Kamis, 17 November 2016

RI dan Amerika Saling Membutuhkan Siapa pun Presidennya

RI dan Amerika Saling Membutuhkan
Siapa pun Presidennya
A Tony Prasetiantono ;   Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM
                                         MEDIA INDONESIA, 14 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

TERPILIHNYA Donald Trump merupakan kejutan luar biasa. Menjelang pemilihan dilakukan, majalah The Economist bahkan sudah terlanjur memasang gambar karikatur Hillary Clinton di sampul mukanya (cover story) dengan judul yakin: America's Best Hope. Meski demikian, majalah ekonomi terkemuka tersebut mengakui, bahwa dukungan pemilih terhadap Donald Trump juga mulai merongrong Hillary di saat-saat terakhir. Namun The Economist tetap yakin bahwa Hillary tetap akan menang. Tetapi, ternyata sejarah barusan mengatakan sebaliknya.

Analisis yang paling standar terhadap "mazhab" (school of thought) apa yang dianut oleh Presiden Amerika Serikat ke 45 ini adalah, dia akan protektsionistik terhadap perekonomian domestik AS. Trump mengatakan ini dalam berbagai kesempatan kampanye. Ini sebenarnya merupakan hal yang masuk akal, karena dalam banyak hal AS dirasa seperti "bumper" bagi perekonomian dunia. Ketika perekonomian dunia sedang sakit, maka harapan pemulihannya tergantung pada AS, sebagai lokomotif dunia.

Lihatlah statistik neraca transaksi berjalan (current account) yang defisit sangat besar US$ 488 miliar, atau ekuivalen 2,6% terhadap PDB. Defisit perdagangan (trade balance deficit) AS terutama terjadi terhadap China. Situasi ini berbanding terbalik dengan China, yang justru menikmati surplus neraca transaksi berjalan besar US$ 261 miliar, atau ekuivalen 2,6 terhadap PDB. Tiga negara dengan PDB terbesar di dunia saat ini adalah: AS (US$ 18,5 triliun), China (US$ 11,4 triliun) dan Jepang (US$ 4,7 triliun).
Kondisi perdagangan yang selama ini selalu defisit besar ini saya duga memicu Trump untuk mengubahnya menjadi perekonomian yang lebih protektif. Inilah yang "dijual" Trump selama kampanye, untuk membedakannya terhadap Hillary Clinton. Perasaan ingin mengubah situasi yang selama ini seperti mesti diterima apa adanya (given) tersebut, rasanya kurang lebih sama dengan yang dirasakan rakyat Inggris saat menentukan keluar dari Uni Eropa (Brexit).

Jika AS menderita defisit besar terhadap China, maka Inggris mengalami hal serupa terhadap Jerman. Sebagai sesama pilar Uni Eropa, Inggris merasa tidak ada manfaatnya bergabung dengan Uni Eropa, karena justru mengalami defisit perdagangan terhadap negara-negara Uni Eropa, terutama Jerman. Inggris pun merasa, bahwa Jermanlah negara yang paling mendapat manfaat dari pembentukan Uni Eropa.

Namun di luar masalah deifisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan, perekonomian AS sesungguhnya sudah berada di jalur yang benar. Presiden Barack Obama memulai tugasnya menjadi Presiden tatkala AS mulai teterjang krisis subprime mortgage. Delapan tahun dia berjuang, di ujung pemerintahannya mulai menunjukkan hasil positif. Bahkan perekonomian AS mulai membaik sejak Mei 2013, di mana penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian (nonfarm pay-roll) mulai konsisten di atas 200.000 orang per bulan.

Inilah sederet data ekonomi makro kinerja Presiden Obama: pertumbuhan ekonomi 1,5%, inflasi 1,3%, pengangguran 5% (pernah 4,9% beberapa bulan yang lalu), defisit fiskal 3,2% terhadap PDB. Yang impresif adalah indeks harga saham di Wall Street (Dow Jones Industrial Index) mencapai 18.500, atau sudah melebihi level sebelum krisis 2008, yakni 17.000. Saat puncak krisis 2009, indeks ini bahkan terperosok sangat dalam ke 9.000. Industri mobil yang sempat hancur pada 2009, juga sudah mulai kembali ke level normal (penjualan naik dari 9 juta unit menjadi 17 juta unit setahun).

Respons pasar global

Perekonomian AS memang masih harus bekerja keras lagi, terutama karena pertumbuhan ekonomi belum mencapai level ideal untuk ukuran AS, yakni 2%. Inflasi 1,3% juga terasa terlalu rendah, sehingga kurang menunjukkan gairah belanja dan semangat berinvestasi. Inflasi AS seyogianya dijaga pada level 2%. Namun secara umum kinerja pemerintahan Obama sebenarnya sudah baik, tinggal dilanjutkan Hillary Clinton saja. Tapi sudahlah, mau apa lagi?

Yang mengejutkan adalah, indeks harga saham New York justru mengalami rally, hingga mencatat rekor baru hingga 18.847 ini bahkan melebihi pencapaian Obama. Padahal di saat yang sama, timbul demonstrasi cukup signifikan di berbagai kota terhadap terpilihnya Trump. Dollar AS juga menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia. Rupiah sempat terperosok ke Rp 13.800 per US$ pada Jumat pagi pekan lalu (11/11/16), sebelum siang dan sorenya kembali menguat ke Rp 13.281 per US$.

Apa yang terjadi? Saya duga penguatan ini diinspirasi oleh pidato kemenangan Trump, yang diikuti dengan pertemuannya dengan Obama. Trump belum tentu akan "sebengis" sebagaimana dia saat kampanye. Ketika kampanye, dia memang harus tampil beda, mengambil posisi yang berbeda dari Hillary yang diposisikan sebagai "inkumben", karena berasal dari Partai Demokrat, sebagaimana Obama. Namun nanti ketika sudah menjadi Presiden, bisa saja Trump menmpilkan warna lain. Kejadian ini persis sama dengan situasi Inggris sekarang. Inggris semula begitu bersemangat keluar dari EU.

Namun, mereka bisa saja berubah. Inggris akan dirugikan dengan Brexit, karena sebagai negara yang bukan lagi anggota EU, Inggris tidak lagi mendapatkan kemudahan (misalnya bebas pajak) tatkala produk-produknya harus masuk pasar Eropa. Ini akan menyulitkan daya saing Inggris. Itulah sebabnya respons pasar negatif terhadap Brexit, di mana kurs poundsterling pun merosot.

Situasi penguatan dollar AS dan indeks harga saham New York saya rasa hanya bersifat sementara saja. Bagaimana pun juga, kita belum tahu persis, apa yang akan dilakukan Donald Trump sesudah dia melakukan serah terima jabatan Presiden dari Obama. Apakah dia akan melaksanakan hal-hal yang diucapkannya selama kampanye? Atau dia berubah sama sekali saat menyadari bahwa rencana-rencananya saat kampanye tersebut ternyata tidak masuk akal dijalankan? Atau dia akan melakukan modifikasi? Kita belum tahu.

Yang jelas, indeks harga saham di New York mendekati 18.900 menurut saya terlalu tinggi (overshot), karena tidak didukung oleh kondisi fundamental perusahaan. Ini lebih dipicu oleh faktor sentimen belaka. Karena itu, ke depannya sangat rawan koreksi yang disebabkan oleh profit taking. Menguatnya kurs dollar AS juga belum tentu menguntungkan AS. Hal ini justru menjadi penghambat rencana Kepala The Fed Janet Yellen untuk menaikkan suku bunga ke arah level yang normal, yakni Fed fund rate (FFR) di atas 1%. Respons pasar untuk jangka menengah dan panjang, tidaklah selalu seperti yang saat ini terjadi. Kita tunggu saja ke depan.

Perekonomian Indonesia

Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia? Sementara ini, dampak kemenangan Trump bagi kita adalah negatif, seperti tecermin pada kurs rupiah yang melemah. Namun saya juga yakin bahwa itu bersifat sementara. Situasi sekarang masih labil, belum berada pada ekuilibrium jangka menengah dan panjang.

Melihat data saat ini, perasaan kita mendua (mixed feeling). Di satu sisi, rupiah memang melemah. Namun di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru berada pada level yang baik, yakni 5.450. Indeks memang belum mencapai puncak 4.500 atau lebih tinggi. Namun di saat kondisi fundamental belum beranjak, rasanya IHSG 4.500 sudah terbilang bagus. Jauh lebih bagus daripada perkiraan jika Trump menang indeks terpental ke sekitar 4.000.

Perekonomian Indonesia pada saat ini justru sedang mendapat dua momentum positif. Pertama, harga komoditas sedang naik, terutama batu bara. Meski sulit membayangkan harga akan kembali ke level puncak pada 2009-2010, namun menggeliatnya harga energi cukup memberi angin segar terhadap masa depan industri ini, yang multiplier effect-nya penting sebagai penggerak industri-industri yang lain.

Kedua, kita sedang mendapatkan hasil bagus dari program amnesti pajak. Berhasil diungkapkannya aset "tersembunyi" hampir Rp 4.000 triliun merupakan basis pajak baru yang bisa memberi kontribusi terhadap penerimaan pajak di masa mendatang. Begitu pula dana tebusan Rp 140 triliun bisa mengurangi defisit APBN sehingga terjaga di level 2,5% terhadap PDB. Demikian halnya repatriasi sebesar Rp 137 triliun jika bisa terus berlanjut ke level yang lebih tinggi lagi, misalnya Rp 300 triliun bisa menjadi tambahan energi bagi cadangan devisa yang kini US$ 115 miliar, untuk mengawal stabilitas dan penguatan rupiah.

Kombinasi antara membaiknya sektor riil melalui mekanisme transmisi dari kenaikan harga komoditas dengan menguatnya kondisi fiskal kita, diharapkan mampu memberi kekuatan perekonomian Indonesia, jika ternyata kepemimpinan Presiden Trump nanti berimbas negatif terhadap kita. Namun saya yakin, Indonesia dan AS masih akan melanjutkan hubungan baik selama ini. Sehingga kita tidak terimbas dampak negatif Trump, sebagaimana pemahaman dan analisis selama ini.

Indonesia terlalu penting bagi AS. Sebaliknya, meski perdagangan dan investasi AS-Indonesia tidak sebesar kita dengan Jepang dan China, namun AS memiliki banyak peran penting yang tidak mungkin kita tepis, misalnya pada Bank Dunia, IMF dan forum-forum dunia lainnya. Kita saling membutuhkan, siapapun Presidennya.