Rabu, 23 November 2016

Siapa Bilang Agama Tak Perlu Dibela?

Siapa Bilang Agama Tak Perlu Dibela?
Iqbal Aji Daryono  ;   Praktisi Media Sosial; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                DETIKNEWS, 22 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Mobil itu mengerem mendadak, lima meter di sebelah kiri saya. Saya tratapan kaget. Kagetnya sekilo, malunya sekuintal. Malu, karena merasa tidak beradab, tidak terpelajar, dan lebih-lebih lagi karena kami membawa visualisasi identitas kami sebagai muslim.

Siang itu saya bersama anak-istri sedang berjalan-jalan di daerah Fremantle. Tiba di satu lampu merah, kami berhenti sebentar. Sebentar saja, sebab meski lampu penyeberangan pejalan kali belum menyala hijau, toh tak ada kendaraan berjalan ke arah kami. Saya pun mengajak pasukan untuk cuek saja nyelonong, sebagaimana biasa saya lakukan. Toh orang-orang bule lokal di Perth pun melakukannya, begitu pikir saya.

Hingga tiba-tiba mobil itu mendadak muncul entah dari mana, dan mengerem tiba-tiba. Meski pengemudinya memasang wajah datar penuh permakluman dan tidak membunyikan klakson panjang tanda amarah, tetap saja belasan pasang mata menatap kami. Mereka tampak sebal campur jijik. Dasar imigran. Dasar Asia. Dasar muslim.

Tentu saja umpatan-umpatan itu cuma imajinasi buruk saya sendiri. Tapi ya bagaimana lagi. Toh istri saya berjilbab. Sementara sudah pasti mereka paham bahwa perempuan berjilbab pastilah muslim.

Sejak hari itu saya kapok. Terutama jika sedang bersama istri, ibu, atau siapa pun teman atau saudara yang berjilbab alias membawa identitas keislaman, nggak lagi-lagi deh saya melanggar peraturan sekecil apa pun di tanah ini. Ini perkara branding. Ini perkara membela Islam. Jangan ketawa dulu, ini serius.

Sejak 2013 hingga insyaallah tahun depan, kami sekeluarga tinggal sementara di Perth, Australia Barat. Selama di sini pula kami merasakan langsung bagaimana situasi psikologis menjadi minoritas. Populasi umat muslim di negara bagian Australia Barat cuma 1,7%, dan kami menjadi bagian darinya.

Memang benar, ini negara aman. Secara umum tak ada diskriminasi secara telanjang kepada minoritas. Namun suasana tegang dan sangat tidak nyaman selalu kami rasakan tiap kali muncul kejadian-kejadian buruk yang melibatkan umat Islam di belahan dunia mana pun.

Mau yang mana, silakan sebut saja. Mulai 911, Sydney Siege, Bom Bali I dan II, aksi-aksi brutal Taliban di Afghanistan, dan entah mana lagi. Semua memunculkan efek negatif hingga ke umat muslim Australia.

Efek negatif itu bermacam-macam. Mulai dari diumpati di jalan, dilempari tomat, ditarik-paksa jilbabnya, diancam siraman air keras, hingga diteror dengan bom. Benar, Ramadan lalu, di Masjid Thornlie sekitar 20 km dari tempat tinggal saya, beberapa mobil dirusak, dan tulisan-tulisan bernada kebencian kepada Islam dicoretkan. Peristiwa itu melengkapi kisah sebelumnya, ketika sebongkah kepala babi ditaruh di toilet musala University of Western Australia.

Itu baru aksi-aksi yang dilakukan orang tak dikenal. Belum lagi suasana dalam kehidupan sosial. Saya ingat, betapa sangat tidak mengenakkannya tatapan teman-teman saya sesama sopir pada suatu pagi, ketika malam sebelumnya tersebar berita tentara Taliban membantai 132 anak sekolah di Peshawar.

Demikianlah situasi kami di sini. Saya tahu, itu tandanya marwah agama harus dibela. Dengan cara apa?

Logika linier gampangan akan mengatakan bahwa yang namanya pembelaan harus ditempuh dengan hantaman balasan. Entah dengan melakukan tindakan setimpal kepada "lawan" yang telah menghina kita, entah dengan jalur hukum, atau bisa juga dengan sikap-sikap defensif lainnya. Tapi "hukum pasar" yang berlaku di zaman ini membuktikan bahwa pembelaan dengan cara demikian lebih sering kontraproduktif. Cara-cara begitu justru kerap gagal memenuhi tujuan semula.

Maka, jangan salahkan saya jika saya terpesona kepada para lelaki berkaus hijau yang foto mereka melintas di dinding Facebook saya. Bapak-bapak itu adalah anggota Relawan Pembersih Masjid (RPM) At-Taqwa, Samarinda. Mereka sedang membantu membereskan dan memperbaiki Gereja Oikumene, pada bekas ledakan bom molotov yang menghajar gereja itu, sekaligus memakan korban mengenaskan seorang balita mungil bernama Intan Olivia.

Setelah meniupkan segenap doa kemuliaan bagi bapak-bapak baik hati tersebut, ingin rasanya saya mengirimkan selembar panji kepada mereka, dengan tulisan besar-besar: Front Pembela Islam. Ya, benar. Bagi saya, bapak-bapak di Samarinda itu jauh lebih layak menyandang predikat sebagai pembela Islam.

Kita tahu, Islam telah dinista oleh seorang tak waras yang membawa simbol Islam dan melakukan tindakan yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Menyerang tempat ibadah, dan membunuh seorang anak kecil tak berdosa. Ini jelas penistaan.

Malangnya, entah sindrom apa yang sedang mewabah di tengah kita. Memang sih, ada banyak muslim menunjukkan duka mendalam atas jatuhnya korban seorang balita tiada berdosa. Namun, menyambut ekspresi kesedihan massal demikian, tak sedikit orang yang selama ini mencitrakan diri sebagai para aktivis Islam malah justru menampilkan sikap-sikap defensif.

"Ini cuma pengalihan isu!"; "Ucapan duka kalian itu sok toleran saja! Di mana kalian waktu muslim Rohingya dibantai?"; "Jangan ajari kami toleransi! Kalau kami tidak toleran, sudah sejak lama kalian kami usir dari negeri ini!"

Saya tahu pasti, mereka cuma segelintir saja. Namun sebagaimana hukum rimba di belantara media, yang galaklah yang menguasai panggung.

Hingga kemudian bapak-bapak berkaos hijau itu muncul. Dan saya jadi tahu, setelah Haji Bambang yang beraksi di Kuta Legian pada momen tragis Bom Bali I, bapak-bapak RPM At-Taqwa adalah prototype pembela Islam sejati di era Milenium.

Langkah bapak-bapak berkaos hijau itu adalah contoh asyik bagi siapa saja. Tak cuma muslim. Tragedi beruntun yang terjadi di Burma hari-hari ini, pun saya kira bisa menjadi ajang pembuktian diri bagi teman-teman Buddhis di Indonesia.

Saya tahu, problem di sana tidak sesimpel kelihatannya. Ada problem perbatasan, ada mungkin isu ketidakloyalan kepada negara, dan sebagainya. Namun naif pula jika melihatnya steril dari wilayah agama. Sebab toh Ashin Wirathu, bhiksu kondang di negeri itu, jelas-jelas menyebarkan ujaran-ujaran kebencian kepada minoritas muslim. Sampai-sampai Majalah Time pernah membuat liputan khusus tentang dirinya, memajang wajahnya di sampul depan, dan memberinya judul besar-besar: The Face of Buddhist Terror.

Maka inilah saatnya segenap umat Buddhis di banyak belahan dunia lainnya, termasuk di Indonesia, membela marwah keyakinannya. Dengan apa?

Dengan pernyataan-pernyataan yang menegaskan bahwa mereka tak sama dengan Ashin Wirathu. Dengan bersikap sebagaimana bapak-bapak Masjid At-Taqwa membantu menata lagi Gereja Oikumene Samarinda. Dengan berbuat layaknya Haji Bambang di Kuta Legian yang mengevakuasi mayat-mayat korban kelakuan "saudara seiman"nya.

Dalam cara yang jauh lebih remeh, ya minimal seperti kami di Australia yang berusaha sebisa-bisanya tampil sebagai masyarakat beradab dan terhormat. Sebab kita membawa identitas kita, sehingga apa pun yang kita lakukan di satu tempat, akan membawa dampak positif maupun negatif bagi saudara-saudara kita seiman di belahan bumi lainnya.