Rabu, 08 Februari 2017

Algoritme Kebencian

Algoritme Kebencian
Geger Riyanto ;  Esais; Peneliti Sosiologi; Mengajar Filsafat Sosial dan Konstruktivisme di Universitas Indonesia dan Bergiat di Koperasi Riset Purusha
                                                     KOMPAS, 07 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“Apabila Anda ingin memerdekakan sebuah masyarakat, yang Anda butuhkan adalah internet.”   Wael Ghonim, Aktivis Internet

Sewaktu Ghonim mencetuskan ini pada 2011, optimismenya memang beralasan. Mesir berada di ambang revolusi yang akan menggulingkan pemerintahan otoriter Mubarak. Berkat media sosial, rakyat menemukan kelaliman pemerintah dan bergerak menuntut perubahan.

Tak butuh waktu lama sampai Ghonim pupus harapannya. Ghonim—yang perannya dalam memobilisasi rakyat melalui Facebook dianggap vital—terkoyak menyaksikan bagaimana media sosial memecah belah kekuatan rakyat yang seharusnya mengawal demokratisasi di negaranya. Ujaran kebencian, provokasi mengadu domba, dan berita palsu menguasai media sosial.

Kekecewaan Ghonim kini tidak sulit kita jumpai. Sewaktu Trump memenangi pemilu tempo hari, mata tak hanya tertuju pada kebangkitan populisme ekstrem yang melalap berbagai belahan dunia hari ini. Berbagai pihak menuntut Mark Zuckerberg, CEO Facebook, untuk bertanggung jawab atas maraknya berita palsu yang menguntungkan kandidat yang mengecer nasionalisme dan sensasionalisme vulgar itu di media sosialnya.

Dari data yang diperoleh perusahaan pemantau jejaring sosial, Buzzsumo, memang klaim ini punya dasar. Dari 16 juta respons yang diperoleh 20 berita teratas perihal pemilu di Facebook, 8,7 juta respons tertuju pada berita palsu seperti ”Paus Francis Mendukung Trump” atau ”Hillary Terungkap Wikileaks Menjual Senjata ke ISIS”. Sebagian besar berita itu melejitkan citra Trump dan mencederai citra Hillary.

Apakah situasi semacam ini asing di Indonesia? Kita tahu: tidak.

Gelembung paranoia

Kala diminta pertanggungjawabannya atas berbagai informasi menyesatkan, Facebook menampik. Seperti yang dari waktu ke waktu ditegaskannya, Mark Zuckerberg mengetengahkan bahwa Facebook merupakan perusahaan teknologi. Facebook, berbeda dengan media massa, tak memproduksi kandungan yang beredar di jejaringnya. Karena itu tak bisa dituntut bertanggung jawab atasnya.

Namun, kita pun bisa menimpali balik, andai saja persoalannya benar-benar sesederhana itu. Sedari awal Facebook didesain sebagai sebuah ekologi digital yang tak hanya menghubungkan orang-orang, tetapi juga menyihir mereka tenggelam di dalamnya. Mereka mencetak untung dari waktu dan perhatian yang dihabiskan para pengguna di jejaringnya—menjualnya sebagai peluang beriklan strategis bagi perusahaan yang sadar televisi—saat daya jangkau media cetak melemah sekarang.

Karena itu, Facebook dalam usaha menegakkan dominasinya atas platform media sosial lain mengembangkan algoritme yang efektif membaca sekaligus menyajikan dinamika dan drama jejaring sosial yang mengikat penggunanya. Facebook menyusun satu rumus untuk mengalkulasi acungan jempol, jejaring pertemanan, waktu membaca pos, serta semua jejak perilaku digital pengguna yang dapat menerka selera dan preferensi tiap pengguna. Lantas Facebook akan memilihkan unggahan status, foto, berita dari jaringan sang pengguna yang dianggapnya akan memikat pengguna bersangkutan.

Facebook tak mengembangkan algoritme ini secara instan. Namun, hasilnya adalah Facebook yang kita jumpai hari ini; media sosial terbesar yang jumlah pengguna aktifnya tak mungkin lagi terkejar lagi oleh media sosial lainnya. Apa yang acap Anda lihat pertama ketika membuka laman utamanya?

Muatan-muatan menggugah emosi, sentimentil dan, yang terpenting, memaksa Anda terus memancangkan perhatian ke lamannya. Banyak di antaranya yang, tak bisa kita tampik, merupakan berita membahagiakan, seperti kabar kelahiran anak seorang teman dekat. Yang tak kalah banyak adalah informasi yang menorehkan kebencian, kemarahan, ketakutan, kecemasan.

Facebook sendiri, tentu, tak pernah menggambarkan algoritme yang dikembangkannya bertujuan memprovokasi atau memanipulasi emosi para penggunanya. Di laman beritanya, Facebook menyampaikan bahwa pihaknya ingin merancang sebuah platform tempat para penggunanya tak akan melewatkan kabar penting dari jaringan perkawanannya serta memperoleh interaksi otentik dan bermakna.

Akan tetapi, siapa yang bisa mengantisipasi kalau ternyata algoritme untuk tujuan demikian melecut pula kandungan yang mengobarkan permusuhan kepada yang lain? Bahwa yang lantas terjadi bukan hanya Anda terjalin setiap saat dengan kawan-kawan, tapi juga digerayangi paranoia tak beralasan dari muatan yang menggentayangi jejaring Anda?

Kapitalisme digital

Pengaruh algoritme ini tak berhenti pada mengubah cara banyak orang memperoleh informasi. Ia pun, dengan sendirinya, mengubah secara dramatis cara orang-orang memproduksi dan mereproduksi informasi. Apabila satu pihak menginginkan kandungan yang disusunnya tersebar dan memperoleh entah untung sosial, politik, ataupun finansial darinya, mereka harus mengikuti logika yang dirampungkan media sosial dalam penyajiannya.

Akibatnya jika hari-hari ini situs berita kredibel sekalipun mengerdilkan dirinya menjadi penjaja judul bombastis sentimental. Situs berita remang-remang, dapat ditebak, semakin leluasa dalam menebar kabar liar yang tak dapat dipertanggungjawabkan dan menyulut emosi. Muatan yang demikianlah toh yang, harus diakui, mendapatkan panggung utama dalam jejaring sosial digital kita.

Sebuah artikel BuzzFeed bahkan mengungkap ada sekelompok anak muda di Macedonia yang pencahariannya menyusun dan menyebarkan berita palsu seputar pemilu AS dan terutama yang mengangkat Trump. Mengapa mereka melakukannya? Jawabannya sederhana: uang. Uang akan mereka peroleh ketika para pengguna media sosial yang terbujuk mengunjungi situsnya. Namun, pertanyaan pentingnya, mengapa mereka bisa melakukannya? Tak lain karena media sosial menyediakan medium ampuh penyebarannya.

Yang menarik, anak-anak muda ini mengaku sempat berusaha menayangkan pula berita perihal senator Bernie Sanders. Namun, tak ada yang bergaung lebih kuat di Facebook dibandingkan dengan berita tentang Trump dan Trump, kita tahu, sejak pertama dibesarkan sekaligus membesarkan figurnya sendiri dengan kampanye kebencian.

Bukankah hal ini juga menggambarkan bagaimana kini muatan kebencian menyalip muatan lainnya dalam menggenggam kehidupan digital kita? Itu lantaran ia lebih mudah menjangkiti khalayak dan memungkinkan pihak mengambil keuntungan darinya?

Apa yang kita saksikan ini menjadi paradoks telanjang era teknologi informasi. Semakin canggih perkakas yang memudahkan kita berhubungan dengan insan lain, semakin sempit dan picik cakrawala pandang kita. Kita jadi sandera sentimen kita sendiri yang dipetakan, dipancing, dimanipulasi sehingga sebagian pihak lain menangguk mujur. Kita jadi sandera sesosok makhluk dalam gelap yang beberapa tahun silam bahkan belum lahir: kapitalisme digital. ●