Rabu, 30 November 2016

Seni, Pelunak Rasa Benci

Seni, Pelunak Rasa Benci
Agus Dermawan T  ;   Penulis Buku Budaya dan Seni;
Konsultan Koleksi Benda Seni Istana Presiden
                                                    KOMPAS, 30 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada tahun 1932, RM P Sosrokartono—kakanda RA Kartini—mengatakan kepada Bung Karno: Jangan sekali-sekali menjauhi seni. Karena seni adalah pelunak rasa benci. Bung Karno terkesiap.

Seperti mengamini petuah Sosrokartono, Bung Karno lantas berdekat-dekat dengan para seniman, termasuk Wolff Schoemaker, seniman Belanda. Selain tercatat sebagai guru arsitektur di Technische Hoogescholl Bandung (kini Institut Teknologi Bandung), Wolff adalah pelukis.

Lalu, Bung Karno pun berkata, ”Saya melawan politik Belanda, tetapi seni menyuruh saya untuk tidak membenci orang Belanda.” Begitu juga sebaliknya. Lewat seni, Wolff semakin dekat dengan sisik-melik bumi dan manusia Indonesia.

Ketika Jepang datang pada 1942, Bung Karno juga menggunakan seni untuk jalan politik. Bersama Letnan Jenderal Imamura, ia melakukan kolaborasi membentuk lembaga kebudayaan dan kesenian, seperti Keimin Bunka Sidhoso. Bahkan, Bung Karno mengutus Basoeki Abdullah untuk melukis Imamura di Saiko Sisikan (kini Istana Merdeka). Walau fasisme Jepang akhirnya tak terbendung, Imamura tetap mengingat: seni sudah pernah melunakkan kekakuan hati politik dan menyadarkan dirinya untuk menjadi manusia yang sebenar-benarnya.

Peran politis seni di Indonesia tentu tak berhenti pada masa Bung Karno saja. Lantaran pada setiap periode pemerintahan tampak selalu (mencoba) menggunakan seni untuk memperlunak keangkuhan besi politik.

Beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985, Fuad Hassan memanggil puluhan seniman Indonesia untuk berbincang-bincang. Ia menanyakan apa yang sebaiknya ia perbuat sehingga bisa tersusun program- program seni yang bisa bikin lumer kekerasan politik.

Jauh hari sebelumnya, budayawan Daoed Joesoef telah mengutarakan pandangan yang sejalan. Ia berkata bahwa dalam abad-abad panjang sejarah Eropa, seniman diposisikan sebagai makhluk utama di masyarakat. Bahkan sebagai deliciae generis humani, kekasih seluruh manusia. Hasil karya seniman sejati (yang tak terkontaminasi ideologi non-seni) akan jadi air gunung penyiram bara politik.

Presiden Abdurrahman Wahid juga berpikiran sama. Megawati Soekarnoputri kala jadi pemimpin negara bahkan sudah menyulap Bina Graha (bekas kantor Presiden Soeharto) menjadi Museum Seni Istana, yang siap diakses publik umum setiap waktu, meski museum yang diproyeksikan sebagai ”hati terdalam Istana” ini akhirnya dibongkar oleh pejabat Istana selanjutnya. Sementara Susilo Bambang Yudhoyono coba menghaluskan politik lewat kumpulan puisi dan album lagu. Disusul Presiden Joko Widodo lewat junjungannya pada musik rock dan metal, dari Slank sampai Metallica.

Realitas ini membuktikan, sesungguhnya di bawah mejapemerintah tersembunyi keyakinan: pembentukan bangsa yang luhur akan kandas jika cuma bersandar pada politik. Karena bangsa yang bermartabat tidak hanya dibentuk dari etos Homo faber (manusia bekerja) dan Homo sapiens (manusia berpikir). Tetapi juga harus dilengkapi etos Homo ludens (manusia bermain). Manusia yang pandai mengolah rasa humanitas dalam lingkaran estetik, diformulasi sebagai seni.

Seni telah mengukir keras besi jadi pamor keris, jadi lingkar cincin pemaktub intan permata. Mengubah getas batu jadi kuil, candi, dan arca. Generasi gaul bahkan berprinsip: seni harus mampu menempa wajah benci jadi ”benar-benar cinta”. Sementara pemuda-pemudi tempo doeloe menganggap seni adalah keterampilan romantik yang sanggup menjodohkan benci dengan rindu.

Jamu nomor satu

Adab politik yang sangar selalu dikontrol oleh ulah-ulah yang sabar. Itu sudah dibuktikan sejak dahulu kala. Pemikir Yunani Kuno menyebut seniman adalah makhluk yang paling menyimpan spirit patientia vincit omnia. Artinya, manusia yang memiliki kesabaran luar biasa untuk menghasilkan karya yang mampu menaklukkan hati. Dalam khazanah Jawa Kuno, seni diartikan sebagai pekerjaan amat halus, lembut, rapi, menyenangkan, sebagai buah dari kerja yang penuh kesabaran. Karena kesabaran itu luhur, seni juga luhur. Yang luhur diam-diam mampu bertugas menjinakkan yang ngawur-ngawur.

Di Tiongkok hanya para politikus dan ahli perang yang mampu berpraktik seni yang bisa memperoleh kedudukan puncak, bahkan jadi raja yang tak kepalang pentingnya. Jenderal Li Shixun jadi kaisar paling dikenang pada Dinasti Tang (618-906) tatkala ia menggagas seni aliran utara, dalam musik, tari, sastra dan seni rupa. Huizong ternobat sebagai kaisar terhebat Dinasti Song (960-1278) setelah mendirikan Akademi Seni Kerajaan, yang mempertemukan aliran seni utara dan aliran seni selatan. Jenderal ini bertutur, seni akan membuat para pembenci luluh ke dalam tinta dan terbentuk indah dalam aksara. Pengidap penyakit amuk yang gampang murka dan intoleran akan luluh dalam estetika gambaran.

Para seniman, dari Wang Wei sampai Su Tung Po, sangat dihormati sebagai manusia yang ”berumah di atas angin”. Mereka dijunjung sebagai penangkal rasa sirik bagi jiwa dan pikiran para pemangku kekuasaan di kerajaan. Penyair Lebanon, Kahlil Gibran, juga berkali-kali mengingatkan itu. Gubahannya mengisyaratkan bahwa seniman itu bak tukang kebun. Yang tekun memandangi langit, mendengar nyanyian angin, membelai rumput, menyentuh embun, mengagumi ragam kembang yang tumbuh di taman. Perilaku seniman (tukang kebun) tentulah jauh dari unsur-unsur kebencian.

Negeri yang terlalu lama meremehkan seni berpotensi melahirkan para pembenci. Besar kemungkinan Indonesia adalah salah satunya lantaran selama berpuluh tahun sukses menyembunyikan penderita skizoid paranoid di bawah tikarnya. Alhasil, begitu media sosial menyediakan diri sebagai wadah, batu-batu kebencian dari balik tikar itu riuh berhamburan. Tak hanya rumah politik yang ditimpuki, tetapi apa saja, termasuk suku, antargolongan, ras dan agama. Atau, jangan-jangan seni di Indonesia sudah gagal menunaikan tugasnya?