Senin, 13 Februari 2017

Jembatan Agama

Jembatan Agama
Jean Couteau  ;  Wartawan Senior Kompas
                                                     KOMPAS, 12 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Perbedaan sosial apa pun bisa ditempuh dengan dua cara yang bertolak belakang satu sama lainnya: kita bisa menekankan perbedaan tersebut, atau sebaliknya menyangkalnya. "Kau beda," kata anggota kelompok pertama, "kau lain warna rambutnya, lain Tuhannya, lain bangsanya, maka aku tak mau ada urusan dengan kau...."

"Bisa jadi kau berwarna rambut lain," tukas anggota kelompok kedua, "tetapi kita sama-sama mempunyai rambut; bisa jadi kau mempunyai Tuhan yang lain, tetapi kita sama-sama menghadapi masalah makna dan tujuan hidup; bisa jadi kau berbangsa lain, tetapi kita sama-sama mempunyai ruang yang mengatur cara kita mencari makan dan hidup berkelompok. Para ilmuwan modern menjelaskan bahwa kelompok pertama bereaksi atas dasar "alam", akibat picuan amigdalia di otak, sedangkan yang kedua bereaksi atas dasar "pengadaban" atau kultur.

Bila memang demikian, bisa jadi orang Indonesia zaman dulu lebih beradab daripada orang Indonesia zaman ini, yang kian sibuk menekankan perbedaan agama, yang kian asyik juga mengutak-atik buku-buku suci untuk mencari suatu kepastian Kebenaran yang tak mungkin ditemukan di luar keyakinan itu sendiri.

Orang dulu agaknya lebih bijak, apalagi di Bali, di suatu desa yang saya sempat kunjungi baru-baru ini. Namanya Pacung, di pesisir Bali Utara. Pesisir berarti tempat pelintasan dagang ke Barat dan ke Timur, yaitu ke Demak (Jawa) yang diberi diidentikkan dengan "Mekkah" menuju ke Semenanjung Malaka. Di Timur, para pelaut menuju Bayan di Lombok Utara, Buton dan Ternate-Tidore, mengikuti jalur Raden Patah dan para mubaligh Islam abad ke-16.

Para mubaligh dari Demak itu singgah di Pacung. Menurut legenda lokal, dahulu kala salah satu mubaligh diminta sobat Balinya untuk singgah di Pacung yang kala itu dilanda marabahaya -penyakit oleh binatang buas-untuk membantu masyarakat keluar dari kenestapaannya. Dia berkenan singgah, tetapi dengan suatu syarat: dia tidak akan disajikan daging babi, dan tidak pula hidangan mengandung darah (lawar merah). Para penduduk menerima syarat itu, dan berkat kesaktian si mubaligh itu, lenyaplah segala penyakit dan bahaya..

Sang mubaligh lalu pergi, menuju ke Timur, meneruskan dakwahnya. Namun, penduduk Pacung tidak melupakan jasanya. Penduduk menyebutnya sebagai "Ratu Mekkah"-karena dari Demak-dia dibuatkan sebuah kuil dan dihormati di pura lokal di samping sahabat Balinya, "Ratu Manik". Dan mereka berdua, setiap tahun Bali, bersama-sama dirayakan sebagai leluhur desa Pacung. Kini, di dalam tarian "gambuh" sambutan hari jadi upacara pura itu masih terlihat orang-orang berjubah yang memainkan peran para mubaligh merangkap pedagang itu. Jadi, kisah musafir Islam zaman dulu itu menjadi tarian yang melegenda.

Dapat diduga pula apa yang dibawa para mubaligh itu: ajaran agama tentu saja di satu sisi, tetapi juga obat-obatan di sisi lain. Mereka berdakwah dengan merangkap sebagai tabib. Di dalam posisinya, mereka minta perbedaan agamanya dihormati-perihal halal makanannya-tetapi mereka menerapkan persaudaraan dan kemanusiaan dengan cara yang sedemikian kental sehingga masyarakat lokal sekalipun merasa perlu merayakannya di dalam kultus Hindunya. Singkatnya, pada waktu itu, bukan perbedaan yang ditekankan antara para mubaligh dan tuan rumah Hindunya, melainkan persamaan. Perbedaan dan pembedaan ada, tetapi di dalam hal ibadah saja. Bukan di dalam kehidupan sosial, kultural, dan politiknya.

Dari cerita seperti ini terlihat apa sebenarnya inti atau DNA dari Islam Nusantara: menerapkan apa yang disebut rahmatan lil alamin, menafsirkan agama sebagai jembatan, bukan sebagai penyekat; berbagi kehidupan sosial, kultural dan politik, apa pun perbedaan dalam bidang agama.

Dunia kini telah berubah. Untuk orang Pacung zaman dahulu, dunia para mubaligh yang "berbeda" ditanggapi positif, karena berarti obat dan kemajuan. Kini, dunia global yang pada galibnya "asing" itu sebaliknya kerap dianggap membawa ancaman. Namun, hal itu jangan disalahtanggapi: apa pun yang diteriakkan Trump atau Al-Baghdadi jangan sampai hal itu membuat kita mengubah agama-agama menjadi benteng-benteng penuh pejuang yang salah perjuangannya. Semoga.