Rabu, 23 November 2016

The Unknown Unknowns

The Unknown Unknowns
Muhamad Chatib Basri  ;   Guru Besar Tamu
di the Australian National University, Canberra
                                         MEDIA INDONESIA, 22 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"THERE are known knowns. These are things we know that we know. There are known unknowns. That is to say, there are things that we know we don't know. But there are also unknown unknowns. There are things we don't know we don't know." Kalimat itu disampaikan Donald Rumsfeld, mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat. Rumsfeld bicara, "Ada hal yang kita tahu bahwa kita tahu, kita tahu bahwa kita tidak tahu. Dan yang paling mencemaskan: kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu." Saya kira bagian terakhir inilah yang terjadi, berkaitan dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

Terpilihnya Trump sangat mengejutkan karena masyarakat AS yang dianggap pluralis memuja demokrasi dan hak individu serta menjunjung tinggi kebebasan justru memilih presiden yang dalam kampanyenya banyak sekali menyiratkan sikap yang tak mendukung pluralisme. Dalam kebijakan ekonomi, Trump memang menyebut strategi ekonominya cenderung proteksionis. Kita memang tak memahami sepenuhnya apa yang terjadi di AS.

Kita berhadapan dengan apa yang disebut Rumsfeld sebagai the unknown unknowns. Dunia terkejut, lalu cemas. Bagaimana kita mencermati itu semua? Dunia seperti apa yang akan kita hadapi ke depan dan bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Pertama, saya kira jawaban yang paling adil ialah terlalu cepat bagi kita untuk menyimpulkannya. Kita tidak tahu persis apa yang akan terjadi. Spekulasi dan analisis memang banyak dibuat dan umumnya memang mencemaskan. Namun, apakah benar situasinya akan seperti itu? Jujur, saya kira terlalu pagi bagi kita untuk menyimpulkannya. Itu sebabnya pasar keuangan dunia bergejolak, kecemasan muncul di mana-mana. Namun, saya percaya, di negara demokrasi, setiap presiden terpilih setelah beberapa waktu berkuasa akan menjadi presiden yang 'normal'.

Tanda membingungkan

'Normal' artinya ia akan berhadapan dengan realitas ekonomi yang memaksanya untuk menjadi rasional. Sebagai contoh, pernyataan untuk menutup perbatasan dengan Meksiko, misalnya, akan membawa dampak hilangnya jalur tenaga kerja murah selama ini di AS. Bisa dibayangkan bahwa upah akan meningkat. Akibatnya, biaya produksi akan naik. AS justru akan kehilangan daya saingnya. Trump ialah seorang pebisnis yang mengerti apa artinya kehilangan daya saing. Realitas ekonomi mungkin akan memaksanya untuk menjadi rasional. Tentu ini semua hanya spekulasi. Seperti yang saya sampaikan, terlalu pagi untuk menyimpulkan.

Kita melihat tanda yang masih membingungkan. Di satu sisi terlihat Trump mulai melunak, dengan mengakomodasi Obamacare. Sikapnya juga lebih lunak terhadap imigran. Begitu juga dengan penunjukan Reince Priebus sebagai kandidat Kepala Staf Presiden, yang dianggap memiliki posisi yang relatif mainstream. Ini mungkin pertanda pada akhirnya Trump akan menjadi presiden yang 'normal'. Namun, di sisi lain, penunjukan Jeff Sessions sebagai calon jaksa agung memang mencemaskan karena Sessions dianggap memiliki rekam jejak yang rasialis.

Saya cenderung sepakat dengan apa yang ditulis Dani Rodrik, dalam kolomnya di New York Times. Guru besar ekonomi dari Harvard Kennedy School itu menyebut kekhawatiran yang utama mengenai Trump bukanlah soal ekonomi, melainkan sisi politik, karena tema kampanyenya cenderung menimbulkan ketegangan etnik.

Kedua, jika benar dari sisi ekonomi Trump akan menjalankan kebijakan ekonomi yang proteksionis, apa dampaknya? Data menunjukkan tiga negara pengimpor terbesar di dunia ialah AS, Uni Eropa, dan Tiongkok. Tiga negara ini saja mengimpor lebih dari sepertiga total impor dunia. Kita tahu, Tiongkok mengalami perlambatan ekonomi, UE masih mengalami persoalan, apalagi setelah terjadinya Brexit beberapa waktu lalu.

Bisa dibayangkan perdagangan dunia relatif lemah saat ini, dan ini terlihat dari data bahwa pertumbuhan perdagangan dunia diperkirakan hanya tumbuh 1,7% pada 2016. Terendah sejak krisis keuangan global pada 2009. Bahkan, pertumbuhan perdagangan global lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi global. Artinya, pangsa perdagangan terhadap total keluaran dunia menyusut. Bisa dibayangkan bila dalam situasi seperti ini AS melakukan kebijakan proteksionis.

Sebagian dari kita mungkin masih ingat ketika krisis keuangan global terjadi pada 2009. AS mengalami kontraksi, maka total perdagangan dunia mengalami pukulan dahsyat. Saat ini AS tidak mengalami krisis, tapi kebijakan proteksionis mereka akan membawa dampak yang sangat signifikan bagi pertumbuhan perdagangan global. Jika perdagangan global menyusut, ekspor dari Emerging Markets, termasuk Indonesia, akan terpukul. Implikasinya, Indonesia tidak bisa mengharapkan sumber pertumbuhan ekonomi dari ekspor.

Defisit anggaran

Memang sebagian ekonom menyatakan peran Asia dalam perdagangan global sudah mulai meningkat. Namun, Cyn-Young Park dari Asian Development Bank dalam risalahnya untuk The Pacific Trade and Development (PAFTAD) conference di Australian National University di Canberra pekan ini menunjukkan perdagangan di Asia terfokus pada pola perdagangan barang intermediasi, yaitu pembeli akhirnya yang paling berpengaruh tetap AS. Artinya jika AS melemah, permintaan terhadap barang intermediasi juga ikut melemah sehingga perdagangan di internal Asia juga tetap akan terpengaruh.

Ketiga, Trump di dalam kampanyenya juga menyatakan rencana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS melalui stimulus fiskal dengan cara memotong pajak dan meningkatkan belanja. Ekspansi fiskal itu akan membuat defisit anggaran di AS akan mengalami peningkatan, yang harus dibiayai utang. Pemerintah AS harus mengeluarkan obligasi, yang implikasinya akan mendorong kenaikan suku bunga The Fed. Kita sudah bisa melihat gejalanya bagaimana pasar merespons ini. Imbal dari obligasi 10 tahun US Treasury sudah meningkat dari 1,8% menjadi 2,2% pekan lalu. Dengan demikian, kita akan melihat bahwa di dalam jangka menengah tingkat bunga di AS akan meningkat. Ini akan membawa implikasi kepada negara EM (Emerging Markets) termasuk Indonesia.

Dalam diskusi beberapa minggu lalu dengan Carmen Reinhart di Harvard University, ia mengingatkan saya akan risiko dari over borrowing atau pinjaman berlebihan. Guru besar di Harvard Kennedy School itu mengatakan, dalam era bunga rendah, perusahaan-perusahaan di EM cenderung meminjam dari luar negeri karena bunganya murah. Jika kemudian tingkat bunga di AS naik, dan nilai tukar rupiah melemah, pembayaran utang akan meningkat sehingga probabilitas default juga meningkat.

Keempat, lalu apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi ini? Saya melihat bahwa sumber pertumbuhan suka tidak suka harus bertumpu pada ekonomi domestik. Masalahnya ruang bagi stimulus fiskal amat terbatas akibat anjloknya penerimaan pajak karena perlambatan ekonomi dan jatuhnya harga komoditas dan energi. Memang ada gejala bahwa harga komoditas dan energi sedikit meningkat, tapi kita tak boleh lagi menggantungkan sumber penerimaan kita dari komoditas dan energi yang amat bergantung kepada siklus harga.

Dalam kondisi anggaran terbatas, stimulus fiskal harus diarahkan kepada masyarakat yang memiliki kecenderungan mengonsumsi (marginal propensity to consume) yang tinggi dan segera. Itu artinya peningkatan pendapatan bagi kelompok menengah bawah. Seperti saya pernah sampaikan sebelumnya, alokasikan dana dan perluas program cash transfer, cash for work. Buat proyek padat karya jangka pendek yang bisa memberikan pendapatan segera bagi orang, misalnya, membersihkan kali, selokan, dan membangun jalan desa. Nilai proyeknya tak terlalu besar, tak akan mengganggu defisit transaksi berjalan, tak akan mengganggu defisit anggaran, tapi multiplier-nya besar.

Begitu mereka menerima pendapatan, konsumsi akan meningkat. Begitu konsumsi meningkat, dunia usaha akan terundang untuk meningkatkan investasi. Ekonomi akan bergerak. Bagaimana dengan kebijakan moneter? Saya tak melihat banyak ruang untuk ini. Jika The Fed pada akhirnya menaikkan bunga, Bank Indonesia tak lagi memiliki ruang untuk menurunkan bunga.

Situasi memang tidak mudah, tetapi konsolidasi makro harus dilakukan. Satu hal lagi yang penting ialah kestabilan politik harus dijaga. Jika situasi eksternal tak kondusif dan ada kecenderungan arus modal akan kembali pulang ke AS, situasi politik yang tak kondusif akan memperburuk situasi dan akan semakin mendorong arus modal keluar. Kita memang berada dalam situasi yang tak pasti. Rumsfeld menyebutnya the unknown unknowns. Mungkin kita tak tahu bahwa kita tidak tahu. Namun, setidaknya dengan antisipasi ini, kita menyadari kita tahu bahwa kita tidak tahu.