Selasa, 29 November 2016

Presiden Kroco

Presiden Kroco
AS Laksana  ;   Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                  JAWA POS, 27 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saat membaca berita kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS, saya segera teringat pada salah satu catatan Jose Saramago di dalam kumpulan catatan hariannya yang terbit dengan judul The Notebook (2010). Tulisan itu ringkas dan menyampaikan isi pikiran yang terang benderang. Terjemahan bebasnya kurang lebih seperti ini.

Saya heran kenapa Amerika Serikat, negara yang amat besar dalam segala hal, begitu seringnya memiliki presiden kroco. George W. Bush mungkin yang paling kroco dari semuanya. Orang ini, yang kecerdasannya pas-pasan dan teledor bukan kepalang, tak henti-henti menyampaikan omong kosong melalui kecakapan komunikasinya yang membingungkan. Ia menampilkan diri sebagai pembela kemanusiaan dalam lagak aneh seorang koboi yang mewarisi dunia dan menyalahgunakannya sebagai padang penggembalaan ternak.

Kita tidak pernah tahu apa sesungguhnya yang ia pikir, kita bahkan tidak tahu apakah ia berpikir (dalam pengertian paling luhur dari kosakata ini), kita tidak tahu jangan-jangan ia cuma robot yang diprogram secara buruk sehingga selalu tampak bingung dan bolak-balik mengacaukan pesan yang dibawanya. Namun, ada juga yang bisa kita beri pujian. Ada program di dalam robot George Bush, presiden AS, yang bekerja sempurna: berdusta.

Ia tahu ia berdusta, ia tahu bahwa kita tahu ia berdusta, tetapi sebagai pendusta kompulsif, ia akan terus berdusta bahkan pada saat ia jelas-jelas menyaksikan kebenaran di depan matanya. Ia akan terus berdusta sekalipun kebenaran meledak tepat di mukanya.

Ia berdusta untuk membenarkan perangnya di Iraq, persis seperti ia berbohong tentang masa lalunya yang semrawut dan tidak jelas, dan ia melakukannya dalam cara yang sama-sama memalukan. Bersama Bush, dusta muncul dari lubuk hati; ia mengaliri sekujur tubuhnya melalui darah. Sebagai dustawan emeritus, ia adalah pendeta tertinggi dari semua pendusta lain yang mengelilinginya, yang menyorakinya, dan melayaninya selama beberapa tahun belakangan.

George Bush mengusir kebenaran dari muka bumi, membangun abad dusta yang sekarang tumbuh subur di tempatnya. Masyarakat hari ini teracuni oleh dusta, jenis terburuk dari peracunan moral, dan ia salah satu yang paling bertanggung jawab untuk itu. Dusta beredar di mana-mana tanpa sanksi dan telah berubah menjadi kebenaran yang lain.

 Perdana menteri Portugis –yang namanya tidak akan saya sebutkan demi kemaslahatan– beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa ”politik adalah seni untuk tidak menyampaikan kebenaran”. Saat menyampaikannya, ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa beberapa waktu kemudian George W. Bush akan mewujudkan ucapan mengejutkan ini dalam trik yang naif, kampungan, dan tanpa kesadaran sama sekali tentang nilai atau makna kata-kata.

Bagi Bush, politik hanyalah salah satu pendongkrak bisnis dan mungkin yang terbaik dari semuanya –dusta menjadi senjata, dusta menjadi pembuka jalan bagi tank dan meriam, dusta tentang reruntuhan, tentang mayat-mayat, tentang bencana kemanusiaan, dan keputusasaan yang berkepanjangan.

Kita memang tidak bisa memastikan apakah dunia saat ini lebih aman, tetapi kita tidak mungkin ragu bahwa ia akan jauh lebih tenteram tanpa politik imperial dan kolonial dari Presiden Amerika Serikat George Walker Bush dan orang-orang yang telah melapangkan jalan baginya untuk memasuki Gedung Putih. Sejarah mencatat mereka.

Jose Saramago meninggal pada 2010. Pada waktu menulis catatan tersebut, 18 September 2008, ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa Donald Trump suatu hari akan masuk ke Gedung Putih. Ia akan menjadi presiden setelah mengalahkan Hillary Clinton, kandidat dari Partai Demokrat, dalam pemilihan yang oleh sejumlah pengamat politik dari berbagai negara dianggap sebagai pemilu dengan hasil akhir paling merosot mutunya.

Kita tahu Trump adalah seorang pengusaha kaya raya. Ia tetap kaya kendati bisnis hotel dan kasinonya pernah enam kali dinyatakan bangkrut sepanjang kurun waktu 1991–2009. Tahun 2016 ini majalah Forbes mencantumkan namanya di urutan ke-338 orang terkaya di dunia dan ke-156 se-Amerika Serikat. Kita tahu juga bahwa rambutnya berwarna jingga.

Yang kita belum tahu adalah apakah sebagai presiden nanti ia akan sama kroconya dengan George W. Bush atau lebih kroco daripada pendahulunya itu. Kita juga tidak tahu apakah Trump tahu bahwa ia lebih kroco daripada Bush, tetapi kita tidak meragukan bahwa, bersama Trump, rasisme dan sentimen keagamaan serta janji-janji penuh kebencian telah menjadi senjata ampuh untuk meningkatkan popularitas dan memuluskan jalannya menuju Gedung Putih.

Trump mengumpulkan dukungan dengan janji untuk mengembalikan kebesaran Amerika, dengan kampanye-kampanye yang terasa mengancam bagi warga negara Amerika non-kulit putih. Itu kampanye yang membawa bayang-bayang Ku Klux Klan, sebuah kelompok pembenci kaum kulit hitam, kampanye yang memicu keretakan, tidak hanya di dalam masyarakat luas, tetapi juga di dalam keluarga karena berbeda pilihan.

Dalam pidato pertamanya setelah dinyatakan sebagai pemenang, Trump mengatakan, ”Sekarang waktunya bagi Amerika untuk merekatkan kembali keretakan. Kita harus bersatu. Kepada semua pendukung Partai Demokrat dan Republik maupun mereka yang independen, saya berjanji untuk menjadi presiden bagi seluruh warga Amerika Serikat.”

Itu pidato sejuk, yang sangat berlawanan dengan kalimat-kalimatnya di masa kampanye yang mengobarkan kebencian, tetapi banyak orang telanjur cemas karena ia yang menang. Majalah The Economist, Inggris, menurunkan tulisan bulan ini bahwa kemenangan Trump telah membuat para terapis dan pedagang anjing panen rezeki.

Banyak orang merasa perlu memelihara anjing untuk menjaga keselamatan dan mendapatkan perasaan tenteram. Sebagian yang lain berkunjung ke terapis karena stres dan dihantui kecemasan akan nasib mereka kelak di bawah presiden yang menyuarakan kebencian selama masa kampanyenya.

”Baru kali ini saya mengalami pemilihan yang hasilnya membuat banyak orang merasa tertekan,” kata seorang terapis di Michigan. ”Ada pasien saya yang mengatakan bahwa ia tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga dengan suami yang mendukung seorang misoginis, seorang pembenci manusia.”

Tampaknya kita hanya bisa berharap jangan sampai perasaan tertekan itu menjalar kian luas. Amerika adalah negara besar dan memiliki senjata perang paling mutakhir. Saya khawatir mereka akan memerangi negara-negara lain jika di dalam negeri orang-orangnya dilanda stres berkepanjangan.

Di luar soal Trump, saya sengaja memuat lengkap catatan kecil Jose Saramago karena isinya bagus. Jika Anda mau, bisa saja Anda mengganti nama George Bush di dalam tulisan itu dengan nama yang Anda kenal, dan mengganti Amerika Serikat dengan nama negara lain, atau nama provinsi, atau kabupaten, atau kecamatan, dan tulisan itu akan tetap relevan.