayai diri saya sendiri ketimbang orang lain.

Belajar memercayai dan mencintai diri sendiri itu menghasilkan sebuah standar hidup yang khas untuk diri kita sendiri. Saya harus belajar menemukan dan memformulasikan standar itu dan hidup berdasarkan formula itu. Kebahagiaan itu bisa diciptakan bukan karena saya mencintai formula hidup orang lain, tetapi mencintai formula hidup diri sendiri.